<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667</id><updated>2012-01-23T03:53:36.507-08:00</updated><category term='pendidikan'/><title type='text'>mifta"s blog</title><subtitle type='html'>Welcome..............
silahkan baca atau beri komentar.........</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-269631247281089616</id><published>2011-03-26T19:45:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T19:45:03.953-07:00</updated><title type='text'>PEMBUATAN NATA DE COCO</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;Kata nata berasal dari bahasa Spanyol yang berarti krim. Nata diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai 'natare' yang berarti terapung-apung. Nata dapat dibuat dari air kelapa, santan kelapa, tetes tebu (molases), limbah cair tebu, atau sari buah (nanas, melon, pisang, jeruk, jambu biji, strawberry dan lain-lain). Nata yang dibuat dari air kelapa disebut nata de coco. Di Indonesia, nata de coco sering disebut sari air kelapa atau sari kelapa. Nata de coco pertama kali berasal dari Filipina. Di Indonesia, nata de coco mulai dicoba pada tahun 1973 dan mulai diperkenalkan pada tahun 1975. Namun demikian, nata de coco mulai dikenal luas di pasaran pada tahun 1981.&lt;br /&gt;Di Indonesia pada awalnya, industri pengolahan nata diawali di tingkat usaha rumah tangga (home industry) dengan menggunakan sari buah nanas sebagai bahan bakunya sehingga produknya sering disebut nata de pina. Seperti pada umumnya usaha buah-buahan musiman lainnya, keberlangsungan produksi nata de pina terbentur dengan kendala sifat musiman tanaman nanas. Sehingga produksi nata de pina tidak dapat dilakukan sepanjang tahun. Untuk mengatasi kendala tersebut, alternatif penggunaan bahan lain yang mudah didapat, tersedia sepanjang tahun dan harganya murah adalah air kelapa. Pada mulanya air kelapa kebanyakan hanya merupakan limbah dari industri pembuatan kopra atau minyak goreng (Jawa: klentik). Nata dari air kelapa yang kemudian terkenal dengan nama nata de coco merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikrobaacetobacter xylinum. Jumlah air kelapa yang dihasilkan dari buah kelapa di Indonesia kurang lebih 900 juta liter per tahun.&lt;br /&gt;Kelapa memang memiliki banyak manfaat, mulai dari daun hingga buahnya bisa menjadi lahan usaha. Banyaknya produk turunan yang dihasilkan dari kelapa menyebabkan buah lambang pramuka Indonesia ini disebut sebagai tree of life atau pohon kehidupan. Indonesia sebagai Negara kepulauan dan beriklim tropis menjadi salah satu penghasil kelapa terbesar di dunia. Salah satu daerah penghasil kelapa di Indonesia. daging buah kelapa digunakan dalam pembuatan kopra dan airnya sebagai limbah. Air kelapa kerap diasumsikan sebagai limbah atau paling sering sebagai air segar pengusir dahaga. Padahal, ia memiliki khasiat dan nilai gizi yang dahsyat. Banyak sekali manfaat air kelapa bila diolah dan dikemas dengan baik. Air kelapa bisa dibuat sebagai nata de coco, kecap, dan bahkan dijadikan salah satu minuman kesehatan semacan energy drink.&lt;br /&gt;Secara khusus, air kelapa kaya akan potasium (kalium). Selain mineral, air kelapa juga mengandung gula (bervariasi antara 1,7 sampai 2,6 persen) dan protein (0,07-0,55 persen). Air kelapa memiliki karakteristik cita rasa yang khas. Di samping itu, air kelapa juga punya kandungan gizi, terutama mineral yang sangat baik untuk tubuh manusia. Kandungan yang terdapat dalam air kelapa tidak hanya unsur makro, tetapi juga unsur mikro. Unsur makro yang terdapat adalah karbon dan nitrogen.&lt;br /&gt;Unsur karbon dalam air kelapa berupa karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, dan inositol. Unsur nitrogen berupa protein yang tersusun dari asam amino, seperti alin, arginin, alanin, sistin, dan serin. Sebagai gambaran, kadar asam amino air kelapa lebih tinggi ketimbang asam amino dalam susu sapi.&lt;br /&gt;Selain karbohidrat dan protein, air kelapa juga mengandung unsur mikro berupa mineral yang dibutuhkan tubuh. Mineral tersebut di antaranya kalium (K), natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), besi (Fe), tembaga (Cu), fosfor (P), dan sulfur (S). Yang cukup mencengangkan, dalam air kelapa juga ditemukan berbagai vitamin. Sebut saja vitamin C dan berbagai asam seperti, asam nikotinat, asam pantotenal, dan asam folat. Vitamin B kompleks yang dikandungnya antara lain niacin, riboflavin, dan thiamin. Karena komposisi gizi yang demikian itu, air kelapa berpotensi dijadikan bahan baku produk pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Rumusan Masalah&lt;br /&gt; Rumusan masalah dalam makalah kami adalah:&lt;br /&gt;1. Bagaimana proses pembuatan nata de coco baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar?&lt;br /&gt;2. Bagaimana keberadaan dan nilai ekonomi nata de coco?&lt;br /&gt;3. Apa kegunaan dari nata de coco?&lt;br /&gt;4. Bagaimana reaksi-reaksi kimia yang terjadi selama proses pembuatan nata de coco?&lt;br /&gt;C.  Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui proses pembuatan nata de coco, reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam prosesnya, kegunaan dan nilai ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Pembuatan &lt;br /&gt;1.  Dalam Skala Kecil&lt;br /&gt;Peralatan yang diperlukan:&lt;br /&gt;1. Kompor&lt;br /&gt;2. Panci untuk merebus media / air kelapa&lt;br /&gt;3. Gelas ukur besar 1 liter dan 250 mililiter&lt;br /&gt;4. Pengaduk&lt;br /&gt;5. Pisau pengiris nata&lt;br /&gt;6. Timbangan kue&lt;br /&gt;7. Saringan air kelapa/ ayakan tepung&lt;br /&gt;8. Nampan/ wadah untuk fermentasi&lt;br /&gt;9. Kain putih/mori untuk penutup 3 m&lt;br /&gt;10. Tali pengikat/karet&lt;br /&gt;11. Ember/baskom perendam/pencuci&lt;br /&gt;12. Botol Selai&lt;br /&gt;Bahan yang diperlukan:&lt;br /&gt;1. Air kelapa &lt;br /&gt;2. Gula pasir&lt;br /&gt;3. Asam cuka (asam asetat 25%)/asam cuka dapur 400 mili liter&lt;br /&gt;4. Urea &lt;br /&gt;5. Sirup rasa dan warna disesuaikan kesukaan &lt;br /&gt;6. Kap gelas (ukuran aqua gelas)&lt;br /&gt;7. Sendok plastik&lt;br /&gt;Cara pembuatan:&lt;br /&gt;1. Menyaring air kelapa dengan menggunakan kain saring lalu didihkan dan didinginkan.&lt;br /&gt;2. Mencampurkan gula pasir (100 g/l air kelapa), asam cuka 20 ml/l air kelapa dan bibit Acetobacter xylinum (170 ml) ke dalam air kelapa di dalam panci pencampur, lalu diaduk sampai merata. Campuran tersebut mempunyai keasaman (pH) 3-4.&lt;br /&gt;3. Memasukkan campuran tersebut ke alam stoples dengan tinggi campuran 4-5 cm, lalu ditutup dengan kain. Meletakkan stoples di tempat yang bersih dan aman.&lt;br /&gt;4. Setelah 15-20 hari berlangsungnya proses fermentasi terbentuklah lapisan nata di permukaan cairan dengan ketebalan 1-2 cm. Lapisan nata dengan berat ±200 g. Cairan dibawah nata merupakan cairan bibit yang dapat digunakan untuk pembuatan nata selanjutnya.&lt;br /&gt;5. Pemanenan nata&lt;br /&gt;6. Lapisan nata diangkat secara hati-hati dengan menggunakan garpu atau penjepit yang bersih supaya cairan di bawah lapisan tidak tercemar. Cairan di bawah nata dapat digunakan sebagai cairan bibit pada pengolahan&lt;br /&gt;berikutnya.&lt;br /&gt;7. Membuang selaput yang menempel pada bagian bawah nata, dicuci lalu dipotong dalam bentuk kubus dengan ukuran 1,5 x 1,5 x 1,5 cm dan dicuci. Menuang dan merendam potongan nata de coco dalam ember plastik selama 3 hari dan setiap hari air rendaman diganti. Sesudah itu, nata direbus sampai mendidih selama 10-20 menit. Tujuan perendaman dan perebusan untuk menghilangkan rasa asam.&lt;br /&gt;8. Nata dimasukkan dalam sirup lalu didihkan pada suhu 100oC + 15 menit, sesudah itu bila perlu dapat ditambahkan essens panili atau pewangi lainnya dan garam secukupnya, lalu dibiarkan selama 1 malam. Buat sirup nata dengan perbandingan untuk 3 kg produk nata potongan, diperlukan 2 kg gula dan 4,5 l air. Mula-mula gula dituangkan ke dalam air, panaskan sampai larut dan lalu saring.&lt;br /&gt;9. Selanjutnya nata dikemas dalam kantong plastik atau botol selai dengan perbandingan antara padatan dan cairan 3:1, botol ditutup rapat, kemudian direbus dalam air mendidih selama 30 menit. Angkat dan dinginkan di udara dengan tutup terletak pada bagian bawah, slanjutnya botol diberi label dan siap untuk dipasarkan.&lt;br /&gt;2.  Dalam Skala Besar&lt;br /&gt;Peralatan yang digunakan:&lt;br /&gt;1. Botol bekas syrup untuk tempat menyiapkan starter atau bibit.&lt;br /&gt;2. Jerigen untuk mengumpulkan air kelapa dari sumber: petani kopra, pasar dll.&lt;br /&gt;3. Hand refractometer untuk mengukur kandungan padatan air kelapa.&lt;br /&gt;4. Ember untuk menampung air kelapa dan membersihkan lembaran nata de coco.&lt;br /&gt;5. Penyaring digunakan untuk memisahkan material lain (seperti serabut, pecahan tempurung, dll) dari air kelapa&lt;br /&gt;6. Panci/Dandang Perebus sebaiknya terbuat dari stainless steel untuk menghindari reaksi dengan media maupun produk nata de coco yang dihasilkan. Panci ini digunakan untuk memasak air kelapa dan juga nata de coco.&lt;br /&gt;7. Kompor (minyak atau gas) ataupun tungku (kayu bakar). Jenis kompor bisa dengan kompor spiral yang dilengkapi dengan selenoid.&lt;br /&gt;8. Pengaduk sebaiknya dari kayu atau stainless steel.&lt;br /&gt;9. Lori (kereta dorong) digunakan untuk sarana mengangkut/ memindahkan.&lt;br /&gt;10. Gayung plastik (gelas ukur/alat pengukur volume) digunakan untuk menuangkan bahan air kelapa yang sudah di masak ke dalam baki plastik.&lt;br /&gt;11. Meja panjang untuk menempatkan baki/nampan fermentasi.&lt;br /&gt;12. Baki/nampan plastik digunakan untuk tempat media fermentasi.&lt;br /&gt;13. Kain saring atau kertas koran sebagai penutup baki/nampan plastik selama proses fermentasi.&lt;br /&gt;14. Tali karet (elastik) untuk mengikat kain/koran penutup baki/nampan.&lt;br /&gt;15. Ember pencuci.&lt;br /&gt;16. Pisau dan talenan digunakan untuk mengiris nata de coco yang semula berbentuk lembaran agar menjadi bentuk kubus. Pisau mesin dapat digunakan untuk menjaga standarisasi bentuk kubus nata de coco.&lt;br /&gt;17. Rak untuk fermentasi dan pengeringan alat&lt;br /&gt;18. Teko&lt;br /&gt;19. Kursi&lt;br /&gt;20. Sepatu plastik&lt;br /&gt;21. Sarung tangan&lt;br /&gt;22. Timbangan&lt;br /&gt;23. Mesin pres&lt;br /&gt;Bahan yang digunakan:&lt;br /&gt;Bahan-bahan yang digunakan meliputi bahan baku dan bahan pembantu. Bahan baku pembuatan nata de coco adalah air kelapa yang telah dibasikan/disimpan kurang lebih 5 sampai 6 hari. Bahan pembantu digunakan untuk mempercepat proses pertumbuhan bakteri (acetobacter xylinum) dan untuk mengatur kondisi air kelapa agar sesuai bagi pertumbuhan bakteri. Penggunaan bahan baku tersebut bervariasi tergantung dari produsen. Berikut ini adalah bahan tambahan yang biasa digunakan: &lt;br /&gt;Untuk nata de coco lembaran:&lt;br /&gt;a. Air Kelapa&lt;br /&gt;b. Gula pasir sebagai sumber karbohidrat&lt;br /&gt;c. Asam cuka glasial/cuka untuk membantu mengatur tingkat keasaman (pH)&lt;br /&gt;d. Pupuk ZA sebagai sumber nitrogen&lt;br /&gt;e. Garam inggris untuk membantu pembentukan lapisan nata de coco&lt;br /&gt;f. Asam sitrat (zitrun zuur)&lt;br /&gt;g. Bibit nata de coco&lt;br /&gt;h. Air&lt;br /&gt;i. Minyak tanah&lt;br /&gt;Untuk nata de coco kemasan:&lt;br /&gt;a. Gula/syrup&lt;br /&gt;b. Pewarna&lt;br /&gt;c. Pewangi&lt;br /&gt;d. Pengawet&lt;br /&gt;e. Kemasan (gelas plastik, penutup, sendok plastik)&lt;br /&gt;f. Kardus&lt;br /&gt;g. Lakban&lt;br /&gt;Proses pembuatan nata de coco terdiri dari enam tahap, yaitu: penyaringan; pemasakan dan pencampuran bahan pembantu; penempatan dalam nampan dan pendinginan; inokulasi (penanaman/penebaran) bibit (starter); pemeraman (fermentasi); panen dan pasca panen (pengolahan lanjut sampai setengah jadi atau siap konsumsi).&lt;br /&gt;Pertama &lt;br /&gt;Penyaringan. Air kelapa bisa dibasikan selama kurang lebih 4 hari, fungsi dari pembasian ini adalah untuk menurunkan pH air kelapa. Kemudian, air kelapa tersebut disaring dengan menggunakan penyaring lembut untuk memisahkan air kelapa dengan material-material atau kotoran-kotoran seperti: sabut, pecahan batok kelapa, cikal/buah kelapa dan lainlain. Kandungan air kelapa yang masih segar berkisar antara 400-500 ml per butir. Buah kelapa yang berumur 4-5 bulan memiliki volume air yang maksimum. Namun demikian, kualitas air kelapa yang paling baik adalah ketika buah kelapa berumur kurang lebih 5 bulan dengan kandungan total padatan maksimal 6 gram per 100 ml. Kandungan gula terlarut biasa diukur dengan menggunakan hand refractometer.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 1. Air Kelapa yang ditampung dan dibasikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,&lt;br /&gt;Pemasakan dan Pencampuran Bahan Pembantu. Air kelapa yang sudah di saring selanjutnya dimasukkan ke dalam panci/dandang stainlessteel untuk dimasak sampai mendidih selama kurang lebih 30 menit. Selama mendidih bahan-bahan pembantu seperti: gula pasir; pupuk ZA; garam inggris, asam sitrat (zitrun zuur) ditambahkan. Sebelum pendidihan diakhiri, ditambahkan asam asetat glasial/cuka hingga mencapai pH kurang lebih 3,2 (Sutarminingsih, 2004). Tidak terdapat relevansi antara citarasa dengan pH.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 2. Air Kelapa yang dimasak&lt;br /&gt;Ketiga,&lt;br /&gt;Penempatan dalam baki/nampan plastik. Semua peralatan harus bersih dan steril. Nampan plastik yang digunakan harus terlebih dahulu dibersihkan dan disterilkan. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara dicelup dalam air mendidih, dijemur, dibasahi dengan alkohol 70% atau spiritus. Media fermentasi (air kelapa dan bahan tambahan yang dididihkan) dituangkan dalam nampan dan selanjutnya segera ditutup rapat dengan koran dan diikat karet/elastik. Volume media fermentasi sebanyak 1,2 sampai 1,3 liter untuk setiap nampan tergantung ukurannya. Kemudian, media fermentasi tersebut dibiarkan sampai hangat-hangat kuku selama satu malam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 3. Penempatan dalam baki/nampan&lt;br /&gt;Keempat, &lt;br /&gt;Inokulasi Bibit (starter). Setiap nampan yang berisi fermentasi yang telah didinginkan selama satu malam tersebut ditambahkan bibit (starter) sebanyak dengan perbandingan 10% bibit (kurang lebih 13 ml) (Sutardi 2004). Inokulasi bibit dengan cara membuka sedikit tutup kain/koran dan segera ditutup kembali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 4. Penambahan bibit&lt;br /&gt;Kelima, &lt;br /&gt;Fermentasi. Media fermentasi yang sudah ditambahkan bibit selanjutnya diperam selama 6-7 hari. Kebersihan tempat pemeraman dengan suhu kamar (28o-31oC) sangat mutlak diperlukan untuk menghindari kontaminasi dengan mikroba lain atau serangga yang dapat menggagalkan proses fermentasi (Sutardi, 2004). Keberhasilan proses fermentasi ini dapat dilihat dari ada tidaknya lapisan tipis pada permukaan media fermentasi setelah dua hari dan akan semakin bertambah tebal dari hari ke hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 5. Fermentasi&lt;br /&gt;Ketujuh, &lt;br /&gt;Panen dan Pasca Penen. Setelah pemeraman selama 6-7 hari, lapisan nata de coco akan memiliki ketebalan 0,8-1,5 cm berbentuk lembaran-lembaran (slab) yang asam dalam bau, cita rasa dan pH-nya. Lembaran-lembaran ini kemudian diangkat dan lendirnya dibuang melalui pencucian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar 6. Pasca Panen&lt;br /&gt;Lembaran-lembaran ini siap untuk di jual atau mungkin harus di potong kecil-kecil berbentuk kubus, tergantung dari permintaan. Baik dalam bentuk lembaran ataupun potongan kubus harus direndam dalam air bersih selama 2-3 hari. Air rendaman setiap hari harus diganti agar bau dan rasa asam hilang. Kemudian, nata de coco dicuci kembali dan direbus untuk mengawetkan dan sekaligus menyempurnakan proses penghilangan bau dan rasa asam. Pencucian dan perebusan ini pada hakekatnya dilakukan hingga nata de coco menjadi tawar. Penyimpanan nata de coco tawar cukup dilakukan dengan merendamnya dalam air tawar yang harus sering diganti. Bentuk lembaran dan kubus-kubus kecil tawar biasanya diminta oleh produsen/pengusaha lain untuk diolah kembali. Dengan kata lain nata de coco lembaran dan kubus-kubus kecil tawar sebagai bahan baku proses produksi nata de coco dalam syrup. Bila nata de coco ingin dipasarkan dalam keadaan tawar maka, nata de coco tersebut direbus kembali dengan air bersih hingga mendidih dan dalam keadaan panas segera dilakukan pengemasan dalam kantung plastik dan diikat rapat dan didinginkan. Sedangkan nata de coco dalam syrup siap untuk dikonsumsi harus melalui beberapa proses: pembuatan syrup; pencampuran nata de coco dan bahan lain; pengemasan dan pengepakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar diatas adalah alat/ mesin pemotong/ pencetak/ slicer untuk produk Nata De Coco. Alat ini digunakan secara manual atau automatic untuk memotong Nata de Coco menjadi bentuk kotak-kotak ( dadu) sesuai yang diinginkan dan memikili hasil yang sempurna dan rapi&lt;br /&gt;Pertama, Pembuatan Syrup. Gula dituangkan ke dalam air dan dipanaskan sampai mendidih dan disaring beberapa kali sampai jernih. Tingkat kemanisan syrup disesuaikan dengan selera. Komposisi umum untuk 3 kg nata de coco dibutuhkan 2 kg gula pasir dan 4,5 liter air.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, Pencampuran. Nata de coco kubus kecil-kecil tawar dicampur dalam larutan syrup dan dididihkan selama 15 menit. Bisa ditambahkan: garam, cita rasa (flavour misal vanili, frambosen, cocopandan, rose, mangga) dan essence. Kemudian, nata de coco dibiarkan selama kurang lebih setengah hari dengan tujuan terjadi proses penyerapan gula dan cita rasa. Nata de coco direbus kembali dalam larutan syrup (gula) dan untuk mengawetkan bisa ditambah natrium benzoat 0,1 persen ke dalam larutan syrup perendam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, Pengemasan dan Pengepakan. Dalam keadaan panas, nata de coco dimasukkan ke dalam kemasan kantong/gelas plastik pengemas, ditutup rapat dan direbus dalam air mendidih selama 30 menit. Selanjutnya, kantong/gelas plastik diangkat dan disimpan dalam suhu kamar dalam posisi terbalik. Pengepakan dilakukan dan siap untuk dipasarkan.&lt;br /&gt;Untuk produksi 20 liter air kelapa, komposisi bahan-bahan pembantu sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. 1 Kg gula pasir sebagai sumber energi/karbohidrat atau karbon&lt;br /&gt;b. 20 ml (2 sendok makan) asam asetat glasial/cuka untuk membantu mengatur&lt;br /&gt;keasaman (pH)&lt;br /&gt;c. 20 g (2 sendok makan) pupuk ZA sebagai sumber nitrogen&lt;br /&gt;d. 10 g (1 sendok makan) garam inggris untuk membantu pembentukan lapisan nata de coco&lt;br /&gt;e. 10 g (1 sendok makan) asam sitrat (zitrun zuur)&lt;br /&gt;f. 2 liter bibit nata de coco&lt;br /&gt;Apabila proses pembuatan nata de coco berjalan optimal maka dari 20 liter air kelapa dapat dihasilkan 17-18 kg nata de coco tawar (rendemen 80-90 persen).&lt;br /&gt;Mesin pembuat nata de coco pada industri besar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Keberadaan dan Kegunaan serta Nilai Ekonomi Nata De Coco&lt;br /&gt;1. Keberadaan Nata De Coco&lt;br /&gt; Keberadaan bahan baku nata de coco sangat banyak terdapat di alam karena bahan baku nata de coco adalah air kelapa yang merupakan limbah dari pembuatan kopra. Sedangkan keberadaan nata de coco dipasaran sangat menguntungkan bagi para produsennya karena nata de coco memiliki nilai ekonomi yang tinggi.&lt;br /&gt;2. Kegunaan Nata De Coco&lt;br /&gt;Nata de coco merupakan makanan pencuci mulut yang berguna bagi kesehatan dalam membantu pencernaan karena banyak mengandung serat, mengandung selulosa kadar tinggi. Di Jepang, dipercaya nata de coco dapat melindungi tubuh dari kanker dan sebagai makanan diet karena kandungan kalorinya yang rendah.  Selain sebagai makanan pencuci mulut ditemukan juga fungsi nata de coco dalam bidang industri elektronik yaitu nata de coco digunakan sebagai bahan pembuat layar komputer atau layar televisi. Karena nata de coco dapat diolah menjadi material yang sangat kuat dan tahan panas juga lentur dan mampu untuk mentransmisikan cahaya. Menurut para peneliti dari Lab of Active Bio-based Material-Kyoto University, Nata De Coco dapat dijadikan komposit yang sangat kuat dengan teknik pengolahan yang cukup sederhana. Lembar Nata De Coco yang sudah dihilangkan airnya dicelupkan terlebih dahulu ke dalam perekat polifenol formaldehid dengan berat molekul rendah. Setelah melalui proses pengeringan kemudian dipres panas pada suhu 180oC selama 10 menit sehingga akan dihasilkan komposit yang sangat kuat. Material komposit tersebut mempunyai keteguhan patah (bending strength) 450 MPa, dengan kerapatan 1.4 g/cm3. Kekuatan ini lebih baik bila kita bandingkan dengan kekuatan baja campuran (Mg alloy AZ-91) yang mempunyai keteguhan patah sekitar 370 Mpa (kerapatan 1.8 g/cm3). Bahkan kekuatan komposit tersebut dapat disetarakan dengan kekuatan baja ringan SS400 (kerapatan â€šV.8 g/cm3) yang mempunyai keteguhan patah sekitar 500 MPa. Komposit nata de coco bisa memiliki kekuatan yang sangat baik karena nata de coco memiliki microfibrils yang seragam dengan ukuran fiber kurang dari 10 nm, lurus serta membentuk jaringan seperti jaring laba-laba. Kekuatan jaringan inilah yang menjadikan komposit nata de coco mendekati kekuatan baja ringan namun dengan kerapatan yang jauh lebih rendah bila dibandingkan baja ringan. Keunggulan tersebut memungkinkan komposit nata de coco untuk dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi seperti industri otomotif, elektronik, maupun konstruksi. Selain keunggulannya yang ringan, kuat, murah dan mudah dalam proses pembuatannya, keunggulan lainnya adalah komposit tersebut dibuat dari bahan alami (renewable resources) yang ketersediaannya di alam sangat melimpah. Tidak hanya sampai di situ, komposit nata de coco bahkan memiliki sifat transmitter cahaya seperti kaca. Berdasarkan penemuan mutakhir dari para peneliti Kyoto University, ukuran fiber dari nata de coco yang berskala nano, memungkinkannya untuk mentransmisikan cahaya tanpa pembelokan. Sifatnya nyaris seperti kaca dengan keunggulan lebih tahan terhadap panas dan memiliki kelenturan seperti plastik. Hal ini menjadikan komposit nata de coco sebagai material impian dengan berbagai keunggulan.&lt;br /&gt;Prinsip pembuatannya cukup sederhana, lapisan nata de coco dihilangkan airnya sehingga berbentuk lembaran seperti kertas. Setelah dikeringkan menggunakan vacuum oven, lembaran tersebut masih belum transparan karena masih mengandung rongga udara, sifat transparan dihasilkan setelah rongga udara diisi oleh senyawa resin yang mempunyai sifat transparan seperti resin akrilik. Selanjutnya dilakukan pematangan dengan menggunakan sinar UV, sehingga dihasilkan lembaran yang transparan.&lt;br /&gt;Dengan berbagai sifat yang unggul seperti transparan, ringan, fleksible dan mudah dibentuk menjadikan komposit berbahan dasar nata de coco mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai layar monitor, kaca jendela mobil ataupun jendela kereta api. Di Jepang sendiri, saat ini pemanfaatan komposit tersebut sedang diaplikasikan dalam skala industri bekerjasama dengan pihak swasta. Diharapkan dalam waktu dekat, kita bisa menikmati layar monitor komputer yang lentur seperti plastik namun tahan panas seperti gelas. Bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya kita akan memakai kacamata yang terbuat dari komposit nata de coco apabila komposit tersebut dikembangkan untuk alat optik.&lt;br /&gt;3.  Nilai ekonomi dari nata de coco&lt;br /&gt; Dipasaran nata de coco memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena bahan baku yang relatif murah sebab berasal dari limbah pembuatan kopra.&lt;br /&gt;Analisis ekonomi pembuatan nata de coco&lt;br /&gt;a. air kelapa 100 liter @Rp. 200,- = Rp.  20.000,-&lt;br /&gt;b. gula pasir 20 kg  @Rp. 10.000,- = Rp.200.000,-&lt;br /&gt;c. asam asetat 25% 2 liter @Rp. 3.500,- = Rp.   7.000,-&lt;br /&gt;d. kultur/starter bakteri Acetobacter xylinum 10 liter&lt;br /&gt;    @Rp. 2.500,-  =Rp.  25.000,-&lt;br /&gt;e. minyak tanah 25 liter @Rp. 6.000  =Rp.150.000,-&lt;br /&gt;f. sirup 5 botol  @Rp.10.000,-  =Rp.  50.000,-&lt;br /&gt;Jumlah  =Rp.602.000,-&lt;br /&gt;Setiap 20 liter air kelapa dapat menghasilkan 17-18 kg nata de coco tawar (rendemen 80-90%). Harga nata de coco per Kg yaitu Rp.1500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Reaksi-Reaksi Kimia yang terjadi pada Pembuatan Nata De Coco&lt;br /&gt;Nata de coco dibentuk oleh spesies bakteri asam asetat pada permukaan cairan yang mengandung gula, sari buah, atau ekstrak tanaman lain. Beberapa spesies yang termasuk bakteri asam asetat dapat membentuk selulosa, namun selama ini yang paling banyak dipelajari adalah Acetobacter xylinum. Bakteri Acetobacter xylinum termasuk genus Acetobacter. Bakteri Acetobacter xylinum bersifat Gram negatip artinya memiliki lapisan luar dari lipopolisakarida: terdiri dari membran dan lapisan peptidoglikan yang tipis dan terletak pada periplasma (di antara lapisan luar dan membran sitoplasma)., aerob, berbentuk batang pendek atau kokus. &lt;br /&gt;Bakteri ini secara alami dapat ditemukan pada sari tanaman bergula yang telah mengalami fermentasi atau pada sayuran dan buah-buahan bergula yang sudah membusuk. Bila mikroba ini ditumbuhkan pada media yang mengandung gula, organisme ini dapat mengubah 19% gula menjadi selulosa. Selulosa yang dikeluarkan ke dalam media berupa benang-benang yang bersama dengan polisakarida berlendir membentuk jalinan yang terus menebal menjadi lapisan nata. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan bakteri axetobacter xylinum adalah tingkat keasaman medium, lama fermentasi, sumber karbon, sumber nitrogen, suhu dan konsentrasi bibit (starter). Pada dasarnya proses pembuatan biakan murni bakteri axetobacter xylinum dapat dilakukan secara laboratoris maupun secara sederhana&lt;br /&gt;Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbon (C) dan nitrogen (N), melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim ekstraseluler yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa, dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersebut akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata.&lt;br /&gt;Adanya gula sukrosa dalam air kelapa akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk Nata de Coco. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan meningkatkan pertumbuhan mikroba, sedangkan adanya mineral dalam substrat akan membantu meningkatkan aktifitas enzim kinase dalam metabolisme di dalam sel Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa. &lt;br /&gt;Sumber nitrogen yang dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan aktivitas bakteri nata dapat berasal dari nitrogen organik, seperti misalnya protein dan ekstrak yeast, maupun nitrogen anorganik seperti misalnya ammonium fosfat, urea, dan ammonium sulfat. Namun, sumber nitrogen anorganik sangat murah dan fungsinya tidak kalah jika dibandingkan dengan sumber nitrogen organik, bahkan diantara sumber nitrogen anorganik ada yang mempunyai sifat lebih yaitu ammonium sulfat. Kelebihan yang dimaksud adalah murah, mudah larut, dan selektif bagi mikroorganisme lain. &lt;br /&gt;Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pembuatan nata de coco yaitu kondisi peralatan serta ruangan yang cukup steril. Apabila kondisi ruangan kurang steril sehingga memungkinkan sirkulasi udara berjalan seperti biasa maka peluang untuk terjadinya kontaminasi pada nata yang diproduksi cukup besar, begitu pula jika peralatan yang digunakan kurang steril maka juga dapat menimbulkan kontaminasi kerusakan pada lapisan nata yang diproduksi. &lt;br /&gt;Proses bagaimana sebenarnnya aktivitas dari Acetobacter xylinum dalam memproduksi nata de coco seperti diuraikan dibawah ini. Proses terbentuk-nya nata de coco adalah sel-sel Acetobacter xylinum mengambil glukosa dari larutan gula, kemudian digabungkan dengan asam lemak membentuk prekursor pada membran sel, dan keluar bersama-sama enzim yang mempolimerisasikan glukosa menjadi selulosa diluar sel. Prekursor dari polisakarida tersebut adalah GDP-glukosa. Pembentukan prekursor ini distimulir oleh adanya katalisator seperti Ca2+, Mg2+. Prekursor ini kemudian mengalami polimerisasi dan berikatan dengan aseptor membentuk selulosa. &lt;br /&gt;Acetobacter xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5–7,5, namun akan tumbuh optimal bila pH nya 4,3, sedangkan suhu ideal bagi pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum pada suhu 28°–31°C. Bakteri ini sangat memerlukan oksigen. Asam asetat atau asam cuka digunakan untuk menurunkan pH atau meningkatkan keasaman air kelapa. Asam asetat yang baik adalah asam asetat glasial (99,8%). Asam asetat dengan konsentrasi rendah dapat digunakan, namun untuk mencapai tingkat keasaman yang diinginkan yaitu pH 4,5–5,5 dibutuhkan dalam jumlah banyak. Selain asam asetat, asam-asam organik dan anorganik lain bisa digunakan. &lt;br /&gt;Nutrisi yang terkandung dalam air kelapa antara lain : gula sukrosa 1,28%, sumber mineral yang beragam antara lain Mg2+ 3,54 gr/L, serta adanya faktor pendukung pertumbuhan merupakan senyawa yang mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri penghasil nata (Acetobacter xylinum). Kandungan gizi nata yang dihidangkan dengan sirup adalah sebagai berikut: 67,7 persen air, 0,2 persen lemak, 12 mg kalsium, 5 mg zat besi, 2 mg fosfor, sedikit vitamin B1, sedikit protein, serta hanya 0,01 mikrogram riboflavin per 100 gramnya.&lt;br /&gt;Reaksi yang terjadi pada fermentasi nata de coco oleh bakteri Acetobacter xylinum yang dikatalisis oleh enzim kinase yaitu:&lt;br /&gt;Mekanisme reaksi pembentukan selulosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sukrosa     α-D-glukosa    β-D-fruktosa&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;α-D-glukosa      β-D-glukosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                  +                            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;β-D-glukosa               β-D-glukosa                         Ikatan 1,4-β-glikosida (selulosa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Kesimpulan&lt;br /&gt;Dari uraian mengenai teknologi pembuatan nata de coco disampaikan beberapa kesimpulan antara lain:&lt;br /&gt;1. Beberapa tahapan pembuatan Nata de Coco ádalah penyaringan; pemasakan dan pencampuran bahan pembantu; penempatan dalam nampan dan pendinginan; inokulasi (penanaman/penebaran) bibit (starter); pemeraman (fermentasi); panen dan pasca panen (pengolahan lanjut sampai setengah jadi atau siap konsumsi).&lt;br /&gt;2.  Teknologi pembuatan Nata de Coco merupakan teknologi sederhana, namun dalam proses pembuatannya memerlukan perhatian pada titik kritis yaitu; pemeliharaan kultur A. xylinum, penyiapan starter dan proses fermentasi.&lt;br /&gt;3.  proses fermentasi dilakukan oleh bakteri Acetobacter xilynum yang mengubah glukosa menjadi selulosa.&lt;br /&gt;B.  Saran&lt;br /&gt;  Dalam membuat nata de coco kebersihan merupakan faktor sangat penting untuk keberhasilan dan proses pembuatan Nata de Coco, maka dari itu jagalah kebersihan dalam membuatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2011. Uji Fermentasi. Online(http://wildablog.blogspot.com/2009/11/uji-fermentasi.html, diakses 7 Maret 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2010. Bakteri. Online(http://id.wikipedia.org/wiki/bakteri. Diakses tgl 26/03/2010).&lt;br /&gt;Misgiyarta. 2011. Teknologi Pembuatan Nata De Coco. Online(http://www.scribd.com/misgiyarta-nata-de-coco, diakses 5 Maret 2011)&lt;br /&gt;Rahayuni, theodora. 2011. Industri Pengolahan Nata De Coco. Online(http://www.scribd.com/doc/32508153/NA-Nata-de-coco, diakses 7 Maret 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN: Jika ingin struktur dan gambarnya minta lewat email: ekha_mifta@ymail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-269631247281089616?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/269631247281089616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=269631247281089616' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/269631247281089616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/269631247281089616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2011/03/pembuatan-nata-de-coco.html' title='PEMBUATAN NATA DE COCO'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-6086275637656938936</id><published>2010-11-03T06:46:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T06:46:14.957-07:00</updated><title type='text'>SENYAWA FLAVONOID</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt; Sebagian besar senyawa organik bahan alam adalah senyawa-senyawa aromatic. Senyawa-senyawa ini tersebar luas sebagai zat warna alam yang menyebabkan warna pada bunga, kayu pohon tropis, bermacam-macam kapang dan lumut termasuk zat alizarin.&lt;br /&gt; Senyawa aromatik ini mengandung cincin karboaromatik yaitu cincin aromatic yang hanya terdiri dari atom karbon seperti benzene, naftalen dan antrasen. Cincin karboaromatik ini biasanya tersubstitusi oleh satu atau lebih gugus hidroksil atau gugus lainnya yang ekivalen ditinjau dari biogenetiknya. Oleh karena itu senyawa bahan alam aromatic ini sering disebut sebagai senyawa-senyawa fenol walaupun sebagian diantaranya bersifat netral karena tidak mengandung gugus fenol dalam keadaan bebas.&lt;br /&gt; Dalam makalah ini akan diuraikan tentang sejarah flavonoid, macam-macam flavonoid dari yang sederhana sampai ke senyawa kompleks flavonoid, gugus fungsi yang terdapat pada flavonoid, sintesis dan isolasi flavonoid, sifat-sifat flavonoid, serta tumbuhan-tumbuhan yang mengandung flavonoid.&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;  Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah ini, yaitu:&lt;br /&gt;1.  Bagaimana sejarah senyawa flavonoid itu dan klasifikasinya?&lt;br /&gt;2.  Bagaimanakah sifat-sifat kimia dan fisika dari flavonoid dibandingkan dengan golongan terpen?&lt;br /&gt;3.  Gugus fungsi apa yang terdapat pada flavonoid?&lt;br /&gt;4.  Pada tumbuhan apa sajakah flavonoid berada?&lt;br /&gt;5.  Bagaimana cara isolasi dan identifikasi dari senyawa flavonoid?&lt;br /&gt;C.  Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;  Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui sejarah dari senyawa flavonoid dan klasifikasinya.&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui sifat-sifat kimia dan fisika dari senyawa flavonoid dan membandingkannya dengan terpen.&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui gugus fungsi apa saja yang terdapat pada flavonoid&lt;br /&gt;4. Untuk mengetahui tumbuh-tumbuhan yang mengandung flavonoid.&lt;br /&gt;5. Untuk mengetahui isolasi dan identifikasi dari senyawa flavonoid.&lt;br /&gt;D. Manfaat Penulisan&lt;br /&gt;  Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, untuk menambah wawasan dan sebagai bahan pelajaran untuk dapat mendeskripsikan senyawa flavonoid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sejarah Senyawa Flavonoid&lt;br /&gt; Ilmu kimia senyawa-senyawa fenol yang ditemukan di alam mengalami kemajuan yang pesat setelah Kekule berhasil menetapkan struktur cincin aromatic. Bahkan, struktur dari beberapa senyawa fenol telah dapat ditetapkan sejak abad ke-19. Oleh karena itu, ilmu kimia senyawa-senyawa fenol kadang-kadang dianggap sudah usang. Akan tetapi topic-topik yang menarik mengenai senyawa-senyawa itu terus menerus muncul dengan adanya penemuan-penemuan baru. Dengan demikian, senyawa-senyawa fenol dapat dianggap sebagai cabang dari ilmu kimia bahan alam yang terus berkembang.&lt;br /&gt; Sifat-sifat kimia dari senyawa fenol adalah sama, akan tetapi dari segi biogenetic senyawa-senyawa ini dapat dibedakan atas dua jenis utama, yaitu:&lt;br /&gt;1. Senyawa fenol yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimat.&lt;br /&gt;2. Senyawa fenol yang berasal dari jalur asetat-malonat.&lt;br /&gt; Ada juga senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur biosintesa ini yaitu senyawa-senyawa flanonoida.&lt;br /&gt;Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna kuning atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.&lt;br /&gt;Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti minyak zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal. Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji, pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan.&lt;br /&gt;Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986) menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi „alat komunikasi‟ (molecular messenger} dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat positif (menstimulasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Klasifikasi Senyawa Flavonoid&lt;br /&gt;Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan tersebar luas. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid, dengan struktur kimia dan peran biologi yang sangat beragam Senyawa ini dibentuk dari jalur shikimate dan fenilpropanoid, dengan beberapa alternatif biosintesis. Flavonoid banyak terdapat dalam tumbuhan hijau (kecuali alga), khususnya tumbuhan berpembuluh. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar, bunga, buah buni dan biji. Kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuh-tumbuhan diubah menjadi flavonoid. Flavonoid merupakan turunan fenol yang memiliki struktur dasar fenilbenzopiron (tokoferol), dicirikan oleh kerangka 15 karbon (C6-C3-C6) yang terdiri dari satu cincin teroksigenasi dan dua cincin aromatis. Substitusi gugus kimia pada flavonoid umum- nya berupa hidroksilasi, metoksilasi, metilasi dan glikosilasi. Klasifikasi flavonoid sangat beragam, di antaranya ada yang mengklasifikasikan flavonoid menjadi flavon, flavonon, isoflavon, flavanol, flavanon, antosianin, dan kalkon. Lebih dari 6467 senyawa flavonoid telah diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat. Kebanyakan flavonoid berbentuk monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer (biflavonoid), trimer, tetramer, dan polimer.&lt;br /&gt; Istilah flavonoid diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoida yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3 diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C).&lt;br /&gt;Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan di alam sehingga sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut.&lt;br /&gt;Senyawa-senyawa isoflavonoida dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku leguminosae.&lt;br /&gt; Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida mempunyai beberapa cirri struktur yaitu: cincin A dari struktur flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu pada posisi 2,4 dan 6. Cincin B flavonoida mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta aau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosiklik dalam senyawa trisiklis.&lt;br /&gt; Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantaipropana (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoida, yaitu:&lt;br /&gt;1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa senyawa flavonoida yang ditemukan di alam adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Antosianin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam tumbuhan. Secara kimia antosianin merupakan turunan suatu struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi. Antosianin tidak mantap dalam larutan netral atau basa. Karena itu antosianin harus diekstraksi dari tumbuhan dengan pelarut yang mengandung asam asetat atau asam hidroklorida (misalnya metanol yang mengandung HCl pekat 1%) dan larutannya harus disimpan di tempat gelap serta sebaiknya didinginkan. Antosianidin ialah aglikon antosianin yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin terdapat enam jenis secara umum, yaitu : sianidin, pelargonidin, peonidin, petunidin, malvidin dan delfinidin.&lt;br /&gt; Antosianidin adalah senyawa flavonoid secara struktur termasuk kelompok flavon. Glikosida antosianidin dikenal sebagai antosianin. Nama ini berasal dari bahasa Yunani antho-, bunga dan kyanos-, biru. Senyawa ini tergolong pigmen dan pembentuk warna pada tanaman yang ditentukan oleh pH dari lingkungannya. Senyawa paling umum adalah antosianidin, sianidin yang terjadi dalam sekitar 80 persen dari pigmen daun tumbuhan, 69 persen dari buah-buahan dan 50 persen dari bunga.&lt;br /&gt;Kebanyakan warna bunga merah dan biru disebabkan antosianin. Bagian bukan gula dari glukosida itu disebut suatu antosianidin dan merupakan suatu tipe garam flavilium. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower dan warna merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin berada dalam bentuk anionnya, dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam-basa.&lt;br /&gt; Istilah garam flavilium berasal dari nama untuk flavon, yang merupakan senyawa tidak berwarna. Adisi gugus hidroksil menghasilkan flavonol, yang berwarna kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengidentifikasian antosianin atau flavonoid yang kepolarannya rendah, daun segar atau daun bunga jangan dikeringkan tetapi harus digerus dengan MeOH. Ekstraksi hampir segera terjadi seperti terbukti dari warna larutan. Flavonoid yang kepolarannya rendah dan yang kadang-kadang terdapat pada bagian luar tumbuhan, paling baik diisolasi hanya dengan merendam bahan tumbuhan segar dalam heksana atau eter selama beberapa menit.&lt;br /&gt;Stabilitas Antosianin &lt;br /&gt;Antosianin secara umum mempunyai stabilitas yang rendah. Pada pemanasan yang tinggi, kestabilan dan ketahanan zat warna antosianin akan berubah dan mengakibatkan kerusakan. Selain mempengaruhi warna antosianin, pH juga mempengaruhi stabilitasnya, dimana dalam suasana asam akan berwarna merah dan suasana basa berwarna biru. Antosianin lebih stabil dalam suasana asam daripada dalam suasana alkalis ataupun netral. Zat warna ini juga tidak stabil dengan adanya oksigen dan asam askorbat. Asam askorbat kadang melindungi antosianin tetapi ketika antosianin menyerap oksigen, asam askorbat akan menghalangi terjadinya oksidasi. Pada kasus lain, jika enzim menyerang asam askorbat yang akan menghasilkan hydrogen peroksida yang mengoksidasi sehingga antosianin mengalami perubahan warna.&lt;br /&gt;Warna pigmen antosianin merah, biru, violet, dan biasanya dijumpai pada bunga, buah-buahan dan sayur-sayuran. Dalam tanaman terdapat dalam bentuk glikosida yaitu membentuk ester dengan monosakarida (glukosa, galaktosa, ramnosa dan kadang-kadang pentosa). Sewaktu pemanasan dalam asam mineral pekat, antosianin pecah menjadi antosianidin dan gula. Pada pH rendah (asam) pigmen ini berwarna merah dan pada pH tinggi berubah menjadi violet dan kemudian menjadi biru. Pada umumnya, zat-zat warna distabilkan dengan penambahan larutan buffer yang sesuai. Jika zat warna tersebut memiliki pH sekitar 4 maka perlu ditambahkan larutan buffer asetat, demikian pula zat warna yang memiliki pH yang berbeda maka harus dilakukan penyesuaian larutan buffer.&lt;br /&gt;  Warna merah bunga mawar dan biru pada bunga jagung terdiri dari pigmen yang sama yaitu sianin. Perbedaannya adalah bila pada bunga mawar pigmennya berupa garam asam sedangkan pada bunga jagung berupa garam netral. Konsentrasi pigmen juga sangat berperan dalam menentukan warna. Pada konsentrasi yang encer antosianin berwarna biru, sebaliknya pada konsentrasi pekat berwarna merah dan konsentrasi biasa berwarna ungu. Adanya tanin akan banyak mengubah warna antosianin. Dalam pengolahan sayur-sayuran adanya antosianin dan keasaman larutan banyak menentukan warna produk tersebut. Misalnya pada pemasakan bit atau kubis merah. Bila air pemasaknya mempunyai pH 8 atau lebih (dengan penambahan soda) maka warna menjadi kelabu violet tetapi bila ditambahkan cuka warna akan mejadi merah terang kembali. Tetapi jarang makanan mempunyai pH yang sangat tinggi. Dengan ion logam, antosianin membentuk senyawa kompleks yang berwarna abu-abu violet. Karena itu pada pengalengan bahan yang mengandung antosianin, kalengnya perlu mendapat lapisan khusus (lacquer).&lt;br /&gt;b. Flavonol&lt;br /&gt; flavonol lazim sebagai konstituen tanaman yang tinggi, dan terdapat dalam berbagai bentuk terhidroksilasi. Flavonol alami yang paling sederhana adalah galangin, 3,5,7 –tri-hidroksiflavon; sedangkan yang paling rumit, hibissetin adalah 3,5,7,8,3’,4’,5’ heptahidroksiflavon. Bentuk khusus hidroksilasi (C6(A)-C3-C6(B), dalam mana C6 (A) adalah turunan phloroglusional, dan cincin B adalah 4-atau 3,4-dihidroksi, diperoleh dalam 2 flavonol yang paling lazim yaitu kaempferol dan quirsetin. Hidroksiflavonol, seperti halnya hidroksi flavon, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai glikosida. Flavonol kebanyakan terdapat sebagai 3-glikosida. Meskipun flavon, flavonol, dan flavanon pada umumnya terdistribusi melalui tanaman tinggi tetapi tidak terdapat hubungan khemotakson yang jelas. Genus Melicope mengandung melisimpleksin dan ternatin, dan genus citrus mengandung nobiletin, tangeretin dan 3’,4’,5,6,7-pentametoksiflavon.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Struktur flavonol&lt;br /&gt;Flavonol Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Flavonon&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;d.   Khalkon&lt;br /&gt; polihidroksi khalkon terdapat dalam sejumlah tanaman, namun terdistribusinya di alam tidak lazim. Alasan pokok bahwa khalkon cepat mengalami isomerasi menjadi flavanon dalam satuan keseimbangan. Bila khalkon 2,6-dihidroksilasi, isomer flavanon mngikat 5 gugus hidroksil, dan stabilisasi mempengaruhi ikatan hydrogen 4-karbonil-5-hidroksil maka menyebabkan keseimbangan khalkon-flavon condong ke arah flavanon. Hingga khalkon yang terdapat di alam memiliki gugus 2,4-hidroksil atau gugus 2-hidroksil-6-glikosilasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Struktur khalkon&lt;br /&gt; Beberapa khalkon misalnya merein, koreopsin, stillopsin, lanseolin yang terdapat dalam tanaman, terutama sebagai pigmen daun bunga berwarna kuning, kebanyakan terdapat dalam tanaman Heliantheaetribe, Coreopsidinae subtribe, dan family Compositea.&lt;br /&gt;e.  Auron (Cincin A –COCO CH2 – Cincin B)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Auron atau system cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.   Dihidroflavonol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.   Dihidrokhalkon&lt;br /&gt; Meskipun dihidrokhalkon jarang terdapat di alam, namun satu senyawa yang penting yaitu phlorizin merupakan konstituen umum family Rosaceae juga terdapat dalam jenis buah-buahan seperti apel dan pear. Phlorizin telah lama dikenal dalam bidang farmasi, ia memiliki kesanggupan menghasilkan kondisi seperti diabetes.&lt;br /&gt; Phlorizin merupakan β-D-glukosida phloretin. Phloretin mudah terurai oleh alkali kuat menjadi phloroglusional dan asam p-hidroksihidrosinamat. Jika glukosida phlorizin dipecah dengan alkali dengan cara yang sama, maka ternyata sisa glukosa tidak dapat terlepas dan dihasilkan phloroglusinol β-O-glukosida. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;g. Flavon&lt;br /&gt; Flavon mudah dipecah oleh alkali menghasilkan diasil metan atau tergantung pada kondisi reaksi, asam benzoate yang diturunkan dari cincin A. flavon stabil terhadap asam kuat dan eternya mudah didealkilasi dengan penambahan HI atau HBr, atau dengan aluminium klorida dalam pelarut inert. Namun demikian, selama demetilasi tata ulang sering teramati; oleh pengaruh asam kuat dapat menyebabkan pembukaan cincin pada cara yang lain. Sebagai contoh demetilasi 5,8-dimetoksiflavon dengan HBr dalam asam asetat menghasilkan 5,6 dihidroksiflavon (persamaan 1). Dalam keadaan khusus pembukaan lanjut dapat terjadi (persamaan 2).&lt;br /&gt;Demetilasi gugus 5-metoksi dalam polimetoksiflavon segera terjadi pada kondisi yang cocok, sehingga 5-hidroksi-polimetoksiflavon mudah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Flavon alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Isoflavon terdiri atas struktur dasar C6-C3-C6, secara alami disintesa oleh tumbuh-tumbuhan dan senyawa asam amino aromatik fenilalanin atau tirosin. Biosintesa tersebut berlangsung secara bertahap dan melalui sederetan senyawa antara yaitu asam sinnamat, asam kumarat, calkon, flavon dan isoflavon. Berdasarkan biosintesa tersebut maka isoflvon digolongkan sebagai senyawa metabolit sekunder. Isoflavon termasuk dalam kelompok flavonoid (1,2-diarilpropan) dan merupakan kelompok yang terbesar dalam kelompok tersebut. Meskipun isoflavon merupakan salah satu metabolit sekunder, tetapi ternyata pada mikroba seperti bakteri, algae, jamur dan lumut tidak mengandung isoflavon, karena mikroba tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mensintesanya. &lt;br /&gt;Jenis senyawa isoflavon di alam sangat bevariasi. Diantaranya telah berhasil diidentifikasi struktur kimianya dan diketahui fungsi fisiologisnya, misalnya isoflavon, rotenoid dan kumestan, serta telah dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan. Berbagai potensi senyawa isoflavon untuk keperluan kesehatan antara lain: &lt;br /&gt;1. Anti-inflamasi &lt;br /&gt;Mekanisme anti-inflamasi terjadi melalui efek penghambatan jalur metabolisme asam arachidonat, pembentukan prostaglandin, pelepasan histamin, atau aktivitas „radical scavenging’ suatu molekul. Melalui mekanisme tersebut, sel lebih terlindung dari pengaruh negatif, sehingga dapat meningkatkan viabilitas sel. Senyawa flavonoid yang dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi adalah toksifolin, biazilin, haematoksilin, gosipin, prosianidin, nepritin, dan lain-lain. &lt;br /&gt;2. Anti-tumor/Anti-kanker &lt;br /&gt; Senyawa isoflavon yang berpotensi sebagai antitumor/antikanker adalah genistein yang merupakan isoflavon aglikon (bebas). Genistein merupakan salah satu komponen yang banyak terdapat pada kedelai dan tempe. Penghambatan sel kanker oleh genistein, melalui mekanisme sebagai berikut : (1) penghambatan pembelahan/proliferasi sel (baik sel normal, sel yang terinduksi oleh faktor pertumbuhan sitokinin, maupun sel kanker payudara yang terinduksi dengan nonil-fenol atau bi-fenol A) yang diakibatkan oleh penghambatan pembentukan membran sel, khususnya penghambatan pembentukan protein yang mengandung tirosin; (2) penghambatan aktivitas enzim DNA isomerase II; (3) penghambatan regulasi siklus sel; (4) sifat antioksidan dan anti-angiogenik yang disebabkan oleh sifat reaktif terhadap senyawa radikal bebas; (5) sifat mutagenik pada gen endoglin (gen transforman faktor pertumbuhan betha atau TGFβ). Mekanisme tersebut dapat berlangsung apabila konsentrasi genestein lebih besar dari 5μM. &lt;br /&gt;3. Anti-virus &lt;br /&gt; Mekanisme penghambatan senyawa flavonoida pada virus diduga terjadi melalui penghambatan sintesa asam nukleat (DNA atau RNA) dan pada translasi virion atau pembelahan dari poliprotein. Percobaan secara klinis menunjukkan bahwa senyawa flavonoida tersebut berpotensi untuk penyembuhan pada penyakit demam yang disebabkan oleh rhinovirus, yaitu dengan cara pemberian intravena dan juga terhadap penyakit hepatitis B. Berbagai percobaan lain untuk pengobatan penyakit liver masih terus berlangsung. &lt;br /&gt;4. Anti-allergi &lt;br /&gt; Aktivitas anti-allergi bekerja melalui mekanisme sebagai berikut : (1) penghambatan pembebasan histamin dari sel-sel „mast‟, yaitu sel yang mengandung granula, histamin, serotonin, dan heparin; (2) penghambatan pada enzim oxidative nukleosid-3‟,5‟ siklik monofast fosfodiesterase, fosfatase, alkalin, dan penyerapan Ca; (3) berinteraksi dengan pembentukan fosfoprotein. Senyawa-senyawa flavonoid lainnya yang digunakan sebagai anti-allergi antara lain terbukronil, proksikromil, dan senyawa kromon. &lt;br /&gt;5.  Penyakit kardiovaskuler &lt;br /&gt;Berbagai pengaruh positif isoflavon terhadap sistem peredaran darah dan penyakit jantung banyak ditunjukkan oleh para peneliti pada aspek berlainan. Khususnya isoflavon pada tempe yang aktif sebagai antioksidan, yaitu 6,7,4- trihidroksi isoflavon (Faktor-II), terbukti berpotensi sebagai anti kotriksi pembuluh darah (konsentrasi 5μg/ml) dan juga berpotensi menghambat, pembentukan LDL (low density lipoprotein). Dengan demikian isoflavon dapat mengurangi terjadinya arterosclerosis pada pembuluh darah. Pengaruh isoflavon terhadap penurunan tekanan darah dan resiko CVD (cardio vascular deseases) banyak dihubungkan dengan sifat hipolipidemik dan hipokholesteremik senyawa isoflavon. &lt;br /&gt;6.  Estrogen dan Osteoporosis &lt;br /&gt;Pada wanita menjelang menopause, produksi estrogen menurun sehingga menimbulkan berbagai gangguan. Estrogen tidak saja berfungsi dalam sistem reproduksi, tetapi juga berfungsi untuk tulang, jantung, dan mungkin juga otak. Dalam melakukan kerjanya, estrogen membutuhkan reseptor estrogen (ERs) yang dapat “on/off” di bawah kendali gen pada kromosom yang disebut _-ER. Beberapa target organ seperti pertumbuhan dada, tulang, dan empedu responsif terhadap _-ER tersebut. Isoflavon, khususnya genistein, dapat terikat dengan _-ER. Walaupun ikatannya lemah, tetapi dengan β-ER mempunyai ikatan sama dengan estrogen. Senyawa isoflavon terbukti mempunyai efek hormonal, khususnya efek estrogenik. Efek estrogenik ini terkait dengan struktur isoflavon yang dapat ditransformasikan menjadi equol. Dimana equol mempunyai struktur fenolik yang mirip dengan hormon estrogen. Mengingat hormon estrogen berpengaruh pula terhadap metabolisme tulang, terutama proses kalsifikasi, maka adanya isoflavon yang bersifat estrogenik dapat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses kalsifikasi. Dengan kata lain, isoflavon dapat melindungi proses osteoporosis pada tulang sehingga tulang tetap padat dan masif.&lt;br /&gt;7.   Anti kolesterol &lt;br /&gt;Efek isoflavon terhadap penurunan kolesterol terbukti tidak saja pada hewan percobaan seperti tikus dan kelinci, tetapi juga manusia. Pada penelitian dengan menggunakan tepung kedelai sebagai perlakuan, menunjukkan bahwa tidak saja kolesterol yang menurun, tetapi juga trigliserida VLDL (very low density lipoprotein) dan LDL (low density lipoprotein). Di sisi lain, tepung kedelai dapat meningkatkan HDL (high density lipoprotein) (Amirthaveni dan Vijayalakshmi, 2000). Mekanisme lain penurunan kolesterol oleh isoflavon dijelaskan melalui pengaruh peningkatan katabolisme sel lemak untuk pembentukan energi yang berakibat pada penurunan kandungan kolesterol.&lt;br /&gt;3. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; neoflavonoid meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergoin&lt;br /&gt;Penggolongan Flavonoid Berdasarkan Jenis Ikatan&lt;br /&gt;1. Flavonoid O-Glikosida&lt;br /&gt;Pada senyawa ini gugus hidroksil flavonoid terikat pada satu gula atau lebih dengan ikatan hemiasetal yang tidak tahan asam, pengaruh glikosida ini nenyebabkan flavonoid kurang reaktif dan lebih mudah larut dalam air. Gula yang paling umum terlibat adalah glukosa disamping galaktosa, ramilosa, silosa, arabinosa, fruktosa dan kadang-kadang glukoronat dan galakturonat. Disakarida juga dapat terikat pada flavonoid misalnya soforosa, gentibiosa, rutinosa dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Flavonoid C-Glikosida&lt;br /&gt;Gugus gula terikat langsung pada inti benzen dengan suatu ikatan karbon-karbon yang tahan asam. Lazim di temukan gula terikat pada atom C nomor 6 dan 8 dalam inti flavonoid. Jenis gula yang terlibat lebih sedikit dibandingkan dengan O-glikosida. Gula paling umum adalah galaktosa, raminosa, silosa, arabinosa.&lt;br /&gt;3. Flavonoid Sulfat&lt;br /&gt;Senyawa flavonoid yang mengandung satu ion sulfat atau lebih yang terikat pada OH fenol atau gula, Secara teknis termasuk bisulfate karena terdapat sebagai garam yaitu flavon O-SO3K. Banyak berupa glikosida bisulfat yang terikat pada OH fenol yang mana saja yang masih bebas atau pada guIa. Umumnya hanya terdapat pada Angiospermae yang mempunyai ekologi dengan habitat air.&lt;br /&gt;4. Biflavonoid&lt;br /&gt;Senyawa ini mula-mula ditemukan oleh Furukawa dari ekstrak daun G. biloba berupa senyawa berwarna kuning yang dinamai ginkgetin (I-4’, I-7-dimetoksi, II-4’, I-5, II-5, II-7-tetrahidroksi [I-3’, II-8] biflavon). Biflavonoid (atau biflavonil, flavandiol) merupakan dimer flavonoid yang dibentuk dari dua unit flavon atau dimer campuran antara flavon dengan flavanon dan atau auron. Struktur dasar biflavonoid adalah 2,3-dihidroapigeninil-(I- 3′,II-3′)-apigenin. Senyawa ini memiliki ikatan interflavanil C-C antara karbon C-3′ pada masing-masing flavon. Beberapa biflavonoid dengan ikatan interflavanil C- O-C juga ada. Biflavonoid terdapat pada buah, sayuran, dan bagian tumbuhan lainnya.. Hingga kini jumlah biflavonoid yang diisolasi dan dikarakterisasi dari alam terus bertambah, namun yang diketahui bioaktivitasnya masih terbatas. Biflavonoid yang paling banyak diteliti adalah ginkgetin, isoginkgetin, amentoflavon, morelloflavon, robustaflavon, hinokiflavon, dan ochnaflavon. Senyawa- senyawa ini memiliki struktur dasar yang serupa yaitu 5,7,4’-trihidroksi flavanoid, tetapi berbeda pada sifat dan letak ikatan antar flavanoid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gambar di atas menunjukkan struktur dasar fenol, flavanoid dan biflavanoid. Sistem cincin bisiklis dinamai cincin A dan C, sedangkan cincin unisiklis dinamai cincin B. Kedua unit monomer biflavonoid ditandai dengan angka Romawi I dan II. Posisi angka pada masing-masing monomer dimulai dari cincin yang mengandung atom oksigen, posisi ke-9 dan ke-10 menunjukkan karbon pada titik penyatuan &lt;br /&gt;Senyawa biflavonóid berperan sebagai antioksidan, anti-inflamasi, anti kanker, anti alergi, antimikrobia, antifungi, antibakteri, antivirus, pelindung terhadap iradiasi UV, vasorelaksan, penguat jantung, anti hipertensi, anti pembekuan darah, dan mempengaruhi metabolisme enzim. Sebagian besar peran di atas dapat dipenuhi oleh berbagai senyawa biflavonoid yang diekstraksi dari berbagai spesies Selaginella.&lt;br /&gt;Seperti yang telah dikemukakan di atas biflavonoid merupakan flavonoid dimer yang biasanya terlibat adalah flavon dan flavonon yang secara biosintesis mempunyai pola oksigenasi yang sederhana, 5, 7, 4' dan ikatan antar flavonoid berupa C-C atau eter. Biflavonoid jarang ditemukan sebagai glikosida dan penyebarannya terbatas umumnya pada paku-pakuan, Gimnospermae, Angiospermae. Salah satu struktur flavonoid yang bernilai tinggi sebagai bahan obat adalah biflavonoid. Di Asia Timur biflavonoid banyak dihasilkan dari daun Ginkgo biloba L. dengan kandungan utama ginkgetin  Di Afrika sub Sahara biflavonoid banyak dihasilkan dari biji Garcinia cola Heckel dengan kandungan utama kolaviron. Di Eropa biflavonoid banyak dihasilkan dari herba Hypericum perforatum L. dengan kandungan utama  amentoflavon. Selaginella Pal. Beauv. (Selaginellaceae Reichb.) sangat berpotensi sebagai sumber biflavonoid. Tumbuhan ini dapat menghasilkan berbagai jenis biflavonoid, tergantung spesiesnya, serta memiliki sebaran yang bersifat kosmopolitan sehingga dapat dibudidayakan hampir di seluruh permukaan bumi.&lt;br /&gt;C.  Biosintesa flavonoid&lt;br /&gt; Pola biosintesa pertama kali disarankan oleh Birch, yaitu: pada tahap-tahap pertama biosintesa flavonoida suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2). Kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan.&lt;br /&gt; Cincin A dari struktur flavonoid berasal dari jalur poliketida, yaitu kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propane berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat). Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintesa utama untuk cincin aromatic yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. Sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon dari rantai propane dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti ikatan rangkap, gugus hidroksil, gugus karbonil dan sebagainya.&lt;br /&gt; Jalur sintesis flavonoid bermula dari produk glikolisis yaitu fosfoenol piruvat. Selanjutnya, produk tersebut akan memasuki alur shikimat untuk menghasilkan fenilalanin sebagai materi awal untuk alur metabolic fenil propanoid. Alur tersebut akan menghasilkan 4-coumaryl-coA, yang akan bergabung dengan malonyl-coA untuk menghasilkan struktur sejati flavonoid. Flavonoid yang pertama kali terbentuk pada biosintesis ini disebut khalkon. Bentuk lain diturunkan dari khalkon melalui berbagai alur dan rangkaian proses enzimatik, seperti:flavanol, flavan-3-ols, proantosianidin(tannin).&lt;br /&gt;D.   Identifikasi flavonoid&lt;br /&gt; Sebagian besar senyawa flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosidanya, dimana unit flavonoid terikat pada suatu gula. Glikosida adalah kombinasi antara gula dan suatu alcohol yang saling berikatan melalui ikatan glikosida. Pada prinsipnya, ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alcohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula, sama seperti adisi alcohol kepada aldehid yang dikatalis oleh asam menghasilkan suatu asetal.&lt;br /&gt; Pada hidrolisis oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alcohol yang sebanding dan alcohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. Residu gula dari glikosida flavonoid alam adalah glukosa tersebut masinbg-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida.&lt;br /&gt; Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organic seperti eter, benzene, kloroform dan aseton.&lt;br /&gt;Flavonoid nerupakan metabolit sekunder dalam tumbuhan yang mempunyai variasi struktur yang beraneka ragam, namun saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama. Jalur biosintesis flavonoid dimulai dari pertemuan alur asetat malonat dan alur sikimat membentuk khalkon, dari bentuk khalkon ini diturunkan menjadi bentuk lanjut menjadi berbagai bentuk lewat alur antar ubah posisi, dehidrogenasi, denetilasi dan lain-lain. Kenudian daripada itu menghasilkan bentuk sekunder dihidrokalkon, flavon, auron, isoflavon (penurunan selanjutnya membentuk peterokarpon dan rotenoid) dan dehidroflavonol (penurunan selanjutnya antosianidin, flavonol, epikatekin ) .&lt;br /&gt;Dari bentuk-bentuk sekunder tersebut akan terjadi nodifikasi lebih lanjut pada berbagai tahap dan menghasilkan penambahan / pengurangan hidroksilasi, metilenasi, ortodihidroksil, metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid, dimerisasi, pembentukan bisulfat, dan yang terpenting glikolisasi gugus hidroksil&lt;br /&gt;E. Senyawa Flavonoid Pada Tumbuhan&lt;br /&gt;Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepungsari, nektar, bunga, buah dan biji. Hanya sedikit catatan yang melaporkan flavonoid pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang, propilis (sekresi lebah), sayap kupu-kupu, yang mana dianggap bukan hasil biosintesis melainkan dari tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut, Penyebaran flavonoid terbatas pada golongan tumbuhan dengan tingkat biovita atau yang lebih tinggi, golongan tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang asal-usulnya lebih baru dibanding golongan tumbuhan yang tidak mengandung flavonoid (500 - 3000 juta tahun), segi penting dari penyebaran flavonoid ini adalah adanya kecenderungan kuat bahwa tumbuhan yang secara takson berkaitan akan menghasilkan jenis flavonoid yang serupa.&lt;br /&gt;Senyawa antosianin sering dihubungkan dengan warna bunga tumbuhan. Sianidin umumnya terdapat pada suku Gramineae. Senyawa biflavonoid banyak terdapat pada subdivisi Gymnospernae sedang isoflavonoid pada suku leguminosae.&lt;br /&gt;Pada tumbuhan yang mempunyai morfologi sederhana seperti lumut, paku, dan paku ekor  kuda mengandung senyawa flavonoid O-GIikosida, flavonol, flavonon, Khalkon, dihidrokhalkon, C-Gl ikosida . Angiospermae mengandung senyawa flavonoid kompleks yang lebih banyak.&lt;br /&gt;F. Sifat Fisika dan Kimia Senyawa Flavonoid&lt;br /&gt;Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena merupakan senyawa polihidroksi(gugus hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti metanol, etanol, aseton, air, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil formamida. Disamping itu dengan adanya gugus glikosida yang terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung menyebabkan flavonoid mudah larut dalam air.&lt;br /&gt;Pemisahan senyawa golongan flavonoid berdasarkan sifat kelarutan dalam berbagai macam pelarut dengan polaritas yang meningkat adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Flavonoid bebas dan aglikon,dalam eter .&lt;br /&gt;2. O-Glikosida,dalam etil asetat.&lt;br /&gt;3. C-Glikosida dan leukoantosianin dalam&lt;br /&gt;butanol dan amil alkohoI.&lt;br /&gt;Oleh karena itu banyak keuntungan ekstraksi dengan polaritas yang meningkat.&lt;br /&gt;G.  Isolasi dan Identifikasi Flavonoid&lt;br /&gt;1.  Isolasi Dengan metanol&lt;br /&gt;Terhadap bahan yang telah dihaluskan, ekstraksi dilakukan dalam dua tahap. Pertama dengan metanol:air (9:1) dilanjutkan dengan metanol:air (1:1) lalu dibiarkan 6-12 jam. Penyaringan dengan corong buchner, lalu kedua ekstrak disatukan dan diuapkan hingga 1/3 volume mula-muIa, atau sampai semua metanol menguap dengan ekstraksi menggunakan pelarut heksan atau kloroform (daIam corong pisah) dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolarannya rendah, seperti lemak, terpen, klorofil, santifil dan lain-lain .&lt;br /&gt;2.  Isolasi Dengan Charaux Paris&lt;br /&gt;Serbuk tanaman diekstraksi dengan metanol,lalu diuapkan sampai kental dan ekstrak kental ditambah air panas dalam volume yang sama, Ekstrak air encer lalu ditambah eter, lakukan ekstraksi kocok, pisahkan fase eter lalu uapkan sampai kering yang kemungkinan didapat bentuk bebas. Fase air dari hasil pemisahan ditambah lagi pelarut etil. asetat diuapkan sampai kering yang kemungkinan didapat Flavonoid O Glikosida. Fase air ditambah lagi pelarut n - butanol, setelah dilakukan ekstraksi, lakukan pemisahan dari kedua fase tersebut. Fase n-butanol diuapkan maka akan didapatkan ekstrak n - butanol yang kering, mengandung flavonoid dalam bentuk C-glikosida dan leukoantosianin. Dari ketiga fase yang didapat itu langsung dilakukan pemisahan dari komponen yang ada dalam setiap fasenya dengan mempergunakan kromatografi koLom. Metode ini sangat baik dipakai dalam mengisolasi flavonoid dalam tanaman karena dapat dilakukan pemisahan flavonoid berdasarkan sifat kepolarannya.&lt;br /&gt;3.  Isolasi dengan beberapa pelarut.&lt;br /&gt;Serbuk kering diekstraksi dengan kloroform dan etanol, kemudian ekstrak yang diperoleh dipekatkan dibawah tekanan rendah. Ekstrak etano lpekat dilarutkan dalam air lalu diekstraksi gojog dengan dietil eter dan n-butanol, sehingga dengan demikian didapat tiga fraksi yaitu fraksi kloroform, butanol dan dietil eter.&lt;br /&gt;ldentifikasi Dengan Reaksi warna&lt;br /&gt;1. Uji WILSTATER&lt;br /&gt;Uji ini untuk mengetahui senyawa yang mempunyai inti δ benzopiron. Warna-warna yang dihasilkan dengan reaksi Wilstater adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Jingga Daerah untuk golongan flavon.&lt;br /&gt;- Merah krimson untuk golongan fLavonol.&lt;br /&gt;- Merah tua untuk golongan flavonon.&lt;br /&gt;2. Uji BATE SMITH MATECALVE&lt;br /&gt;Reaksi warna ini digunakan untuk menuniukkan adanya senyawa leukoantosianin, reaksi positif jika terjadi warna merah yang intensif atau warna ungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa flavonoida adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru. Dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.&lt;br /&gt;Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai propana (C3) sehingga bentuk susunan C6-C3-C6. susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa Flavonoid yaitu :&lt;br /&gt;a. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana&lt;br /&gt;b. Isoflavonoid atau 1,2- diarilpropana&lt;br /&gt;c. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana&lt;br /&gt;Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoid yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1.3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C).&lt;br /&gt;Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sering sekali disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut.&lt;br /&gt;Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku Leguminosae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu posisi 2,4,6. cincin B flavonoid mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta atau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta.&lt;br /&gt;Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosikllis dalam senyawa trisiklis.&lt;br /&gt;Beberapa senyawa flavonoida adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Cincin A – COCH2CH2 – Cincin B —————————– Hidrokalkon &lt;br /&gt;Cincin A – COCH2CHOH – Cincin B ————————– Flavanon, kalkon&lt;br /&gt;Cincin A – COCH2CO – Cincin B —————————— Flavon&lt;br /&gt;Cincin A – CH2COCO – Cincin B —————————— Antosianin&lt;br /&gt;Cincin A – COCOCH2 – Cincin B ——————————- Auron &lt;br /&gt;Pola biosintesis pertama kali disarankan oleh Birch, yaitu : pada tahap tahap pertama biosintesa flavonoida suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2).kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan. Cincin A dari struktur flavonoida berasal dari jalur poliketida, yaitu kondensasidari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat). Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintes utamadari cincin aromatik yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. Sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon dari rantai propana dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti pada ikatan rangkap, gugus hidroksi, gugus karbonil, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sebagai besar senyawa flavonoida alam ditemukan dalam bentuk glikosida, dimana unit flavonoid terikat pada sutatu gula. Glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu alkohol yang saling berikatanmelalui ikatan glikosida. Pada prinsipnya, ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alkohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula sama seperti adisi alkohol kepada aldehida yang dikatalisa oleh asam menghasilkan suatu asetal.&lt;br /&gt;Pada hidrolisa oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alkohol yang sebanding dan alkohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. Residu gula dari glikosida flavonoida alam adalah glukosa, ramnosa, galaktosa dan gentiobiosa sehingga glikosida tersebut masing-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida. &lt;br /&gt;Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organik seperti eter, benzen, kloroform dan aseton.&lt;br /&gt;Antioksidan alami terdapat dalam bagian daun, buah, akar, batang dan biji dari tumbuh-tumbuhan obat. Bagian tersebut umumnya mengandung senyawa fenol dan polifenol. Polifenol dan turunannya telah lama dikenal memiliki aktivitas antibakteri, antimelanogenesis, antioksidan dan antimutagen. Sebagai antioksidan polifenol berperan sebagai penangkap radikal bebas penyebab peroksidasi lipid yang dapat menimbulkan kerusakan pada bahan makanan, selain itu senyawa antioksidan berfungsi mencegah kerusakan sel dan DNA akibat adanya senyawa radikal bebas. &lt;br /&gt;Senyawa flavonoid yang merupakan salah satu golongan dari polifenol sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih digunakan secara terbatas. Hal ini dikarenakan senyawa flavonoid tidak stabil terhadap perubahan pengaruh oksidasi, cahaya, dan perubahan kimia, sehingga apabila teroksidasi strukturnya akan berubah dan fungsinya sebagai bahan aktif akan menurun bahkan hilang dan kelarutannya rendah. Kestabilan dan kelarutan dapat ditingkatkan dengan cara mengubah senyawa flavonoid menjadi bentuk glikosida melalui reaksi kimia maupun enzimatik dengan bantuan enzim transferase.&lt;br /&gt;Senyawa-senyawa flavanoid yang umumnya bersifat antioksidan dan banyak yang telah digunakan sebagai salah satu komponen bahan baku obat-obatan. Bahkan, berdasarkan penelitian di Jepang, ditemukan molekul isoflavon di dalam tempe. Oleh karena molekul isoflavon bersifat antioksidan maka tempe merupakan sumber pangan yang baik untuk menjaga kesehatan, selain kandungan gizinya tinggi.&lt;br /&gt;Senyawa-senyawa flavonoid dan turunannya dari tanaman nangka-nangkaan memiliki fungsi fisiologi tertentu. Ada dua kategori fungsi fisiologi senyawa flavonoid tanaman nangka-nangkaan berdasarkan sebarannya di Indonesia. Tanaman nangka-nangkaan yang tumbuh di Indonesia bagian barat, produksi senyawa flavanoid diduga berfungsi sebagai bahan kimia untuk mengatasi serangan penyakit (sebagai antimikroba atau antibakteri) bagi tanaman.&lt;br /&gt;Sedangkan yang tumbuh di Indonesia bagian timur, produksi senyawa flavanoid berfungsi sebagai alat pertahanan (antivirus). Dengan menggunakan pendekatan fungsi fisiologi ini, uji biologi artoindonesianin dan kerabatnya dilakukan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan S. Scheller, dkk yang menguji efektifitas antikanker dari ekstrak etanol propolis (EEP) pada mencit yang diinduksi dengan ehrlich carcinoma cells menunjukkan, mencit yang bisa bertahan hidup lebih banyak setelah diberi EEP. Efek antikanker EEP terhadap Ehrlich Carcinoma cells ini berkaitan dengan kandungan flavonoid pada propolis. Flavonoid mempengaruhi tahapan metabolisme sel kanker misalnya dengan cara menghambat penggabungan timidin, uridin, dan leucin dengan sel kanker tersebut sehingga dapat menghambat sintesis DNA sel kanker. Peranan flavonoid sebagai antikanker juga diperkuat oleh eksperimen lain yang menggunakan hidrokarbon aromatic polisiklik sebagai penginduksi kanker.&lt;br /&gt;Mekanisme penghambatan terhadap hidrokarbon aromatic polisiklik berkaitan dengan penghambatan stimulasi metabolik yang diinduksi oleh hidrokarbon aromatic polisiklik dan memengaruhi aktivitas beberapa sel promoter. Flavonoid ini merupakan sua tu zat yang banyak terdapat pada tumbuhan, tetapi dalam propolis berada dalam bentuk terkonsentrasi.&lt;br /&gt;Dengan sistem metabolismenya, lebah membuat flavonoid dari tumbuhan itu lebih efektif. Jadi lebah seolah-olah menjadi perantara flavonoid dengan manusia dan hewan. Senyawa flavonoid yang ditemukan pada EEP antara lain betulinol, quersetin, isovanilin, galangin, isalpinin, kaemferol, rhamnetin, isohmnetin, pinocembrin, pinostrobin dan pinobaksin. Saat ini propolis tersedia dalam bentuk tablet, salep, kapsul, krim, dll. Penggunaan propolis bisa pada orang sehat maupun sakit. Pada orang sehat penggunaan propolis dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.  Sedangkan pada orang yang sedang sakit penggunaannya bila digabungkan dengan obat sintesis bisa meningkatkan efeknya misalnya bisa meningkatkan efek penisilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2010. Biflavonoid. Online: http://www.scribd.com/doc/12754372/D090115AHMBifavonoidxxx, diakses tanggal 30 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernawati. 2010.  Perbaikan  Kinerja Reproduksi Akibat Pemberian Isoflavon dari Tanaman Kedelai. Online: http://file.upi.edu/Direktori/D%20-%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20BIOLOGI/197003311997022%20-%20HERNAWATI/FILE%2012.pdf, diakses tanggal 30 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lenny, Sofia. 2006. Senyawa Flavonoid, Fenil Propanoid dan Alkaloid. Online:http://www.pdf-searcher.com/SENYAWA-FLAVONOID,-FENIL-PROPANOID-DAN-ALKALOID.html, diakses tanggal 30 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrohamidjojo, Hardjono. 1996. Sintesis Bahan Alam. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.&lt;br /&gt;CATATAN: klo mau strukturnyaminta lewat email: ekha_mifta@ymail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-6086275637656938936?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/6086275637656938936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=6086275637656938936' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/6086275637656938936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/6086275637656938936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2010/11/senyawa-flavonoid.html' title='SENYAWA FLAVONOID'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-8338948691426912744</id><published>2010-01-19T00:39:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T00:39:16.777-08:00</updated><title type='text'>Makalah Pembelajaran</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.&lt;br /&gt;Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. &lt;br /&gt;Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.&lt;br /&gt;Guru sebagai salah satu komponen pendidikan dan merupakan suatu bidang profesi, mempunyai peranan yang sangat vital didalam proses belajar mengajar untuk membawa anak didiknya kepada kedewasaan dalam arti yang sangat luas. Bahkan boleh dikatakan bahwa keberhasilan suatu proses belajar mengajar ini 60% terletak ditangan guru.&lt;br /&gt;Oleh karena itu proses belajar mengajar yang dibabaki oleh guru tidak akan pernah tenggelam atau digantikan oleh alat atau lainnya. Dizaman modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi telah merambah seluruh sektor kehidupan. Produk iptek telah menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih praktis dan lebih mudah, sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan dan diperoleh saat ini dengan mudah dapat segera diwujudkan termasuk didalam dunia pendidikan produk teknologi telah menjadi guru kedua bagi anak.&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Agar pemaparan makalah ini lebih sistematis, maka kami merumuskannya ke dalam beberapa pertanyataan, antara lain:&lt;br /&gt;1. Apa definisi dari pembelajaran?&lt;br /&gt;2. Apa tujuan dari pembelajaran?&lt;br /&gt;3. Apa sajakah unsure-unsur dinamis pembelajaran?&lt;br /&gt;4. Bagaimana peranan guru dalam pembelajaran?&lt;br /&gt;5. Bagaimana prinsip pembelajaran yang efektif?&lt;br /&gt;6. Apa sajakah ciri-ciri pembelajaran yang efektif?&lt;br /&gt;7. Apa pengertian dari model pembelajaran dan jenis-jenisnya?&lt;br /&gt;C. Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:&lt;br /&gt;1. Mampu menjelaskan pengertian pembelajaran&lt;br /&gt;2. Mampu menjelaskan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;3. Mampu menjelaskan unsur-unsur dinamis pembelajaran&lt;br /&gt;4. Mampu menjelaskan langkah-langkah pembelajaran&lt;br /&gt;5. Mampu menjelaskan peranan guru dalam pembelajaran&lt;br /&gt;6. Mampu menjelaskan prinsip pembelajaran yang efektif&lt;br /&gt;7. Mampu menjelaskan ciri-ciri pembelajaran yang efektif&lt;br /&gt;8. Mampu menjelaskan pengertian model pembelajaran dan membedakan model-model pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Definis Pembelajaran&lt;br /&gt;1. Menurut Sadiman, 1998.&lt;br /&gt;Kata pembelajaran sengaja dipakai sebagai padanan kata bahasa inggrisnya instruction. Kata instruction mempunyai pengertian yang lebih luas dari pada pengajaran. Jika kata pengajaran ada dalam konteks pembelajar-belajar di kelas (ruang) formal maka pembelajaran atau instruction mencakup pula kegiatan belajar mengajar yang tak dihadiri pembelajar secara fisik. Oleh karena dalam instruction yang ditekankan adalah belajar, maka usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri pembelajar, kita sebut pembelajaran.&lt;br /&gt;2. Menurut AECT, 1986. &lt;br /&gt;Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan terjadinya belajar pada diri pembelajar. Pembelajaran merupakan set khusus pendidikan. &lt;br /&gt;3. Menurut Degeng dan Miarso, 1993. &lt;br /&gt;Pembelajaran adalah suatu proses yang dilaksananakan secara sistematik dimana setiap komponen saling berpengaruh. Dalam proses secara implicit terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.&lt;br /&gt;4. Menurut Gagne, 1988. &lt;br /&gt;Pembelajaran adalah usaha pembelajar yang bertujuan untuk menolong pembelajar. Pembelajaran merupakan seperangkat peristiwa yang mempengaruhi terjadinya proses belajar pebelajar. Peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi terjadinya belajar pebelajar, tidak selamanya berada di luar pebelajar, tetapi juga berada di dalam diri pebelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menurut Winataputra, 2001.&lt;br /&gt;Pembelajaran adalah prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.&lt;br /&gt;B. Tujuan Pembelajaran&lt;br /&gt; Tujuan pembelajaran dimulai dari tujuan yang paling umu sampai paling rinci, sehingga tujuan pembelajaran terdapat klasifikasi berdasarkan kedudukannya, yaitu:&lt;br /&gt;1. Tujuan umum pendidikan nasional, yakni: Pembentukan manusia seutuhnya (pancasilais). Tujuan pendidikan untuk semua jenis dan jenjang pendidikan (umum, kejuruan, PT, non formal).&lt;br /&gt;2. Tujuan institusional: Tujuan masing-masing lembaga pendidikan seperti SD, SLTP, SLTA, PT, PLS.&lt;br /&gt;3. Tujuan kurikuler: Tujuan macam-macam bidang studi, seperti matematika, bahasa, agama, kesenian, dsb.&lt;br /&gt;4. Tujuan pembelajaran: Tujuan  program pembelajaran bidang studi tertentu pada masing-masing kelas atau tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;C. Unsur-Unsur Dinamis Pembelajaran&lt;br /&gt;Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran adalah unsure-unsur yang dapat berubah atau diupayakan pembelajar dalam mengefektifkan dan mengefesienkan pelaksanaan pembelajaran. Unsur-unsur dinamis pembelajaran yaitu:&lt;br /&gt;1. Bahan ajar. Pembelajar memiliki peranan penting dalam pemilihan dan penetapan bahan pelajaran.&lt;br /&gt;2. Suasana belajar: beberapa pertimbangan penting bagi pembelajar dalam rangka menciptakan suasana belajar, yaitu kenyamanan dari gedung sekolah. Suasana pergaulan seperti tertib dan akrabnya antar orangtua pebelajar, dan pegawai-pegawai. Adanya ruang belajar di rumah.&lt;br /&gt;3. Media dan sumber belajar: pembelajar sebagai perancang dan pengguna media dan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan: (a)Media dan sumber belajar memiliki manfaat untuk mencapai sasarn belajar. (b)kemampuan pebelajar dalam mendesain dan memproduksi media dan sumber bahan ajar sesuai dengan bahan pelajaran yang diajarkan.(c) pebelajar dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada disurat kabar, majalah, radio, televise, museum, kantor-kantor dan sejenisnya untuk pokok bahasan tertentu.&lt;br /&gt;4. Guru sebagai subjek pembelajaran: guru memiliki peranan penting dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;- Membuat desain pembelajaran secara tertulis, lengkap dan menyeluruh.&lt;br /&gt;- Meningkatkan diri untuk menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh.&lt;br /&gt;- Bertindak sebagai guru yang mendidik.&lt;br /&gt;- Meningkatkan profesinalisme keguruan.&lt;br /&gt;- Dalam berhadapan dengan pebelajar, guru berperan sebagai fasilitator belajar, pembimbing belajar, dan pemberi balikan belajar.&lt;br /&gt;D. Langkah-Langkah dalam Pembelajaran&lt;br /&gt; Konsep pembelajaran yang terdiri atas 3 tahap, yaitu (a) tahap sebelum pengajaran, (b) tahap pembelajaran, (c) tahap sesudah pembelajaran.&lt;br /&gt;1. Tahap sebelum pembelajaran&lt;br /&gt;Pembelajaran harus menyusun perencanaan pembelajaran yang terkait dengan: &lt;br /&gt;a. Bekal bawaan yang ada pada pebelajar&lt;br /&gt;b. Perumusan tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;c. Pemilihan metode&lt;br /&gt;d. Pemilihan pengalaman belajar&lt;br /&gt;e. Pemilihan bahan dan media pembelajaran&lt;br /&gt;f. Mempertimbangkan karakteristik pebelajar&lt;br /&gt;g. Mempertimbangkan cara membuka pelajaran, pengembangan, dan penutup pelajaran.&lt;br /&gt;h. Mempertimbangkan peranan pebelajar dan pola pengelompokan, dan mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar.&lt;br /&gt;2. Tahap pembelajaran&lt;br /&gt;Tahap kegiatan ini adalah tahap berlangsungnya interaksi antara pembelajar dengan pebelajar, pebelajar dengan pebelajar, dan pebelajar group dengan pebelajar individual. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam tahap pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;a. Pengelolaan dan pengendalian kelas.&lt;br /&gt;b. Penyempaian informasi, keterampilan-keterampilan, konsep, dan sebagainya&lt;br /&gt;c. Penggunaan tingkal laku verbal, misalnya keterampilan bertanya, demonstrasi dan penggunaan model.&lt;br /&gt;d. Penggunaan tingkah laku nonverbal, misalnya gerak pindah pembelajar, dan sasmita pembelajar.&lt;br /&gt;e. Cara mendapatkan balikan.&lt;br /&gt;f. Mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologis, antara lain motivasi, pengulangan, pemberian penguatan, balikan kognitif, pokok-pokok yang akan mendiagnosa kesulitan belajar.&lt;br /&gt;g. Menyajikan kegiatan sehubungan dengan perbedaan individual.&lt;br /&gt;h. Mengevaluasi kegiatan berinteraksi.&lt;br /&gt;3. Tahap sesudah pembelajaran&lt;br /&gt;Tahap ini merupakan kegiatan setelah pertemuan tatap muka dengan pebelajar. Beberapa perbuatan pembelajar yang nampak sesudah pembelajaran antara lain: &lt;br /&gt;a. Menilai pekerjaan pebelajar.&lt;br /&gt;b. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya, dan&lt;br /&gt;c. Menilai kembali proses pembelajaran yang telah berlangsung.&lt;br /&gt;E. Peranan Guru dalam Pembelajaran&lt;br /&gt;Guru memilik peranan seperti:&lt;br /&gt;1. Sebagai komunikator. Guru sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, agar pebelajar menguasai materi pelajaran yang diajarkan.&lt;br /&gt;2. Sebagai informatory. Guru sebagai pelaksana dengan beberapa cara mengajar, yaitu informative, praktis dan studi lapangan secara akademik, maupun umum.&lt;br /&gt;3. Sebagai organisator. Guru sebagai pengelola kegiatan akademik seperti silabus, workshop, jadwal pelajaran, dan sebagainya.&lt;br /&gt;4. Sebagai motivator. Peranan ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar pebelajar. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi pebelajar, menumbuhkan aktivitas dan kreativitas sehingga terjadi dinamika di dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;5. Sebagai pengarah/director. Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol.&lt;br /&gt;6. Sebagai inisiator. Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar.&lt;br /&gt;7. Sebagai transmitter. Dalam kegiatan pembelajaran, guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.&lt;br /&gt;8. Sebagai fasilitator. Guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas untuk kemudahan pembelajaran, menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi dalam pembelajaran akan berlangsung secara efektif.&lt;br /&gt;9. Sebagai mediator. Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, mediator juga dapat diartikan perancang, pengembang dan penyedia media serta cara memakai dan mengorganisasikan penggunaan media.&lt;br /&gt;10. Sebagai evaluator. Sebagai peranan akhir kegiatan guru dalam pembelajaran adalah melakukan evaluasi. Dalam hal ini guru mempunyai otoritas untuk menilai keberhasilan pembelajaran.&lt;br /&gt;F. Prinsip Pembelajaran yang Efektif&lt;br /&gt;1. Menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan&lt;br /&gt;Menguasai materi pelajaran termasuk didalamnya kemampuan mengorganisasikan dan menyesuaikan materi pelajaran menurut tingkat kemampuan, minat, dan kecepatan pebelajar masing-masing.&lt;br /&gt;2. Kesehatan dan kondisi jasmani&lt;br /&gt;Mengajar adalah tugas atau kegiatan yang sangat memerlukan kesehatan dan kondisi jasmani dapat mengurangi kemampuan pembelajar dalam melaksanankan tugas-tugasnya untuk mengajar.&lt;br /&gt;3. Sifat kepribadian dan penguasaan diri&lt;br /&gt;Kepribadian dan perilaku pembelajar besar pengaruhnya terhadap pebelajar.&lt;br /&gt;4. Mengerti sifat dan perkembangan manusia.&lt;br /&gt;Baik pria maupun wanita, mungkin berniat untuk mengajar tetapi mereka tidak mengerti rangkaian perkembangan manusia, sehingga mereka tidak berhasil mengajar sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;5. Pengetahuan/kemampuan menggunakan prinsip-prinsip belajar.&lt;br /&gt;apa yang harus diajarkan, mengapa, bilamana dan bagaimana mengajarkan tergantung beberapa factor diantaranya ialah: kemudahan secara individual, kesiapan belajar, dan kesempatan belajar mengajar yang dapat berguna.&lt;br /&gt;6. Toleransi budaya, agama dan suku bangsa&lt;br /&gt;Pembelajar menghadapi pebelajar yang mungkin berasal dari system budaya, agama, dan suku bangsa yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;7. Peningkatan profesi dan budaya&lt;br /&gt;Pembelajar harus mengambil bagian dalam kegiatan yang bersifat meningkatkan profesi sebagai guru pengembang kebudayaan.&lt;br /&gt;G. Ciri-Ciri Pembelajaran yang Efektif&lt;br /&gt;1. Kecakapan membimbing belajar&lt;br /&gt;Pembelajaran bukan semata-mata suatu proses memberi pengetahuan kepada pebelajar bukan pula sekedar hanya menghilangkan sifat-sifat dan kecenderungan yang tidak diinginkan, tetapi yang utama adalah membimbing dan menuntun pebelajar dan mendorong mereka untuk mencapai hasil belajar.&lt;br /&gt;2. Ramah tamah dan simpatik&lt;br /&gt;Mengajar yang baik, tidak terdapat dalam situasi yang kurang ramah tamah dan simpatik terhadap kebutuhan dan minat pelajar.&lt;br /&gt;3. Berencana dengan baik&lt;br /&gt;Pembelajar selalu memikirkan seluruh masalah yang telah ada dan yang mungkin dialami/dihadapi sebelum melanjutkan pelajaran.&lt;br /&gt;4. Kerjasama &lt;br /&gt;Salah satu yang diharapkan dari pembelajar yang baik, ialah dapat terjalin kerjasama yang baik antara pembelajar dan pebelajar.&lt;br /&gt;5. Memberi saran dan anjuran&lt;br /&gt;Mengajar yang baik berlangsung atas dasar saran dan anjuran bukan atas dasar perintah atau dikte.&lt;br /&gt;6. Demokrasi&lt;br /&gt;Mengajar yang baik berarti mengusakan terciptanya suatu suasana lingkungan demokrasi yang di dalamnya orang saling menghargai hak pribadi masing-masing.&lt;br /&gt;7. Merangsang&lt;br /&gt;Pembelajar yang baik, merangsang perkembangan kepribadian dan aktivitas pebelajar dengan perantaraan kepribadian dan aktivitasnya.&lt;br /&gt;8. Memperhitungkan pengalaman masa lampau pebelajar&lt;br /&gt;Pembelajar yang cakap mengerti bahwa pendidikan yang baik adalah mengorganisasi kembali pengalaman-pengalaman masa lampau.&lt;br /&gt;9. Progresif&lt;br /&gt;Senang dan puas terhadap apa yang pernah di capai dengan situasi yang statis bukan pertanda pembelajaran yang baik.&lt;br /&gt;10. Mendiagnosa kesulitan belajar&lt;br /&gt;Pembelajar hendaknya senantiasa memperhatikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh pebelajar di dalam belajar.&lt;br /&gt;11. Menyembuhkan (remedial)&lt;br /&gt;Pekerjaan menyembuhkan adalah sangat penting, utamanya dalam pelajaran yang membutuhkan ketangkasan atau keterampilan.&lt;br /&gt;12. Memberi kebebasan kepada pebelajar&lt;br /&gt;Kebebasan yang dimaksud dalam hal ini bukanlah kebebasan untuk bertindah semau-maunya tanpa ada kaidah atau norma, tetapi dalam arti memberi bimbingin menurut pola-pola yang diinginkan.&lt;br /&gt;H. Model-Model Pembelajaran&lt;br /&gt;Model-model pembelajaran terdapat berbagai macam, namun dalam kajian ini, di pilih dan ditetapkan berdasarkan yang telah dikembangkan dan dites oleh para pakar kependidikan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Model pencapaian konsep&lt;br /&gt;Model pencapaian konsep memiliki 3 tahap kegiatan, yaitu:&lt;br /&gt;a. Penyajian data dan identifikasi konsep&lt;br /&gt;b. Mengetes pencapaian konsep&lt;br /&gt;c. Menganalisis strategi berpikir&lt;br /&gt;2. Model latihan penelitian&lt;br /&gt;Menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini memiliki 5 tahap sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Menghadapkan masalah&lt;br /&gt;b. Mencari dan mengkaji data&lt;br /&gt;c. Mengkaji data dan eksperimentasi&lt;br /&gt;d. Mengorganisasikan, merumuskan dan menjelaskan&lt;br /&gt;e. Menganalisis proses penelitian.&lt;br /&gt;3. Model pertemuan kelas&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986 model ini memiliki 6 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Membangun iklim keterlibatan&lt;br /&gt;b. Menyajikan masalah untuk didiskusikan&lt;br /&gt;c. Membuat keputusan nilai personal&lt;br /&gt;d. Mengidentifikasi pilihan tindakan&lt;br /&gt;e. Membuat komentar&lt;br /&gt;f. Tindak lanjut perilaku&lt;br /&gt;4. Model latihan laboratories&lt;br /&gt;a. Tahap ketergantungan: hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok.&lt;br /&gt;b. Tahap saling ketergantungan: Peduli terhadap orang lain dan kerjasama memecahkan masalah umum.&lt;br /&gt;5. Model penelitian social&lt;br /&gt;Model ini terdiri atas 6 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Orientasi sebagai langkah untuk membuat pebelajar menjadi peka terhadap masalah dan dapat merumuskan masalah yang akan menjadi pusat penelitian.&lt;br /&gt;b. Perumusan hipotesis&lt;br /&gt;c. Penjelasan dan pendefenisian istilah yang ada dalam hipotesis&lt;br /&gt;d. Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis.&lt;br /&gt;e. Pembuktian dengan cara pengumpulan data yang bersangkut paut dengan esensi hipotesis.&lt;br /&gt;f. Merumuskan generalisasi berupa pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang luas yang mengaitkan beberapa konsep yang erat kaitannya dengan hipotesis.&lt;br /&gt;6. Model kontrol diri&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini memiliki 5 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Perumusan perilaku akhir.&lt;br /&gt;b. Mengkaji perilaku&lt;br /&gt;c. Merumuskan kontingensi&lt;br /&gt;d. Melembagakan program&lt;br /&gt;e. Mengevaluasi program&lt;br /&gt;7. Model simulasi&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini terbagi atas 4 tahap yaitu:&lt;br /&gt;a. Orientasi&lt;br /&gt;b. Latihan bagi peserta&lt;br /&gt;c. Proses simulasi&lt;br /&gt;d. Pemantapan atau debriefing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:&lt;br /&gt;1. Pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara terencana pada setiap tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran, serta pembelajaran tindak lanjut.&lt;br /&gt;2. Tujuan pembelajaran dimulai dari tujuan yang paling umu sampai paling rinci, sehingga tujuan pembelajaran terdapat klasifikasi berdasarkan kedudukannya, yaitu:&lt;br /&gt;a. Tujuan umum pendidikan nasional, yakni: Pembentukan manusia seutuhnya (pancasilais). Tujuan pendidikan untuk semua jenis dan jenjang pendidikan (umum, kejuruan, PT, non formal).&lt;br /&gt;b. Tujuan institusional: Tujuan masing-masing lembaga pendidikan seperti SD, SLTP, SLTA, PT, PLS.&lt;br /&gt;c. Tujuan kurikuler: Tujuan macam-macam bidang studi, seperti matematika, bahasa, agama, kesenian, dsb.&lt;br /&gt;d. Tujuan pembelajaran: Tujuan  program pembelajaran bidang studi tertentu pada masing-masing kelas atau tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;3. Unsur-unsur dinamis pembelajaran yaitu:&lt;br /&gt;- Bahan ajar..&lt;br /&gt;- Suasana belajar. &lt;br /&gt;- Media dan sumber belajar diajarkan&lt;br /&gt;- Guru sebagai subjek pembelajaran&lt;br /&gt;4.   Peranan guru dalam pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sebagai komunikator. &lt;br /&gt;b. Sebagai informatory. &lt;br /&gt;c. Sebagai organisator. &lt;br /&gt;d. Sebagai motivator. &lt;br /&gt;e. Sebagai pengarah/director. &lt;br /&gt;f. Sebagai inisiator. Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar.&lt;br /&gt;g. Sebagai transmitter. &lt;br /&gt;h. Sebagai fasilitator. &lt;br /&gt;i. Sebagai mediator. &lt;br /&gt;j. Guru sebagai mediator .&lt;br /&gt;k. Sebagai evaluator.&lt;br /&gt;5. Ciri-ciri pembelajaran yang efektif, yaitu&lt;br /&gt;a. Kecakapan membimbing belajar&lt;br /&gt;b. Ramah tamah dan simpatik&lt;br /&gt;c. Berencana dengan baik&lt;br /&gt;d. Kerjasama &lt;br /&gt;e. Memberi saran dan anjuran&lt;br /&gt;f. Demokrasi&lt;br /&gt;g. Merangsang&lt;br /&gt;h. Memperhitungkan pengalaman masa lampau pebelajar&lt;br /&gt;i. Progresif&lt;br /&gt;j. Mendiagnosa kesulitan belajar&lt;br /&gt;k. Menyembuhkan (remedial)&lt;br /&gt;l. Memberi kebebasan kepada pebelajar&lt;br /&gt;6. Pengertian istilah model pembelajaran yaitu kerangka konseptual yang digunakan dalam melakukan sesuatu kegiatan.&lt;br /&gt;7. Tahapan-tahapan model pembelajaran:&lt;br /&gt;a. Model pencapaian konsep&lt;br /&gt;Model pencapaian konsep memiliki 3 tahap kegiatan, yaitu:&lt;br /&gt;- Penyajian data dan identifikasi konsep&lt;br /&gt;- Mengetes pencapaian konsep&lt;br /&gt;- Menganalisis strategi berpikir&lt;br /&gt;b. Model latihan penelitian&lt;br /&gt;Menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini memiliki 5 tahap sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Menghadapkan masalah&lt;br /&gt;- Mencari dan mengkaji data&lt;br /&gt;- Mengkaji data dan eksperimentasi&lt;br /&gt;- Mengorganisasikan, merumuskan dan menjelaskan&lt;br /&gt;- Menganalisis proses penelitian.&lt;br /&gt;c. Model pertemuan kelas&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986 model ini memiliki 6 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Membangun iklim keterlibatan&lt;br /&gt;- Menyajikan masalah untuk didiskusikan&lt;br /&gt;-     Membuat keputusan nilai personal&lt;br /&gt;                  -     Mengidentifikasi pilihan tindakan&lt;br /&gt;-     Membuat komentar&lt;br /&gt;-     Tindak lanjut perilaku&lt;br /&gt;d. Model latihan laboratories&lt;br /&gt;- Tahap ketergantungan: hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok.&lt;br /&gt;- Tahap saling ketergantungan: Peduli terhadap orang lain dan kerjasama memecahkan masalah umum.&lt;br /&gt;e. Model penelitian social&lt;br /&gt;Model ini terdiri atas 6 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Orientasi sebagai langkah untuk membuat pebelajar menjadi peka terhadap masalah dan dapat merumuskan masalah yang akan menjadi pusat penelitian.&lt;br /&gt;- Perumusan hipotesis&lt;br /&gt;- Penjelasan dan pendefenisian istilah yang ada dalam hipotesis&lt;br /&gt;- Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis.&lt;br /&gt;- Pembuktian dengan cara pengumpulan data yang bersangkut paut dengan esensi hipotesis.&lt;br /&gt;- Merumuskan generalisasi berupa pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang luas yang mengaitkan beberapa konsep yang erat kaitannya dengan hipotesis.&lt;br /&gt;f. Model kontrol diri&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini memiliki 5 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Perumusan perilaku akhir.&lt;br /&gt;- Mengkaji perilaku&lt;br /&gt;- Merumuskan kontingensi&lt;br /&gt;- Melembagakan program&lt;br /&gt;- Mengevaluasi program&lt;br /&gt;g. Model simulasi&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini terbagi atas 4 tahap yaitu:&lt;br /&gt;- Orientasi&lt;br /&gt;- Latihan bagi peserta&lt;br /&gt;- Proses simulasi&lt;br /&gt;- Pemantapan atau debriefing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Pembelajaran. Online (http://wikipedia.com/pembelajaran, diakses tanggal 15 November 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirukiyah. 2009. Model Pembelajaran Konsep pada Pokok Bahasan Fungsi. Online(http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/06/model-pembelajaran-pencapaian-konsep.html, diakses tanggal 22 November 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haling, Abdul. 2007. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWABAN PERTANYAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian pembelajaran menurut AECT  yaitu suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan terjadinya belajar pada diri pembelajar. Pembelajaran merupakan set khusus pendidikan. &lt;br /&gt;2. Pengertian pembelajaran menurut Gagne adalah usaha pembelajar yang bertujuan untuk menolong pembelajar. Pembelajaran merupakan seperangkat peristiwa yang mempengaruhi terjadinya proses belajar pebelajar. Peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi terjadinya belajar pebelajar, tidak selamanya berada di luar pebelajar, tetapi juga berada di dalam diri pebelajar.&lt;br /&gt;3. Perbedaan antara pembelajaran dengan pengajaran, yaitu Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.&lt;br /&gt;4. Klasifikasi tujuan pembelajaran yaitu:&lt;br /&gt;a. Tujuan umum pendidikan nasional, yakni: Pembentukan manusia seutuhnya (pancasilais). Tujuan pendidikan untuk semua jenis dan jenjang pendidikan (umum, kejuruan, PT, non formal).&lt;br /&gt;b. Tujuan institusional: Tujuan masing-masing lembaga pendidikan seperti SD, SLTP, SLTA, PT, PLS.&lt;br /&gt;c. Tujuan kurikuler: Tujuan macam-macam bidang studi, seperti matematika, bahasa, agama, kesenian, dsb.&lt;br /&gt;d. Tujuan pembelajaran: Tujuan  program pembelajaran bidang studi tertentu pada masing-masing kelas atau tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan pembelajaran&lt;br /&gt;5. Dua rumusan belajar dan pembelajaran sesuai dengan disiplin ilmu yaitu:&lt;br /&gt;a. Tujuan belajar&lt;br /&gt;- Setelah menelaah tes butir-butir pertama pancasila, pebelajar dapat menjelaskan kaitan antara butir pertama dengan butir kedua.&lt;br /&gt;- Setelah mengamati berbagai tumbuh-tumbuhan di kebun percobaan sekolah pebelajar dapat membedakan antara tumbuh-tumbuhan yang bijinya berkeping satu dan berkeping 2&lt;br /&gt;b. Tujuan pembelajaran&lt;br /&gt;- Setalah pebelajar dibelajarkan dengan cara menelaah tes butir pertama pancasila, pebelajar dapat menjelaskan kaitan antara butir pertama dengan butir kedua.&lt;br /&gt;- Setelah pebelajar dibelajarkan dengan cara mengamati tumbuh-tumbuhan di kebun percobaan sekolah, pebelajar dapat membedakan tumbuh-tumbuhan yang bijinya berkeping satu dan berkeping dua.&lt;br /&gt;6. Pengertian unsu-unsur dinamis pembelajaran yaitu unsur-unsur yang dapat berubah atau diupayakan pembelajar dalam mengefektifkan dan mengefesienkan pelaksanaan pembelajaran.&lt;br /&gt;7. Unsure-unsur dinamis pembelajaran yaitu:&lt;br /&gt;- Bahan ajar. Pembelajar memiliki peranan penting dalam pemilihan dan penetapan bahan pelajaran.&lt;br /&gt;- Suasana belajar: beberapa pertimbangan penting bagi pembelajar dalam rangka menciptakan suasana belajar, yaitu kenyamanan dari gedung sekolah. Suasana pergaulan seperti tertib dan akrabnya antar orangtua pebelajar, dan pegawai-pegawai. Adanya ruang belajar di rumah.&lt;br /&gt;- Media dan sumber belajar: pembelajar sebagai perancang dan pengguna media dan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran, beberapa hal yang perlu dipertimbangkan: (a)Media dan sumber belajar memiliki manfaat untuk mencapai sasarn belajar. (b)kemampuan pebelajar dalam mendesain dan memproduksi media dan sumber bahan ajar sesuai dengan bahan pelajaran yang diajarkan.(c) pebelajar dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada disurat kabar, majalah, radio, televise, museum, kantor-kantor dan sejenisnya untuk pokok bahasan tertentu.&lt;br /&gt;- Guru sebagai subjek pembelajaran: guru memiliki peranan penting dalam kegiatan pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;• Membuat desain pembelajaran secara tertulis, lengkap dan menyeluruh.&lt;br /&gt;• Meningkatkan diri untuk menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh.&lt;br /&gt;• Bertindak sebagai guru yang mendidik.&lt;br /&gt;• Meningkatkan profesinalisme keguruan.&lt;br /&gt;• Dalam berhadapan dengan pebelajar, guru berperan sebagai fasilitator belajar, pembimbing belajar, dan pemberi balikan belajar.&lt;br /&gt;8. Indikasi belajar pembelajaran menurut Gagne, yaitu&lt;br /&gt;a. Mengarahkan perhatian.&lt;br /&gt;b. Pemberitahuan tujuan yang telah dicapai&lt;br /&gt;c. Merangsang timbulnya ingatan tentang kemampuan atau pegetahuan yang dipersyaratkan telah dipelajari.&lt;br /&gt;d. Menyampaikan bahan pelajaran yang dijadikan rangsangan&lt;br /&gt;e. Memberikan petunjuk atau tuntunan dalam kegiatan belajar&lt;br /&gt;f. Memancing penampilan pebelajar&lt;br /&gt;g. Memberikan balikan&lt;br /&gt;h. Menilain penampilan atau hasil belajar&lt;br /&gt;i. Merangsang kemampuan mengingat-ingat dan mentransfer hasil belajar.&lt;br /&gt;9.   Peranan guru dalam pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sebagai komunikator. Guru sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, agar pebelajar menguasai materi pelajaran yang diajarkan.&lt;br /&gt;b. Sebagai informatory. Guru sebagai pelaksana dengan beberapa cara mengajar, yaitu informative, praktis dan studi lapangan secara akademik, maupun umum.&lt;br /&gt;c. Sebagai organisator. Guru sebagai pengelola kegiatan akademik seperti silabus, workshop, jadwal pelajaran, dan sebagainya.&lt;br /&gt;d. Sebagai motivator. Peranan ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar pebelajar. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi pebelajar, menumbuhkan aktivitas dan kreativitas sehingga terjadi dinamika di dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;e. Sebagai pengarah/director. Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol.&lt;br /&gt;f. Sebagai inisiator. Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar.&lt;br /&gt;g. Sebagai transmitter. Dalam kegiatan pembelajaran, guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.&lt;br /&gt;h. Sebagai fasilitator. Guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas untuk kemudahan pembelajaran, menciptakan suasana belajar sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi dalam pembelajaran akan berlangsung secara efektif.&lt;br /&gt;i. Sebagai mediator. Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, mediator juga dapat diartikan perancang, pengembang dan penyedia media serta cara memakai dan mengorganisasikan penggunaan media.&lt;br /&gt;j. Sebagai evaluator. Sebagai peranan akhir kegiatan guru dalam pembelajaran adalah melakukan evaluasi. Dalam hal ini guru mempunyai otoritas untuk menilai keberhasilan pembelajaran.&lt;br /&gt;10 Prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, yaitu:&lt;br /&gt;a. Menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan&lt;br /&gt;b. Kesehatan dan kondisi jasmani&lt;br /&gt;c. Sifat kepribadian dan penguasaan diri&lt;br /&gt;d. Mengerti sifat dan perkembangan manusia.&lt;br /&gt;e. Pengetahuan/kemampuan menggunakan prinsip-prinsip belajar.&lt;br /&gt;f. Toleransi budaya, agama dan suku bangsa&lt;br /&gt;g. Peningkatan profesi dan budaya&lt;br /&gt;11. Ciri-ciri pembelajaran yang efektif, yaitu&lt;br /&gt;a. Kecakapan membimbing belajar&lt;br /&gt;b. Ramah tamah dan simpatik&lt;br /&gt;c. Berencana dengan baik&lt;br /&gt;d. Kerjasama &lt;br /&gt;e. Memberi saran dan anjuran&lt;br /&gt;f. Demokrasi&lt;br /&gt;g. Merangsang&lt;br /&gt;h. Memperhitungkan pengalaman masa lampau pebelajar&lt;br /&gt;i. Progresif&lt;br /&gt;j. Mendiagnosa kesulitan belajar&lt;br /&gt;k. Menyembuhkan (remedial)&lt;br /&gt;l. Memberi kebebasan kepada pebelajar&lt;br /&gt;12. Pengertian istilah model pembelajaran yaitu kerangka konseptual yang digunakan dalam melakukan sesuatu kegiatan.&lt;br /&gt;13. Karakteristik umum setiap model pembelajaran&lt;br /&gt;a. Model pencapaian konsep&lt;br /&gt;Model pencapaian konsep memiliki 3 tahap kegiatan, yaitu:&lt;br /&gt;- Penyajian data dan identifikasi konsep&lt;br /&gt;- Mengetes pencapaian konsep&lt;br /&gt;- Menganalisis strategi berpikir&lt;br /&gt;b. Model latihan penelitian&lt;br /&gt;Menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini memiliki 5 tahap sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Menghadapkan masalah&lt;br /&gt;- Mencari dan mengkaji data&lt;br /&gt;- Mengkaji data dan eksperimentasi&lt;br /&gt;- Mengorganisasikan, merumuskan dan menjelaskan&lt;br /&gt;- Menganalisis proses penelitian.&lt;br /&gt;c. Model pertemuan kelas&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986 model ini memiliki 6 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Membangun iklim keterlibatan&lt;br /&gt;- Menyajikan masalah untuk didiskusikan&lt;br /&gt;-     Membuat keputusan nilai personal&lt;br /&gt;                  -     Mengidentifikasi pilihan tindakan&lt;br /&gt;-     Membuat komentar&lt;br /&gt;-     Tindak lanjut perilaku&lt;br /&gt;d. Model latihan laboratories&lt;br /&gt;- Tahap ketergantungan: hubungan dengan kekuasaan sebagai isu pokok.&lt;br /&gt;- Tahap saling ketergantungan: Peduli terhadap orang lain dan kerjasama memecahkan masalah umum.&lt;br /&gt;e. Model penelitian social&lt;br /&gt;Model ini terdiri atas 6 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Orientasi sebagai langkah untuk membuat pebelajar menjadi peka terhadap masalah dan dapat merumuskan masalah yang akan menjadi pusat penelitian.&lt;br /&gt;- Perumusan hipotesis&lt;br /&gt;- Penjelasan dan pendefenisian istilah yang ada dalam hipotesis&lt;br /&gt;- Eksplorasi dalam rangka menguji hipotesis.&lt;br /&gt;- Pembuktian dengan cara pengumpulan data yang bersangkut paut dengan esensi hipotesis.&lt;br /&gt;- Merumuskan generalisasi berupa pernyataan yang memiliki tingkat abstraksi yang luas yang mengaitkan beberapa konsep yang erat kaitannya dengan hipotesis.&lt;br /&gt;f. Model kontrol diri&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini memiliki 5 tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Perumusan perilaku akhir.&lt;br /&gt;- Mengkaji perilaku&lt;br /&gt;- Merumuskan kontingensi&lt;br /&gt;- Melembagakan program&lt;br /&gt;- Mengevaluasi program&lt;br /&gt;g. Model simulasi&lt;br /&gt;menurut Joyce dan Weil, 1986. Model ini terbagi atas 4 tahap yaitu:&lt;br /&gt;- Orientasi&lt;br /&gt;- Latihan bagi peserta&lt;br /&gt;- Proses simulasi&lt;br /&gt;- Pemantapan atau debriefing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Model pencapaian konsep&lt;br /&gt;Pembelajaran model pencapaian konsep suatu strategi mengajar bersifat induktif didesain untuk membantu siswa dari semua usia dalam mengikuti pemahaman mereka terhadap konsep yang dipelajari dan melatih menguji hipotesis. Dalam penerapan pembelajaran model pencapaian konsep mengandung dua tujuan utama yaitu : Tujuan isi dan tujuan pengemabangan berpikir kritis siswa. Selain itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pelajaran menggunakan model pencapaian konsep yaitu : Menetapkan materi, prntingnya tujuan pembelajaran yang jelas, memilih contoh dan non contoh, dan mengurutkan contoh.&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran model pencapaian konsep terdapat 4 fase yang harus terpenuhi yaitu : fase 1 (penyajian contoh), fase 2 (analisis hipotesis), fase 3 (penutup), fase 4 (penerapan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-8338948691426912744?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/8338948691426912744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=8338948691426912744' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/8338948691426912744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/8338948691426912744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2010/01/makalah-pembelajaran.html' title='Makalah Pembelajaran'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-4971862396693047407</id><published>2010-01-18T23:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T23:57:52.335-08:00</updated><title type='text'>makalah kimia pangan</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PERMASALAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Makalah mengenai “pengembang” terkhusus dalam bidang pangan ini akan membahas jenis-jenis pengembang dalam makanan, bagaimana prinsip kerja dari bahan tersebut sehingga dapat membuat makanan menjadi mengembang. Dalam kehidupan sehari-hari kita hanya melihat bahan baku pembuatan kue adalah tepung terigu, gula, margarin, telur, susu dan bahan pengisi seperti cokelat, keju, vanila, dan seterusnya. Tak banyak yang tahu bahan tambahan pada sepotong kue. Kalaupun tahu, tak banyak yang paham unsur pembentuk bahan pengembang kue tersebut, sejauh mana peranan pengembang tersebut sehingga dapat membuat makanan menjadi mengembang. Dalam kehidupan terkadang banyak masyarakat khususnya kaum ibu rumah tangga yang menganggap bahwa baking soda dan backing powder itu sama. Namun pada kenyataannya kedua bahan pengembang ini berbeda. Inilah juga salah satu yang akan kami bahas dalam makalah kami mengenai perbedaan antara baking soda dan baking powder, produk kue yang mana yang menggunakan bahan pengembang ini. Seperti yang kita ketahui bahwa bahan pengembang merupakan zat aditif, timbul pertanyaan bagi kami, apakah bahan pengembang juga mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan, seperti zat-zat aditif yang lain? Selain disini kami melakukan penelitian sederhana di tiga Sekolah Dasar, yang kami teliti adalah jenis-jenis pengembang apa saja yang para penjual jajanan pakai, terutama pemakaian baking soda atau baking powder yang selama ini banyak masyarakat yang menganggapnya sama. Hal – hal demikian inilah yang akan kami ulas pada makalah ini.&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengembang adonan merupakan salah satu zat aditif makanan yaitu bahan yang sengaja ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk memantapkan bentuk dan rupa hasil pengolahan.&lt;br /&gt;Bahan pengembang adalah bahan tambahan pangan yang digunakan dalam pembuatan roti dan kue yang berfungsi untuk mengembangkan adonan supaya adonan menggelembung, bertambah volumenya, demikian juga pada saat adonan dipanggang dapat lebih mengembang. Jika bahan pengembang dicampurkan kedalam adonan maka akan terbentuk gas karbon dioksida, gas inilah yang kemudian terperangkap didalam gluten (komponen protein yang ada dalam tepung terigu) sehingga adonan menjadi mengembang karena gas yang dihasilkan semakin lama akan semakin banyak. &lt;br /&gt;Bahan pengembang adonan dapat di bagi menjadi 2 yaitu :&lt;br /&gt;a. Bahan pengembang mikroorganisme misalnya  ragi atau starter.&lt;br /&gt;b. Bahan pengembang kimiawi: soda kue, baking powder, VX, sodium alumunium fosfat, atau monocalcium fosfat , garam asam K-tartrat, Na-aluminiumsulfat, glukano-δ-lakton.&lt;br /&gt;A. Bahan Pengembang Mikroorganisme&lt;br /&gt;Selama ini banyak orang yang memiliki anggapan salah bahwa khamir sama dengan ragi. Pengertian tersebut disebarkan oleh orang-orang yang tidak mengerti secara mendalam tentang mikrobiologi. Ragi, atau dalam bahasa Inggris disebut starter, merupakan inokulum yang ditambahkan ke dalam suatu substrat sehingga substrat tersebut akan berubah, atau mengalami fermentasi. Pada umumnya, ragi yang digunakan oleh orang Indonesia untuk membuat makanan fermentasi, seperti tape dan tempe, mengandung lebih dari satu jenis mikroorganisme, baik khamir, kapang, maupun bakteri. Khamir, atau yeast dalam bahasa Inggris,  adalah mikroorganisme uniseluler yang masuk ke dalam Kingdom Fungi. Anggota kingdom tersebut lainnya yang membentuk jaringan hifa (miselium) disebut kapang (mould), sedangkan yang membentuk badan buah (fruiting body) yang terlihat jelas oleh mata disebut cendawan (mushroom) (Miftahul. 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nuri Andarwulan (2009), ada tiga jenis ragi yang umum dikenal, yaitu:&lt;br /&gt;1. Ragi tapai yang berbentuk padatan bulat pipih berwarna putih.&lt;br /&gt;2. Ragi roti berbentuk butiran.&lt;br /&gt;3. Ragi tempe berbentuk bubuk.&lt;br /&gt;Ragi roti dan ragi tapai mengandung khamir yang sama yaitu saccharomices cerevisiae. Bedanya ragi tapai dibuat dengan penambahan bumbu-bumbu dan mikroorganisme lain, sehingga tidak hanya khamir tetapi ada juga beberapa jenis bakteri lain. &lt;br /&gt;Ragi tape yang digunakan sebagai inokulum mengandung jumlah total mikroba sebanyak 1,6 x 107 CFU/gram. Adapun isolat-isolat yang diperoleh dari ragi tersebut terdiri atas 4 macam isolat mikroba, yaitu dua isolat kapang dari genus Rhizopus dan dua isolat khamir yaitu satu dari genus Saccharomyces dan satu dari genus Schizosaccharomyces (Nur. 2008) &lt;br /&gt;Sesuai dengan kandungan mikroba yang terdapat pada ragi tersebut, maka peranan mikroorganisme dalam proses fermentasi dibagi menjadi dua berdasarkan tahap fermentasi, yaitu:&lt;br /&gt;1.  Tahap I&lt;br /&gt;Selama proses fermentasi kapang akan mengubah pati menjadi gula sederhana. Kapang menghasilkan enzim-enzim α-amilase, β-amilase dan glukoamilase,&lt;br /&gt;2.  Tahap II&lt;br /&gt;Setelah terbentuk gula maka khamir akan mengubah gula menjadi alcohol, karbondioaksida dan senyawa lain. Khamir ini akan menghasilkan enzim invertase, zimase, karboksilase, maltase, melibiose, heksokinase, L-laktase, dehidrogenase, glukose-6-fosfat dehidrogenase dan alkohol dehidrogenase.&lt;br /&gt;Pada roti, Ragi ini akan bekerja bila ditambahkan dengan gula dan kondisi suhu yang hangat. Kandungan karbondioksida yang dihasilkan akan membuat suatu adonan menjadi mengembang dan terbentuk pori - pori.&lt;br /&gt;Ragi untuk tempe berbeda dengan dari untuk roti dan untuk tapai. Ragi yang digunakan disini merupakan jenis kapang atau jamur yang bias membentuk benang-benang halus. Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. &lt;br /&gt;Ada 2 jenis ragi yang ada dipasaran yaitu:&lt;br /&gt;1. Ragi kering. Jenis ragi kering ini ada yang berbentuk butiran kecil - kecil dan ada juga yang berupa bubuk halus. Jenis ragi yang butirannya halus dan berwarna kecokelatan ini umumnya digunakan dalam pembuatan roti. Lain halnya dengan ragi kering jauh lebih praktis dalam penggunaannya. Aroma yang dihasilkannya pun tidak terlalu cocok karena memang khusus untuk pembuatan roti. Dalam penggunaannya, hampir semua orang lebih suka menggunakannya karena tinggal dicampur dengan adonan. Ragi roti bisa diperoleh dipasar tradisional, swalayan, ataupun toko bahan kue. Ragi kering yang terbentuk butiran dan bubuk ini bisa membuat adonan roti menjadi mengembang, empuk dan mulur.  Untuk pemakaiannya, ragi kering bentuknya butiran harus dicampur dengan air hangat dan gula agar terbentuk 'adonan biang' sebelum dicampur dengan adonan tepung. Sedangkan ragi kering yang bentuknya butiran halus atau ragi instan, cara pemakaiannya bisa langsung dicampur dalam adonan tepung, gula, air dan bahan lainnya.&lt;br /&gt;2. Ragi Padat. Sedangkan ragi padat yang bentuknya bulat pipih, sering digunakan dalam pembuatan tapai sehingga banyak orang menyebutnya dengan ragi tapai. Ragi ini dibuat dari tepung beras, bawang putih dan kayu manis yang diaduk hingga halus, lalu disimpan dalam tempat yang gelap selama beberapa hari hingga terjadi proses fermentasi. Setelah tumbuh jamur yang berwarna putih susu kemudian ragi ini dijemur kembali hingga benar - benar kering. Ragi padat memiliki aroma yang sangat tajam dengan aroma alkohol yang sangat khas. Ragi tapai banyak dijumpai dipasar tradisional bagian rempah atau bumbu dapur. Ragi padat, selain dimanfaatkan untuk fermentasi pembuatan tapai terkadang juga untuk mengempukan ikan atau membuat pindang bandeng. Dalam penggunaannya, ragi padat harus dihaluskan sebelum ditaburkan dalam bahan lainnya. Ragi padat, selain dimanfaatkan untuk fermentasi pembuatan tapai terkadang juga untuk mengempukan ikan atau membuat pindang bandeng. Dalam penggunaannya, ragi padat harus dihaluskan sebelum ditaburkan dalam bahan lainnya.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan aktivitas yeast yang sangat reaktif dan beragam terhadap bahan makanan, maka dapat dikatakan yeast mempunyai potensi yang besar selain sebagai agen fermentasi, dapat memberi perubahan yang sangat signifikan baik dalam rasa, aroma maupun tekstur dari pangan tersebut. Seperti kita lihat selain pada pembuatan roti dan minuman yang beraroma alkohol, atau dari sayur dan buah fermentasi secara umum pemanfaatan yeast dalam mengembangkan produk pangan dapat diketahui seperti di bawah ini :&lt;br /&gt; a. Susu dan produk olahannya&lt;br /&gt;Produk Yeast spesies&lt;br /&gt;Susu segar, pasteurisasi  Rhodotorula spp., Candida famata, C. diffluens, C. curvata, Kluyveromyces marxianus, Cryptococcus flavus.&lt;br /&gt;Mentega  Rhodotorula rubra, R. glutinis, Candida famata, C. diffluens, C. lipolytica, Cryptococcus laurentii.&lt;br /&gt;Yogurt  Kluyveromyces marxianus, Candida famata, &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Debaryomyces hansenii, Saccharomyces cerevisiae,&lt;br /&gt;Hansenula anomala. &lt;br /&gt;Keju Cottage dan segar  Kluyveromyces marxianus, C. lipolytica, Candida famata &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;dan Candida yang lain, Debaryomyces hansenii,&lt;br /&gt;Cryptococcus laurentii, Sporobolmyces roseus. &lt;br /&gt;Keju lunak dimatangkan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;dengan jamur (mold)  Kluyveromyces marxianus, Candida famata, Candida &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;lipolytica, Pichia membranafaciens, P. fermentans,&lt;br /&gt;Debaryomyces hansenii, Saccharomyces cerevisiae,&lt;br /&gt;Zigosaccharomyces rouxii. &lt;br /&gt;b. Daging dan produk olahannya&lt;br /&gt;Produk Yeast spesies&lt;br /&gt;Daging segar merah dan unggas  Candida spp., Rhodotorula spp., Debaryomyces spp., Trichosporon (jarang diteliti). &lt;br /&gt;Daging Domba beku Cryptococcus laurentii, Candida zeylanoides, &lt;br /&gt;Trichosporon pullulans.&lt;br /&gt;Daging kalkun beku Cryptococcus laurentii, Candida zeylanoides.&lt;br /&gt;Daging potong atau cincang Candida lipolytica, C. zeylanoides, C. lambica, C. sake, Cryptococcus laurentii, Debaryomyces hansenii, Pichia membranaefaciens.&lt;br /&gt;Daging yang diolah (sosis, ham) Debaryomyces hansenii, Candida spp., Rhodotorula spp.&lt;br /&gt;Sumber: http://hasanah619.wordpress.com/2009/10/27/morfologi-kapang-dan-khamir/&lt;br /&gt;B. Bahan Pengembang Kimiawi&lt;br /&gt;Zat pengembang adonan merupakan zat kimia yang akan terurai dengan menghasilkan gas dalam adonan roti. Pada saat kue atau roti dipanaskan dalam oven, zat ini akan menghasilkan gelembung gas karbon dioksida. Gelembung gas karbondioksida bersama udara dan uap air membuat kue atau roti mengembang dengan struktur berpori-pori.&lt;br /&gt;Contoh zat pengembang adalah soda kue atau Natrium bikarbonat (NaHCO3), garam asam K–Tartrat, Na—Aluminium sulfat, glukanolakton, serta garam fosfat. Tepung soda kue merupakan bahan pengembang adonan yang umum digunakan. Bahan ini terdiri dari NaHCO3 dan tepung.  Soda kue terdiri dari dua macam yaitu soda kue aktifitas cepat dan aktifitas lambat. Perbedaannya terletak pada kemudahan pelarutan komponen asam atau pembentukan asam dalam air. Soda kue aktifitas cepat terbuat dari dua macam asam yaitu asam tartrat dan garam asam K-tartrat yang mudah larut dalam air dingin, karena itu kecepatan pelepasan CO2 lebih cepat.&lt;br /&gt;Reaksi soda kue aktifitas cepat adalah:&lt;br /&gt;H2O + 2 NaHCO3 + H2C4N4O6 ——————&gt;  Na2C4H4O6 + 2CO2 + 2H2O&lt;br /&gt;Asam tartrat                                                               Natrium tartrat&lt;br /&gt;Soda kue aktifitas lambat mengandung Ca(HPO4) 2. H2O dan Na2SO4. Al2(SO4)3. Garam Ca(HPO4)2H2O tidak begitu larut dalam air dingin sehingga kecepatan pelepasan CO2 juga rendah (Rezza.2009). &lt;br /&gt;Baik baking soda ataupun baking powder adalah bahan pengembang yang ditambahkan ke dalam adonan kue sebelum dimasak untuk menghasilkan gas karbon dioksida yang dapat mengembangkan kue. Baking powder mengandung baking soda, tetapi kedua bahan tersebut digunakan dalam kondisi yang berbeda.&lt;br /&gt;Mungkin banyak yang bingung antara baking powder dengan soda kue. Dan kadang ada yang bilang keduanya sama-sama antara fungsi dan kegunaannya. Akan tetapi menurut kami jelas sangat sangat berbeda. Hal ini terlihat dari fisikya jika kita membeli bahan kue tersebut. Perbedaan yang mencolok jika kita raba (baking powder) halus seperti tepung terigu, sedangkan (soda kue ) agak sedikit ada butiran kecil. Dari bau yang dihasilkan juga kentara apabila kedua bahan tersebut di gunakan untuk bahan kue. Jika terlalu banyak baking powder maka kue akan mekar sekali, dan apabila terlalu banyak soda kue bau yang dihasilkan sedikit agak menyengat, dan rasanya (soda kue) kebanyakan akan terasa sedikit pahit.&lt;br /&gt;1. Baking powder&lt;br /&gt;Baking powder  adalah bahan pengembang (leavening agent) yang terdiri dari campuran  sodium  bicarbonat,  satu  atau  lebih bahan pengembang lainnya seperti sodium aluminium fosfat atau monocalcium fosfat serta bahan yang  bersifat  inert  seperti  pati. Bahan    yang bersifat inert ini ditambahkan pada campuran tersebut untuk menjaga komponen- komponen campuran tersebut tidak terpisah secara fisik serta meminimalkan  terjadinya  reaksi yang premature. Proses atau sumber bahan  yang  digunakan  untuk  menghasilkan  baking powder dari segi kehalalannya aman. Baking powder tidak hanya terdiri dari sodium karbonat saja, tetapi di dalamnya terdapat juga bahan pengasam (krim tartar) dan bahan pengering (biasanya pati) (Anonim. 2009).&lt;br /&gt;Kebanyakan komersial bubuk baking powder tersedia terdiri dari komponen basa (biasanya baking soda), satu atau lebih asam garam, dan inert pati (tepung jagung dalam banyak kasus, meskipun tepung kentang juga dapat digunakan). Baking soda adalah sumber karbon dioksida, dan reaksi asam-basa lebih akurat digambarkan sebagai dekomposisi diaktifkan asam soda kue, yang dapat secara umum digambarkan sebagai &lt;br /&gt;NaHCO3 + H+ → Na+ + CO2 + H2O &lt;br /&gt;Inert pati yang memiliki beberapa fungsi dalam baking powder. Terutama digunakan untuk menyerap kelembaban, dan dengan demikian memperpanjang hidup dengan menjaga rak serbuk-serbuk alkali dan asam komponen dari reaksi prematur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis baking powder yang tersedia antara lain:&lt;br /&gt;a. single-acting baking powder. Single-acting baking powder akan bersifat aktif jika dicampur dengan air dan bereaksi hanya dalam satu tahap saja, Single-acting baking powder yang biasa disebut baking powder saja diaktifkan oleh cairan adonan, jadi adonan dengan bahan ini harus segera dipanggang sesudah pengadukan/pencampuran/mixing.&lt;br /&gt;b. Double-acting powders atau biasa disingkat BPDA (baking powder double action) bereaksi dalam dua tahap dan dapat bertahan beberapa saat (menunggu giliran) sebelum dipanggang. Reaksi pertama adalah ketika baking powder ditambahkan ke adonan dan menjadi terbasahi. Asam bereaksi dengan soda menghasilkan gas karbondioksida. Reaksi ke dua terjadi saat adonan diletakkan di dalam oven. Sel-sel gas mengembang dan menyebabkan adonan naik. Karena reaksi yang terjadi ada 2 tahap itulah adonan bisa mengantri di luar oven selama kurang lebih 15-20 menit tanpa kehilangan daya kembangnya. &lt;br /&gt;2. Baking Soda&lt;br /&gt;Baking soda bernama kimia natrium/sodium bicarbonate (NaHCO3). Ketika baking soda dicampur dengan air atau bahan yang bersifat asam (misal: yogurt, coklat, madu, buttermilk, dll), maka akan terjadi reaksi kimia yang menghasilkan gelembung gas karbon dioksida yang bertambah banyak ketika kue dioven sehingga pada akhirnya kue mengembang dengan sangat baik karena membuat jutaan gelembung gas karbon dioksida yang masing-masing berukuran kecil. Gekembung-gelembung gas tersebut dilepas dalam adonan yang masih basah yang kemudian memuai karena panas oven dan setelah adonan mengeras gelembung-gelembung itu terperangkap ditempat masing-masing. Akibatnya sesuai dengan harapan kita mendapatkan cake yang seperti spons yang ringan (Anonim 2009).&lt;br /&gt; Baking soda adalah basa, dia menimbulkan efek rasa sedikit pahit kecuali dipertemukan dengan suasana asam dari bahan lain, seperti buttermilk. Baking soda biasanya dipakai dalam resep kue kering. Untuk kue kering, soda kue memberikan efek rasa kering, rasa garing dan renyah pada cookies/kue kering.&lt;br /&gt; Apakah baking soda bisa diganti dengan baking powder (atau sebaliknya)?&lt;br /&gt;Jika tidak tersedia baking soda, maka baking powder bisa digunakan sebagai penggantinya, akan tetapi kita akan memerlukan baking powder dalam jumlah yang lebih banyak dan hal tersebut bisa mempengaruhi rasa. Sebaliknya, jika dalam resep makanan di sebutkan menggunakan baking powder, maka tidak dapat diganti dengan baking soda. Kenapa demikian? karena pada baking soda tidak mengandung bahan pengasam sehingga jika dipaksakan, maka kue yang kita buat tidak akan mengembang. Namun jangan terlalu khawatir, kita bisa membuat baking powder sendiri jika kita mempunyai baking soda dan krim tartar. Caranya cukup sederhana, yaitu dengan mencampurkan 2 bagian krim tartar dengan 1 bagian baking soda (Anonim. 2009).&lt;br /&gt; Terkadang kita juga mendapati resep makanan yang menggunakan baking soda maupun baking powder, sehingga  kalo resepnya memakai baking powder dan baking soda maka yang lebih bekerja sebagai bahan pengembang adalah baking powdernya. Baking soda ditambahkan untuk menetralkan asam dalam resep dan menambah lembut dan juga sedikit mengembangkan. Dan dipastikan baking powder atau baking soda ini homogen dalam adonan, dengan cara diayak atau dicampurkan dengan bahan kering yang lain. Biasanya diayak bersama-sama dengan terigu. Terlalu banyak menambahkan baking powder menimbulkan rasa pahit, kue mengembang dengan cepat tapi kemudian kempes. Gelembung udara dalam adonan membesar dan pecah, mengakibatkan kue kempes. Akan tetapi  Bila baking powder terlalu sedikit, volume kue kecil, tidak mengembang dan padat).&lt;br /&gt;3. Cream of Tartar&lt;br /&gt;Cream of tartar dalah bahan yang digunakan untuk mengatur keasaman dalam bahan pengembang Cream of tartar merupakan garam potassium (kalium) dari asam tartaric, yang berbentuk kristal atau powder,  sehingga memiliki nama kimia sebagai potassium tartaric acid,  atau potassium hydrogen tartrate dan potassium bitartrate. Berfungsi untuk mengeluarkan gas karbon dioksida sehingga menghasilkan volume roti yang baik. Selain itu memiliki fungsi untuk mengatur “taste” pada icing sugar, digunakan pada produk-produk baking,  crackers.  Dari segi kehalalannya,  bahan ini dapat berasal dari pembuatan minuman beralkohol yang kemudian direaksikan dengan potassium. Membantu mengeluarkan gas di dalam adonan cake sehingga cake lebih mengembang. biasanya digunakan saat mengocok putih telur agar lebih kaku. kandunganya merupakan garam potassium (kalium) dan asam tartaric.&lt;br /&gt;4. VX&lt;br /&gt;Bahan tambahan pangan lain yang digunakan dalam pembuatan kue adalah VX. Kandungan atau komposisi VX adalah sodium bicarbonat, sodium acid pirofosfat dan bahan pengisi seperti pati jagung. Bentuknya berbeda dengan TBM, SP  dan  Ovalet  yaitu  berbentuk  serbuk putih. Jika ditinjau dari komposisi  yang  dikandungnya  maka  VX  berfungsi sebagai pengembang bukan sebagai  pelembut  sebagaimana  klaim  yang  ada pada   kemasannya. Jika ditinjau dari komposisi bahan yang dikandungnya, maka dari segi kehalalannya produk ini aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Penggunaan Jenis Pengembang dalam Jajanan di Sekolah Dasar&lt;br /&gt;Nama Sekolah Dasar Jenis Jajanan/Kue Jenis Pengembang&lt;br /&gt;SD Negeri 1 dan 2 Malengkeri 1. Donat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Panada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Crepes&lt;br /&gt;4. Onde-Onde Jawa 1. Ragi Instan(Fermipan)&lt;br /&gt;2. Ragi Instan(Fermipan)&lt;br /&gt;3. Baking Powder&lt;br /&gt;4. Cream Of Tartar&lt;br /&gt;SD Negeri 1 dan 2 Parangtambung 1. Berbagai Jenis Roti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagea&lt;br /&gt;3. Bolu mangkok&lt;br /&gt;4. Bolu Gula Merah&lt;br /&gt;5. Bakpia 1. Ragi Instan(Fermipan)&lt;br /&gt;2. Baking Soda&lt;br /&gt;3. Baking powder&lt;br /&gt;4. Cream of Tartar&lt;br /&gt;5. Baking Soda&lt;br /&gt;SD INPRES Hartako 1. Panada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Donat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bakwan 1. Ragi instan(Fermipan)&lt;br /&gt;2. Ragi instan(Fermipan)&lt;br /&gt;3. Ragi Instan(Fermipan)&lt;br /&gt;4. Cream of Tartar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari data di atas terlihat bahwa para produsen dari jajanan yang ada di tiga sekolah dasar pemakaian pengembang untuk masing-masing kue yang dibuat sudah benar, produsen sudah tau membedakan kue mana yang seharusnya memakai ragi, baking powder, baking soda dan cream of tartar atau nama yang lazim untuk masyarakat awam di Makassar yaitu potasa dan kita sebagai warga kimia mengenalnya sebagai potassium tartaric acid,  atau potassium hydrogen tartrate dan potassium bitartrate. Walaupun demikian, untuk mengorek informasi dari para produsen tersebut tidaklah muda. Mereka seakan-akan takut memberi komentar/keterangan mengenai bahan pengembang yang mereka gunakan, ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat sebagian mereka menganggap bahan pengembang juga mengandung zat-zat yang membahayakan seperti misalnya formalin yang terkadang ditambahkan dalam pembuatan makanan, padahal bahan-bahan ini bukanlah zat beracun kecuali dalam mie instan, seperti yang kita ketahui bahan pengembang merupakan salah satu contoh dari zat aditif yang sengaja ditambahkan pada waktu pengolahan makanan. Dalam mie instan digunakan bahan pengembang natrium tripolifosfat. Dengan digunakannya bahan pengembang yang mengandung natrium ini maka akan menambah kadar natrium yang terdapat dalam mie instan. Natrium yang terkandung dalam mie instan berasal dari garam (NaCl) dan bahan pengembangnya. Natrium tripolifosfat, mencapai 1% dari bobot total mie instan per takaran saji. Natrium memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita maag dan hipertensi. &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt; Dari hasil pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:&lt;br /&gt;1. Prinsip dari bahan pengembang seperti ragi, baking soda, baking powder, cream of tartar, dan VX yang cukup lazim digunakan oleh masyarakat dalam membuat kue seperti roti, cokies atau cake adalah adanya gas karbondioksida yang terperangkap didalam gluten (komponen protein yang ada dalam tepung terigu) sehingga adonan menjadi mengembang karena gas yang dihasilkan semakin lama akan semakin banyak. &lt;br /&gt;2. Pengembang pada makanan dibedakan menjadi dua macam yaitu&lt;br /&gt;a. Bahan pengembang mikroorganisme misalnya ragi roti, ragi tape, dan ragi tempe.&lt;br /&gt;b. Bahan pengembang kimiawi misalnya baking soda, baking powder yang terbagi menjadi dua yaitu single-acting baking powder dan Double-acting powders, cream of tartar, dan VX.&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Untuk para pembaca yang telah membaca makalah kami diharapkan nantinya dapat menggunakan bahan pengembang dengan benar sesuai dengan bahan-bahan yang terkandung dalam adonan agar kue yang dihasilkan sesuai yang diinginkan tidak timbul rasa pahit ataupun kue yang volumenya kecil dan padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2008. Waspadai Bahan Pembuat Kue. Online (Http://forumhalal.wordpress.com/2008/08/01/waspadai-bahan-pembuat-kue/, diakses tanggal 17 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Apa Itu Ragi?. Online (http://translate.google.co.id/translate?hl=id&amp;sl=en&amp;u=http://www.yeastgenome.org/VL-what are yeast.html&amp;ei=kqYnS8SHLs2L, diakses tanggal 17 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Lebih Jauh Lagi tentang Ragi. Online (http://www.femina-online.com/kuliner/tips_detail.asp?id=16&amp;views=28, diakses tanggal 17 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Pengetahuan Bahan Makanan. Online (http://phitry-kawaii.blogspot.com/2009/11/pengetahuan-bahan-makanan.html, diakses tanggal 17 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasanah. 2009. Morfolgi Kapang dan Khamir. Online (http://hasanah619.wordpress.com/2009/10/27/morfologi-kapang-dan-khamir/, diakses tanggal 21 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmi,  Miftahul.  2009.  Ragi  Tidak  Sama  dengan  Khamir.  Online (http://milmi.staff.ugm.ac.id/?p=117, diakses tanggal 19 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maharani, Rezza Dwi. 2009. Zat Pengembang Adonan. Online (http://cha004.wordpress.com/2009/11/17/zat-pengembang-adonan/, diakses tanggal 21 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natalie. 2009. Baking Soda VS Baking Powder. Online (http://n4tali3.multiply.com/journal/item/9/BAKING_SODA_VS_BAKING_POWDER, diakses tanggal 23 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winarno. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: UI-Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR BACAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Bahan Pengembang. Online(http://pagiph.tripod.com/artikel5.   &lt;br /&gt;Htm, diakses tanggal 17 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim.  2009.  Mengenal   Ragi  dan  Fungsinya.  Online (http://www.lautan&lt;br /&gt;Indonesia.com/serbarasa/artikel/in-topic/mengenal-ragi-dan-fungsinya, diakses tanggal 21 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Perbedaan Baking Powder dengan Soda Kue. Online (http://www.kuebasah.com/perbedaan-baking-powder-dengan-soda-kue.html, diakses tanggal 23 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Tentang Ragi dan Cake Emulsifier. Online (http://www.halalguide.info/2009/03/06/tentang-ragi-dan-cake-emulsifier/, diakses tanggal 20 Desember 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarsari. 2009. Beda antara Baking Powder dan Baking Soda. Online(http://sekarsari.multiply.com/journal/item/20/Beda_antara_baking_powder_baking_soda, diakses tanggal 23 Desember 2009).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-4971862396693047407?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/4971862396693047407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=4971862396693047407' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/4971862396693047407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/4971862396693047407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2010/01/makalah-kimia-pangan.html' title='makalah kimia pangan'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-2685511669115469816</id><published>2009-05-02T05:54:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T05:57:36.400-07:00</updated><title type='text'>refraktometer</title><content type='html'>A. JUDUL PERCOBAAN&lt;br /&gt;Refraktometer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TUJUAN PERCOBAAN&lt;br /&gt; Adapun tujuan yang ingin dicapau setelah melakukan percobaan ini adalah mengetahui atau mengukur indeks bias suatu senyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. LANDASAN TEORI&lt;br /&gt; Kebanyakan obyek yang dapat kita lihat, tampak karena obyek itu memantulkan cahaya ke mata kita. Pada pantulan yang paling umum terjadi, cahaya memantul ke semua arah, disebut pantulan baur. Sebuah buku di atas meja yang disinari oleh hanya sebuah sumber titik cahaya dapat dilihat dari segenap penjuru ruangan. Supaya lebih tegas misalkan suatu zat adalah udara dan yang di bawah air. Tempuhan cahaya dilukiskan sebagai seberkas sinar akan terlihat jelas jika ada asap atau debu di udara, dan jika air itu mengandung sedikit bahan celup fluoresen. Sebagian dari cahaya yang dating akan dipantulkan oleh permukaan tersebut dan sebagian lagi akan terus ke dalam air atau membias. Arah sinar datang, sinar pantul dan sibar bias ini diperinci atas dasar besar sudut yang dibentuknya dengan garis yang tegak lurus pada permukaan di titik datang. Untuk keperluan ini cukuplah kita melukiskan satu sinar saja, sekalipun cahaya yang terjadi dari satu sinar saja mustahil ada atau hanya merupakan abstraksi geometrikal saja (Sears. 1994: 901-902).&lt;br /&gt; Sistematika dalam menganalisa secara kualitatif suatu senyawa organik meliputi beberapa langkah pengerjaan, antara lain:&lt;br /&gt;a. Melihat sifat fisisnya.&lt;br /&gt;b. Analisis elementer.&lt;br /&gt;c. Reaksi identifikasi gugus fungsional.&lt;br /&gt;d. Analisis kromatografi.&lt;br /&gt; Dengan mengumpulkan data-data mengenai sifat fisis dari suatu senyawa lebih mudah untuk melakukan analisa senyawa tersebut, karena dapat menggolongkannya ke dalam golongan senyawa tertentu yang sesuai sifat-sifatnya. Sifat fisis dapat diperiksa antara lain, warna, bau, kelarutan, kekentalan, titik leleh, titik didih, indeks bias dan berat jenis. Kecepatan merambat gelombang cahaya tidak sama dalam semua media, oleh karena itu apabila suatu berkas cahaya akan dibiaskan, sudut datang tidak sama dengan sudut bias. Besar sudut datang dengan sudut bias bergantung pada berat jenis, temperatur, dan macam media yang dilewati serta panjang gelombang cahaya datang. Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias disebut indeks bias senyawa tersebut.&lt;br /&gt;Nd = sinus sudut dating / sinus sudut bias&lt;br /&gt;      = sin I / sin p&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat yang digunakan untuk memeriksa indeks bias suatu senyawa disebut refraktometer (Tim Dosen Kimia Analisis Instrumen. 2008: 27-28).&lt;br /&gt; Misalkan seberkas cahaya monokhromatik yang bergerak dalam suatu vakum (ruang hampa) membentuk sudut datang dengan garis normal pada permukaan zat a, dan misalkan a, adalah sudut-bias dalam zat tersebut. Maka konstanta dalam hokum snell disebut indeks bias zat a dan ditulis na. Indeks bias bergantung bukan hanya pada macam zat tetapi juga pada panjang gelombang cahaya. Bila panjang gelombang tidak disebutkan, biasanya indeks bias yang diambil ialah indeks bias cahaya kuning lampu natrium yang panjang gelombang gelombangnya 589 nm (Sears. 1994: 911). &lt;br /&gt; Prisma banyak macam bentuknya, dan bagaimanapun bentuknya dalam segala bentukannya yang banyak merupakan alat optik yang sangat berguna. Hanya lensa yang berada di atasnya dari segi kegunaannnya. Perihal prisma yang memantul sempurna telah dibicarakan secara singkat. Sekarang akan kita bicarakan deviasi (penyimpangan) dan dispersi (penguraian) cahaya yang disebabkannya (Sears. 1994: 917).&lt;br /&gt; Standar ini berisi antara lain prosedur penuntun indeks bias (n) relatif mineral transparan dalam bentuk butiran atau pecahan mineral transparan berukuran (+/-) 0,6 mm atau berat kira-kira 0,01 g dalam medium rendam yang diketahui indeks biasnya dengan menggunakan mikroskop dan iluminasi miring. Prosedur pengujian menggunakan mikroskop stereoskop dan mikroskop polarisasi sinar tembus atau berdasarkan posisi relative bayangan gelap pada butiran mineral dan cairan (Badan Standarisasi Nasional. 2008: 1).&lt;br /&gt; Kecepatan cahaya dalam sebuah vakum adalah 299.792.458 meter per detik (m/s) atau 1.079.252.848,8 kilometer per jam (km/h) atau l86.282,4 mil per detik (mil/s) atau 670.616.629,38 mil per jam (mil/h). Kecepatan cahay ditandai dengan huruf c, yang berasal dari bahasa Latin celeritas yang berarti “kecepatan”, dan juga dikenal sebagai konstanta Einstein (Anonim. 2008: 1).&lt;br /&gt; Beberapa materi kristal menunjukkan efek refraksi ganda, jika kristal tersebut mampu menguraikan berkas cahaya yang lewat padanya, menjadi dua bagian dengan tenaga yang setara serta sudut uraian yang kecil. Kedua bagian sinar hasil uraian ini Nampak sebagai cahaya terpolarisasi bidang yang saling tegak lurus satu sama lainnya. Indeks refraksi dan juga absorpsivitas suatu medium untuk komponen putar kiri dan putar kanannya dapat mempunyai nilai yang berbeda (Khopkar. 2007: 292).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. ALAT DAN BAHAN&lt;br /&gt;1. Alat yang digunakan adalah:&lt;br /&gt;a. Refraktometer&lt;br /&gt;b. Pipet tetes&lt;br /&gt;2. Bahan yang digunakan adalah: &lt;br /&gt;a. Glukosa&lt;br /&gt;b. Fruktosa&lt;br /&gt;c. Sukrosa&lt;br /&gt;d. Galaktosa&lt;br /&gt;e. Aquades&lt;br /&gt;f. Tissue&lt;br /&gt;g. Cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PROSEDUR KERJA&lt;br /&gt;1. Membersihkan permukaan prisma refraktometer dengan aquades dan tissue.&lt;br /&gt;2. Meneteskan senyawa cair pada permukaan prisma.&lt;br /&gt;3. Menutupnya dan membiarkan berkas cahaya memasuki dan melewati senyawa cair.&lt;br /&gt;4. Mengatur pisma agar warna cahaya pada layar dalam alat tersebut menjadi dua warna dengan batas yang jelas.&lt;br /&gt;5. Menggeser tanda batas dengan menggunakan knop pengatur pada refraktometer sampai memotong titik perpotongan dua garis diagonal yang saling berpotongan.&lt;br /&gt;6. Mengamati dan membaca skala indeks bias yang terlihat pada refraktometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. HASIL PENGAMATAN&lt;br /&gt;Indeks bias sampel dengan suhu 30 oC&lt;br /&gt;1. Glukosa        : 2,3%&lt;br /&gt;2. Sukrosa    : 1,4%  &lt;br /&gt;3. Fruktosa : 5%&lt;br /&gt;4. Galaktosa  :  4,9%   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2008. Kecepatan Cahaya. Online (http://www.wikipedia.com, diakses 29 Oktober 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Standarisasi Nasional. 2008. Penentuan Indeks Bias Relatif Mineral dalam Bentuk Butiran dengan Teknik Uji Bayangan. Online (http://www.google.co.id, diakses 29 Oktober 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-PRESS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Dosen Kimia Analisis Instrumen. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Analisis Instrumen. Makassar: Laboratorium Kimia FMIPA UNM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zemansky, Sears. 1994. Fisika untuk Universitas 3 Optika. Jakarta: Bina cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;1. Kesimpulan&lt;br /&gt; Berdasarkan hasil percobaan, pembahasan dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:&lt;br /&gt;a. Setiap larutan atau suatu senyawa memiliki indeks bias yang berbeda.&lt;br /&gt;b. Suhu sangat berpengaruh pada penentuan indeks, di mana jika suhu berubah-ubah, maka indeks bias menjadi berubah-ubah pula atau tidak konstan. Selain itu, konsentrasi juga sangat berperan terhadap penentuan indeks bias suatu senyawa.&lt;br /&gt;c. Indeks bias larutan pada suhu 30 oC adalah sukrosa = 0,754; glukosa = 0,763; fruktosa = 0,790; dan galaktosa = 0,789.&lt;br /&gt;2. Saran&lt;br /&gt;Diharapkan kepada praktikan selanjutnya agar berhati-hati dalam melakukan praktikum, terutama pada saat memegang refraktometer, karena jika larutan pada permukaan prisma tertumpah atau menyentuh bagian refraktometer yang lain, maka akan mengganggu pada saat pembacaan skala pada refraktometer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-2685511669115469816?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/2685511669115469816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=2685511669115469816' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/2685511669115469816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/2685511669115469816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2009/05/refraktometer.html' title='refraktometer'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-4866631570174748122</id><published>2009-05-02T05:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T05:51:21.559-07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Intelektual</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini banyak anak-anak yang mengikuti pendidikan di Taman Kanak-Kanak. Pada hari-hari pertama masuk sekolah anak-anak selalu menanyakan pada diri sendiri apa yang dapat diperbuat di sekolah, pelajaran apa yang diinginkan dan sebagainya. Demikian juga bagi guru, apa yang dapat diajarkan kepada anak-anak di bawah usia 6 tahun tersebut. Namun setelah usianya lebih dari 6 tahun anak-anak dapat mengernbangkan diri sebab kemampuannya meningkat, mereka dapat berpikir secara konseptual, memecahkan masalah, mengingat, dan mempergunakan bahasa dengan baik.&lt;br /&gt;Intelegensi mengandung unsur-unsur yang sama dengan yang dimaksudkan dalam istilah intelektual, yang menggambarkan kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak. Berhubungan dengan masalah kemampuan itu, para ahli psikologi telah mengembangkan berbagai alat ukur (tes intelegensi) untuk menyatakan tingkat kemampuan berpikir dan intelegensi seseorang. Salah satu tes intelegensi yang terekenal adalah tes yang dikembangkan oleh Alfred Binet (1857-1911). Binet adalah ahli ilmu jiwa (psycholog) Perancis, yang merintis mengembangkan tes intelegensi yang sedikit umum. Tes Binet ini disempurnakan oleh Theodore Simon, sehingga tes tersebut terkenal dengan sebutan Tes Binet Simon. &lt;br /&gt;Pada usia remaja, IQ dihitung dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan yang terdiri dari berbagai soal (hitungan, kata-kata, gambar-gambar, dan semacamnya) dan menghitung banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab dengan benar kemudian membandingkan dengan daftar (yang dibuat berdasarkan penelitian terpercaya). Untuk anak-anak, cara menghitung IQ adalah dengan menyuruh anak untuk melekukan pekerjaan tertentu dan menjawab pertanyaan tertentu (misalnya menghitung sampai 10 atau 100, menyebut nama-nama hari atau bulan, membuka piintu dan menutupnya kembali, dan lain-lain). &lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka permasalahan pokok yang menjadi fokus dalam makalah ini antara lain:&lt;br /&gt;1. Bagaimana hubungan antara intelektual dengan tingkah laku?&lt;br /&gt;2. Seperti apakah karakteristik perkembangan intelektual remaja?&lt;br /&gt;3. Aspek-aspek apa sajakah yang terdapat dalam perkembangan intelektual?&lt;br /&gt;4. Bagaimana tahap-tahap perkembangan intelektual?&lt;br /&gt;5. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan intelektual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:&lt;br /&gt;1. Mengetahui hubungan antara intelektuak dengan tingkah laku.&lt;br /&gt;2. Mengetahui karakteristik perkembangan intelektual remaja.&lt;br /&gt;3. Mengetahui asoek-aspek apa saja yang terdapat dalam perkembangan intelektual.&lt;br /&gt;4. Mengetahui tahap-tahap perkembangan intelektual.&lt;br /&gt;5. Mengetahui factor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan intelektual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Manfaat Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat dari penulisa makalah ini adalah sebagai bahan informasi bagi mahasiswa dan penulis tentang perkembangan intelektual manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Hubungan antara Intelektual dan Tingkah Laku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang pada kejadian dan peristiwa yang tidak konkrit, seperti pilihan pekerjaan, corak hidup bermasyarakat, pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh di depannya, dan lain-lain. Bagi remaja, corak perilaku pribadinya di hari depan dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka dapat memikirkan prihal itu sendiri. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengalah ke penilaian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bahkan sering terlihat usaha seseorang untuk menyembunyikan atau merahasiakannya. &lt;br /&gt;Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikapkritis terhadap situasi dan orang tua. Setiap pendapat orang tua dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap kritis ini juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara, adat istiadat yang berlaku di lingkungan keluarga sering terjadi adanya pertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada perilakunya. &lt;br /&gt;Egosentrisme menyebabkan kekakuan para remaja dalam berpikir dan bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah banyak berhubungan dengan pertumbuhan fisik yang dirasakan mencekam dirinya, karena menyangka orang lain berpikiran sama dan ikut tidak puas dengan penampilannya. Hal ini menimbulkan perasaan seolah-olah selalu diamati orang lain, perasaan malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibat dari hal ini akan terlihat pada tingkah laku yang kaku. &lt;br /&gt;Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka egosentrisme makin berkurang. Pada akhir masa remaja, pengaruh egosentrisme sudah sedemikian kecilnya, sehingga remaja sudah dapat berpikir abstrak dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Karakteristik Perkembangan Intelektual Remaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intelegensi pada masa remaja tidak mudah diukur, karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Pada umumnya umur tiga sampai empat tahun pertama menunjukkan perkembangan kemampuan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. Pada awal masa remaja, kira-kira pada umur 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut masa operasi formal (berpikir abstrak). Pada masa ini remaja telah berpikir dengan mempertimbangkan hal yang “mungkin“ di samping hal yang “nyata” (Gleitman, 1986).&lt;br /&gt;Berpikir operasional-formal memiliki dua sifat yang penting, yaitu:&lt;br /&gt;1. Sifat deduktif – hipotesis&lt;br /&gt;Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan berpikir teoritik. Ia menganalisis masalah dan mengajukan cara penyelesaian hipotesis. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berpikir induktif di samping deduktif. Oleh sebab itu, sifat berpikir ini sebenarnya mencakup deduktif – induktif – hipotesis.&lt;br /&gt;2. Berpikir operasional juga berpikir kombinatoris&lt;br /&gt;Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis. Anak berpikir operasional formal terlebih dahulu secara teoritik membuat matrik mengenai macam-macam kombinasi yang mungkin, kemudian secara sistematik mencoba mengisi sel matriks tersebut secara empiric. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Aspek-aspek Perkembangan Intelektual&lt;br /&gt;Ada beberapa aspek dalam perekemabangan intelektual pada usia kanak-kanak, yaitu:&lt;br /&gt;1. Perkembangan kognitif  tahap operasi konkret Piaget &lt;br /&gt;Menurut Piaget, anak usia antara 5.- 7 tahun telah memasuki tahap operasi konkret (concrete operations), yaitu pada waktu anak dapat berpikir secara logis mengenai segala sesuatu. Pada umumnya mereka pada tahap ini berusia sampai kira-kira 11 tahun.&lt;br /&gt;2. Berpikir opernsional &lt;br /&gt;Menurut Piaget pada tahap ketiga, anak-anak mampn berpikir operasional.  Mereka dapat menggunakan berbagai simbol, melakukan berbagai bentuk operasional, yaitu kemampuan aktivitas mental sebagai kebalikan dari aktivitas jasmani yang merupakan dasar untuk mulai berpikir dalam aktivitasnya. Walaupun anak-anak yang praoperasional dapat membuat pernyataan mental tentang obyek dan kejadian-kejadian sekelipun tidak dapat dalam seketika, cara belajar mereka masih terikat pada pengalaman fisik. Anak-anak yang ada pada tahap operasional konkret lebih baik daripada anak-anak yang praoperasioial dalam mengadakan klasifikasi, bekerja dengan angka-angka. mengetahui konsep-konsep waktu dan ruang, dan dapat membedakan antara kenyataan dengan hal-hal yang bersifat fantasi. &lt;br /&gt;Mereka sadar bahwa pada umumnya berbagai operasi fisik dapat diganti. Peningkatan kemapanan mereka untuk mengeni terhadap orang lain dapat mendorong untuk berkomunikasi lebih efektif dan dapat berpikir lebih fleksibel.&lt;br /&gt;Akan tetapi anak-anak usia sekolah lebih dapat berpikir secara logik daripada waktu mereka masih muda, cara berpikir mereka’masih terikat pada kenyataan atau kejadian pada waktu sekarang, artinya terikat pada hal-hal yang sedang dihadapi saja.&lt;br /&gt;Menurut Piaget kordisi semacam ini berlaku jampai pada tahap berbagai operasi formal, di mana biasanya sampai pada tahap remaja, anak-anak mampu berpikir secara abstrak, tes hipotesis, dan mengerti tentang kemungkinan (probabilitas).&lt;br /&gt;3. Konservasi &lt;br /&gt;Konservasi adalah salah satu kemampuan yang penting yang dapat mengembangkan berbagai operasi pada tahap konkret. Dengan kata lain konservasi adalah kemampuan untuk mengenal atau mengetahui bahwa dua bilangan yang sama akan tetap sama dalam substansi berat atau volume selama tidak ditambah atau dikurangi. &lt;br /&gt;Dalam suatu tugas konservasi tertentu, Stay menunjukkan dua bola dari tanah liat. Dia setuju bahwa bola tersebut mem.ang sama. Dia mengatakan bahwa substansi konservasi tersebut sekalipun bola yang satu digelindingkan, keadaannya tetap tidak berubah, artinya jumlah bola tersebut tetap sama. Dalam konservasi berat, dia juga mengetahui bahwa berat bola tersebut tetap sama sekalipun dipanaskan, demikian pula apabila bola tersebut dimasukkan ke dalam air, beratnya akan tetap sama.&lt;br /&gt;Anak-anak mengembangkan perbedaan berbagai tipe (bentuk) konservasi dalam waktu yang berbeda. Pada usia 6 atau 7 tahun mereka dapat mengkonservasi substansi pada usia 9 atau 10 rr.ampu mengkonservasi berat; dan pada usia 11 atau 12 mengkonservasi volume. &lt;br /&gt;Pada dasarnya ketiga jenis konservasi tersebut adalah identik, akan tetapi anak-anak belum mampu mentransfer apa yang mereka telah pelajari yaitu mengkonservasi satu tipe (bentuk) kepada bentuk lain yang berbeda. Dalam luibungan ini kita dapat meliha; bahwa berbagai alasan anak-anak tersebut tetap sarna dalam tahap konkret. Sebab kondisi tersebut masih tetap terikat pada situasi tertentu sehingga anak tidak dapat mengaplikasikan operasi dasar mental yang sama pada situasi yang berlainan. &lt;br /&gt;4.   Bagaimana konservasi dikembangkan&lt;br /&gt;Pada umumnya anak-anak bergerak dengan melalui tiga tahapan dalam menguasai konservasi sebagaimana dikenukakan di atas. Pada tahap pertama, anak-anak preoperasional gagal mengkonservasi. Mereka memusatkan perhatian pada suatu aspek dalam situasi tertentu. Mereka belum mengerti bahwa tempat penyimpanan bola dapat diisi dengan bola lebih dari satu. Sebab anak-anak praoperasional tidak mengerti tentang konsep perubahan, mereka tidak mengetahui dan tidak mengerti bahwa mereka dapat merubah sesuatu, misalnya dengan menggerakkan suatu benda (bola) tanpa inerubah bentuknya. &lt;br /&gt;Tahap kedua, merupakan transisional. Anak-anak kembali pada kondisi bahwa kadang-kadang mengadakan konservasi namun kadang-kadang tidak melakukannya. Mereka lebih banyak memperhatikan berbagai hal dan tidak terpaku pada satu aspek saja dalam situasi tertentu, seperti berat, lebar. panjang, dan tebal akan tetapi mereka gagal mengetahui sebagaimana berbagai dimensi tersebut berhubungan satu sarna lain. &lt;br /&gt;Pada tahap ketiga, anak-anak dapat mengkonservasi dan dapat memberikan alasan secara logis atas jawaban yang mereka berikan. Alasan-alasan tersebut mengacu pada perubahan, identitas, atau kompensasi. Jadi anak-annk pada operasional konkret menunjukkan suatu kualitas konitif lebih lanjut daripada anak-anak praoperasional. Mereka dapat berpikir lebih luas dan peduli pada berbagai transformasi yang hanya merupakan persepsi. &lt;br /&gt;Piaget menekankan bahwa perkembangan kemampuan anak-anak untuk mengkonservasi akan lebih baik apabila secara nalar telah cukup matang. Piaget berpendapat bahwa konservasi hanya sedikit sekali dapat dipengaruhi oleh pengalaman. Sekalipun demikian terdapat faktor-faktor lain dari kematangan yang dapat mempengaruhi konservasi. Anak-anak yang belajar konservasi sejak dini akan mampu mencapai tingkat yang lebih dalam hal: IQ, kemampuan verbal dan tidak didominasi oleh ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tahap-tahap Perkembangan Intelektual (Kognitif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auguste Comte (1798-1857) dalam bukunya "Cours De Philosophie Positive" menyebutkan bahwa ada tiga tahapan dalam perkembangan intelektual yang masing-masing merupakan tahapan dari perkembangan sebelumnya, antara lain:&lt;br /&gt;1. Tahap teologis adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.&lt;br /&gt;2. Tahap metafisis pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.&lt;br /&gt;3. Tahap positif adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.&lt;br /&gt;Teori perkembangan Piaget mewakili konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses di mana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan iteraksi-interaksi mereka. Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai mengijak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif. Empat tingkat perkembangan kognitif itu adalah: &lt;br /&gt;1. Tahap sensorimotor: dari lahir hingga 2 tahun (anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek)&lt;br /&gt;2. Tahap pra-operasional: dari 2 hingga 7 tahun (mulai memiliki kecakapan motorik)&lt;br /&gt;3. Tahap operasional konkret: dari 7 hingga 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret)&lt;br /&gt;4. Tahap operasional formal: setelah usia 11 tahun (perkembangan penalaran abstrak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan perkembangan intelegensi atau kemampuan berpikir remaja, ada yang berpandangan bahwa adalah suatu kekeliruan jika IQ dianggap bisa ditingkatkan, yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi antara lain oleh faktor-faktor lingkungan. Menurut Mappiare (1982), hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek, antara lain bertambahnya informasi yang disimpan dalam otak seseorang sehingga mampu berpikir reflekstif, banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah, dan adanya perbedaan berpikir yang menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, serta menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.&lt;br /&gt;Mengenai konstan tidaknya intelegensi dalam waktu akhir-akhir ini masih merupakan diskusi yang terbuka. Dari hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa intelegensi itu sama sekali tidak sekonstan yang diduga sebelumnya. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam Institut Fels menurut McCall, dkk (1973) menunjukkan adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 butir amtara usia 5 dan 17 tahun yang berarti kira-kira sama dengan usia pendidikan di sekolah atau dipekerjaan. Selanjutnya ditemukan bahwa perubahan-perubahan intra-individual dalam nilai IQ lebih merupakan hal yang umum (biasa) daripada pengecualian.&lt;br /&gt;1. Peranan pengalaman dari sekolah terhadap intelegensi&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan oleh Wellman (1945) berdasarkan 50 kasus studi, rata-rata tingkat IQ asal mereka adalah di atas 110. Mereka yang mengalami prasekolah sebelum sekolah dasar, menunjukkan perbedaan kemajuan atau grained dalam rata-rata IQ-nya lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah. &lt;br /&gt;2. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan intelegensi&lt;br /&gt;Pengaruh belajar dalam arti lingkungan terhadap perkembangan intelegensi cukup besar seperti telah dibuktikan berbagai korelsi IQ yang juga menggambarkan bagaimana peranan belajar terhadap perkembangan intelegensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikapkritis terhadap situasi dan orang tua. Setiap pendapat orang tua dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka egosentrisme makin berkurang. Pada akhir masa remaja, pengaruh egosentrisme sudah sedemikian kecilnya, sehingga remaja sudah dapat berpikir abstrak dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain. &lt;br /&gt;Dalam hubungannya dengan perkembangan intelegensi atau kemampuan berpikir remaja, ada yang berpandangan bahwa adalah suatu kekeliruan jika IQ dianggap bisa ditingkatkan, yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi antara lain oleh faktor-faktor lingkungan. Mereka yang mengalami prasekolah sebelum sekolah dasar, menunjukkan perbedaan kemajuan atau grained dalam rata-rata IQ-nya lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonym. 2008. Sosiologis. Online (http://www.wikipedia.org, diakses 5 April 2009 pukul 19.30 WTA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonym. 2008. Teori Piaget. Online (http://teoripiaget.blogspot.com, diakses 20 Maret 2009 pukul 16.06 WITA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daruma, Razak. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Makassar: FIP UNM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wandi. 2007. Perkembangan Intelektual dan Emosional Anak. Online (http://www.google.com, diakses 5 April 2009 pukul 19.37 WITA).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-4866631570174748122?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/4866631570174748122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=4866631570174748122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/4866631570174748122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/4866631570174748122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2009/05/perkembangan-intelektual.html' title='Perkembangan Intelektual'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-1690064261850431383</id><published>2009-05-02T05:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T05:47:56.696-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Metode Pembelajaran</title><content type='html'>COOPERATIVE LEARNING/&lt;br /&gt;INOVASI PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Sebagai sebuah model pengajaran, pembelajaran kooperatif mendukung pendekatan umum ini: Setelah menerima pengajaran dari fasilitator, kelas-kelas diatur ke dalam kelompok-kelompok kecil dan memberikan petunjuk yang jelas berkenaan dengan harapan-harapan tentang hasil-hasil dan saran-saran mengenai proses-proses kelompok. Kelompok-kelompok kecil ini kemudian bekerja melalui tugas hingga semua kelompok berhasil memahami dan menyelesaikan tugas tersebut (Johnson &amp; Johnson, 1989).&lt;br /&gt;Sekolah adalah salah satu arena persaingan. Mulai dari awal masa pendidikan formal, seorang anak belajar dalam suasana kompetisi dan harus berjuang keras memenangkan kompetisi untuk bisa naik kelas atau lulus. Sebenarnya, kompetisi bukanlah satu satunya model pembelajaran yang bisa dan harus dipakai. Ada tiga pilihan model, yaitu kompetisi, individual, dan coope¬rative learning.&lt;br /&gt;1. Model Kompetisi&lt;br /&gt;Secara positif, model kompetisi bisa menimbulkan rasa cemas yang justru bisa memacu siswa untuk meningkatkan kegiatan belajar mereka. Sedikit rasa cemas memang mempunyai korelasi positif dengan motivasi belajar. Namun sebaliknya, rasa cemas berlebihan justru bisa merusak motivasi. Selain itu, model kompetisi juga mempunyai dampak dampak negatif yang perlu diwaspadai. Model pembelajaran kompetisi menciptakan suasana permusuhan di kelas. Untuk bisa berhasil dalam sistem ini: seorang anak harus mengalahkan teman teman sekelasnya. Sering anak yang berhasil mendapatkan nilai tinggi dimusuhi karena dianggap menaikkan rata rata kelas dan menjatuhkan teman. Anak semacam ini dicap sebagai "tidak kompak." Se¬baliknya, anak yang kalah dalam persaingan bisa menjadi anti¬pati terhadap sesama siswa, pengajar, sekolah, atau malahan proses belajar. Label sebagai orang yang kalah dalam persaing¬an ini bisa menjadi stigma atau luka batin yang terus mengganggu sepanjang kehidupan seseorang. Dalarn pikiran anak didik ditanamikan sikap "agar aku bisa menang, orang lain harus kalah." Tidak jarang sikap semacam ini terbawa terus sesudah sese¬orang lulus dari sekolah. Akibatnya, tempat kerja merupakan kelanjutan dari arena persaingan yang diciptakan di sekolah. Padahal, untuk bisa berhasil, setiap organisasi harus bisa men¬ciptakan suasana kerja sama antara anggotanya. Dan keber¬hasilan suatu organisasi juga berarti keberhasilan pribadi para anggota. Tetapi tidak mudah untuk bersikap "biarkan orang lain menang supaya aku juga bisa menang," setelah digembleng dalam suasana persaingan selama kurang lebih dua belas tahun.&lt;br /&gt;Sikap "agar aku bisa menang, orang lain harus kalah," erat hubungannya dengan prinsip "tujuan menghalalkan segala cara." Seseorang yang begitu berambisius untuk menang, tapi merasa tidak bisa mengalahkan pesaingnya bisa tergoda untuk menjatuhkan pesaingnya dengan cara apa pun. Ada terlalu banyak contoh dalam kehidupan sehari hari yang mencerminkan cara cara keji dan licik dalam memenangkan persaingan.&lt;br /&gt;Sayangnya, model kompetisi masih dominan di banyak sekolah. Malah dalam pikiran banyak pendidik, model ini merupakan satu satunya yang bisa dipakai. Sebagian besar anak didik harus puas dengan predikat "rata rata" dan beberapa anak harus dianggap "gagal agar segelintir anak bisa mendapat predikat "berprestasi." Para pendidik ini tidak bisa disalahkan karena politik pendidikan membuat mereka berpikiran begitu.&lt;br /&gt;Salah satu falsafah yang mendasari semangat kompetisi adalah Teori Evolusi Darwin. Teori ini mengatakan bahwa siapa yang kuat adalah siapa yang menang dan bertahan dalam ke¬hidupan. Dengan kata lain, untuk bisa tetap bertahan, makhluk hidup termasuk manusia harus bisa berjuang memenangkan persaingan dengan sesama makhluk hidup yang lain dan merebut sumber daya hidup yang biasanya tersedia secara terbatas. Prinsip homo homini lupus atau survival of the fittest ini banyak tercermin dalam kehidupan sehari sehari. Di sekolah maupun di tempat kerja, mulai dari tingkat yang paling bawah sampai tingkat eksekutif. banyak terjadi ilgal menjegal; "agar aku bisa menduduki kursi direktur, aku harus bisa menjatuhkan direktur yang sekarang dengan cara bagaimanapun."&lt;br /&gt;2. Model Individual.&lt;br /&gt;Di dalam ruang kelas, pola penilaian dalam sistem pengajaran individual berbeda dengan pola penilaian dalam sistem kompetisi. Dalam model pengajaran individual, pengajar menetapkan standar untuk setiap siswa. Jika siswa tersebut men-capai atau melampaui standar, dia akan mendapatkan nilai A. Jika tidak, dia akan mendapat nilai C atau D. Jadi, nilai seorang sisa tidak ditentukan oleh nilai rata rata atau teman sekelas, melaikan oleh usaha diri sendiri dan standar yang ditetapkan oleh pengajar.&lt;br /&gt;Di Indonesia, model pembelajaran individual belum diadopsi di jalur pendidikan formal, kecuali di Universitas Terbuka dengan sistem modulnya. Di luar jalur pendidikan formal, model pem¬belajaran individual dipakai pada paket paket belajar jarak jauh (Distance learning) dan di pusat pusat studi bahasa asing yang lebih dikenal dengan nama learning center atau self access center.&lt;br /&gt;Asumsi yang mendasari sistem pengajaran individual adalah bahwa setiap siswa bisa belajar sendiri tanpa atau dengan sedikit bantuan dari pengajar. Maka dari itu, setiap siswa diberi paket¬-paket pelajaran yang sudah terprogram untuk kebutuhan individu mereka. Dengan demikian, diharapkan sistern ini bisa mengurangi beban pengajar. Tetapi dalam prakteknya, siswa masih rnembutuhkan bantuan pengajar dan interaksi dengan sesama siswa. Tidak mungkin bagi seorang pengajar dengan lebih dari satu siswa untuk benar benar menerapkan sistem pengajaran individu, karena ini berarti pengajar tersebut harus memper¬hatikan prestasi, minat, bakat, gaya belajar, kecepatan belaiar, dan banyak hal lain yang menyangkut kepribadian setiap siswa.&lt;br /&gt;Asumsi yang lainnya menyatakan bahwa setiap anak didik adalah unik dengan segala kebiasaan, kemampuan, minat, dan bakatnya yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Maka dari itu, setiap anak didik perlu mendapat perhatian dan kesempatan khusus untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin.&lt;br /&gt;Model pengajaran individual memang sesuai dengan sifat orang Barat yang menghargai individualisme. Setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan harus memper¬juangkan nasibnya sendiri. Tidak ada orang yang bisa membantu, dan sebaliknya tidak perlu merepotkan diri membantu orang lain. Falsafah yang mendasari sikap individualisme diajarkan oleh tokoh tokoh sastra dan filsafat Amerika di abad 19. Ralph Emerson don Henry David Thoreau mengajarkan sikap “percayailah dirimu sendiri" dan "jangan pedulikan omongan banyak orang." Pengagum Emerson don Thoreou adalah penyair Wait Whitman yang merayakan kebebasan pribadinya dan memuja dirinya sendiri dalam banyak puisinya.&lt;br /&gt;Tampaknya, model pengajaran individual lebih menarik dibandingkan dengan sistem kompetisi. Anak didik bisa diharap¬kan belajar sesuai dengan kemampuan mereka sendiri dan bebas dari stres yang mewarnai sistem kompetisi. Tetapi jika sikap individual tertanam dalam jiwa anak didik, kemungkinan besar mereka akan mengalami kesulitan untuk hidup bermasya¬rakat. Mereka tidak bisa terus menerus mengharapkan masya¬rakat untuk memberi perhatian khusus pada keunikan mereka seperti yang telah mereka peroleh dalam pendidikan individual. Sering mereka juga dituntut untuk bisa beradaptasi dengan situasi situasi dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan kebiasaan. minat, maupun kemampuan mereka.&lt;br /&gt;3. Model Cooperative Learning&lt;br /&gt;Falsafah yang mendasari model pembelajaran gotong royong dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socius. Ber¬lawanan dengan Teori Darwin, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kerja sama merupakan ke-butuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerja sama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau sekolah. Tanpa kerja sama, buku ini tidak akan bisa di¬terbitkan. Tanpa kerja sama, kehidupan ini sudah punah.&lt;br /&gt;Ironisnya, model pembelajiaran cooperative learning belum banyak diterapkan dalam pendidikan, walaupun orang Indo¬nesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Kebanyakan pengajar enggan menerapkan sistem kerjia sama di dalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatian bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam grup. Selain itu, banyak orang mempunyai kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok. Banyak siswa juga tidak senang disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup mere¬ka, sedangkan siswa yang kurang mampu merasa minder ditempatkan dalam grup dengan siswa yang lebih pandai.&lt;br /&gt;Siswa yang tekun juga merasa temannya yang kurang mampu hanya nunut saja pada hasil jerih payah mereka. Kesan negatif mengenai kegiatan bekerja/belajar dalam kelompok ini juga bisa timbul karena ada perasaan was was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. Sebenarnya, pembagian kerja yang kurang adil tidak perlu terjadi dalam kerja kelompok, jika pengajar benar benar me¬nerapkan prosedur model pembelajaran cooperative learning. Banyak pengajar hanya membagi siswa dalam kelompok lalu memberi tugas untuk menyelesaikan sesuatu tanpa pedoman mengenai pembagian tugas. Akibatnya, siswa merasa ditinggal sendiri dan, karena mereka belum berpengalaman, merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus bekerja sama menyelesai¬kan tugas tersebut. Kekacauan dan kegaduhanlah yang terjadi. Model pembelajaran cooperative learning tidak sama dengan sekadar belajiar dalam kelompok. Ada unsur unsur dasar pembelaiaran cooperative learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal asalan. Pelaksanaan prosedur model cooperative learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif.&lt;br /&gt;Sehingga esensialnya bahwa semua model mengajar ditandai dengan adanya Struktur Tugas, Struktur Tujuan dan Struktur Penghargaan (Reward).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Pengertian Cooperative Learning&lt;br /&gt;Ketika kerjasama ini berlangsung, tim menciptakan atmosfir pencapaian, dan selanjutnya pembelajaran ditingkatkan (Karen L.Medsker and Kristina M. Holdsworth, 2001,h.287)&lt;br /&gt;Cooperative Learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Kebanyakan melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda (Slavin, 1994), dan ada yang menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda (Cohen, 1986; Johnson &amp; Johnson, 1994; Kagan, 1992; Sharan &amp; Sharan, 1992).&lt;br /&gt;Khas Cooperative Learning yaitu siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kooperatif dan tinggal bersama dalam satu kelompok untuk beberapa minggu atau beberapa bulan. Sebelumnya siswa tersebut diberi penjelasan atau diberi pelatihan tentang bagaimana dapat bekerja sama yang baik dalam hal:&lt;br /&gt;- Bagaimana menjadi pendengar yang baik&lt;br /&gt;- Bagaimana memberi penjelasan yang baik&lt;br /&gt;- Bagaimana cara mengajukan pertanyaan dengan benar dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;Aktivitas Cooperative Learning dapat memaikan banyak peran dalam pelajaran. Dalam pelajaran tertentu Cooperative Learning dapat digunakan 3 (tiga) tujuan berbeda yaitu: Dalam pelajaran tertentu siswa sebagai kelompok yang berupaya untuk menemukan sesuatu, kemudian setelah jam pelajaran habis siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi dan setelah itu siswa akan mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu yang telah dipelajarinya untuk persiapan kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. UNSUR-UNSUR MODEL PEMBELAJARAN COOPERARTIVE LEARNING.&lt;br /&gt;Pengajaran harus dirancang secara berhati-hati sehingga setiap partisipan terlibat dalam proyek pengajaran dengan mengambil peranan yang berbeda seperti peranan pemimpin, misalnya pengajar harus menyusun kelompok-kelompok kecil sehingga semua partisipan menggunakan peranan kepemimpinan dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan bersama (Johnson, 1993).&lt;br /&gt;Para pebelajar selanjutnya merasakan bahwa mereka dapat mencapai tujuan-tujuannya, jika pebelajar lainnya gagal, sebuah persepsi yang seringkali dihasilkan dalam beberapa diri pebelajar yang menganggap pelajaran mudah, karena mereka yakin mereka tidak memiliki kesempatan untuk menang (Deutsch, 1962). Evaluasi pembelajaran dalam lingkungan semacam ini adalah tidak memuaskan karena prestasi partisipan dinilai melalui cara-cara referensi norma.&lt;br /&gt;Ketika pembelajaran berlangsung dalam lingkungan individual, para partisipan terlihat bekerja sendiri untuk menyelesaikan tujuan-tujuannya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan teman sekelas lainnya. Meskipun lingkungan ini kondusif untuk mengevaluasi kinerja berdasarkan basis referensi kriterium, kenyataannya bahwa tujuan-tujuan pebelajar bersifat independen yang berkontribusi terhadap persepsi-persepsi pebelajar bahwa pencapaian tujuan-tujuannya tidak berhubungan dengan apa yang dilakukan oleh para partisipan. Dalam kasus ini, kesempatan untuk bertumbuh melalui cara-cara kolaboratif hilang.&lt;br /&gt;Ketika pembelajaran kooperatif apa yang dibutuhkan oleh pengajar adalah menyusun pelatihan sehingga anggota-anggota dari kelompok-kelompok kecil yakin merupakan hasil bersama. Lebih lanjut, petunjuk seharusnya diberikan kepada kelompok-kelompok yang anggota-anggotanya mendapatkan pencapaian dari usaha-usaha anggota lainnya—bahwa anggota-anggota kelompok perlu membantu dan mendukung anggota-anggota lainnya untuk mendapatkan hasul yang ingin dicapai. Untuk melakukan hal tersebut, setiap anggota kelompok secara individual membagi akuntabilitas bersama untuk melakukan bagian pekerjaan kelompoknya. Akuntabilitas tersebut bergantung pada penguasan masing-masing anggota tim terhadap keterampilan-keterampilan kelompok kecil dan antarpribadi yang dibutuhkan untuk menjadi anggota kelompok yang efektif. Keterampilan-keterampilan tersebut adalah kemampuan untuk membahas seberapa baik kelompok bekerja dan apa yang dapat dikerjakan untuk meningkatkan pekerjaan kelompok (Johnson, 1991).&lt;br /&gt;Dalam hal ini, pembelajaran kooperatif nampak merupakan pendekatan filosofis, apa yang dinyatakan secara kuat oleh pembelajaran kooperatif adalah bahwa para pengajar memahami komponen-komponen yang membuat kerjasama itu berjalan. Menurut Johnson &amp; Johnson, dan Sharan, komponen-komponen penting dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Ketergantungan positif&lt;br /&gt;2. Interaksi promotif langsung&lt;br /&gt;3. Akuntabilitas individual dan kelompok&lt;br /&gt;4. Keterampilan-keterampilan antarpribadi dan kelompok kecil&lt;br /&gt;5. Pemrosesan kelompok&lt;br /&gt;Ketergantungan Positif. Ketergantungan positif berlangsung ketika anggota-anggota kelompok merasakan bahwa mereka berhubungan dengan satu sama lainnya dalam suatu cara dimana seseorang tidak dapat mengerjakannya kecuali bekerja bersama. Anggota-anggota kelompok-kelompok kecil berada dalam perahu yang sama. Pada saat berlayar, kru perahu perlu menyadari bahwa mereka akan tenggelam dan berenang bersama-sama. Pengajar harus merancang dan mengkomunikasikan tujuan-tujuan dan tugas-tugas kelompok dalam cara-cara yang membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai pemahaman tersebut. Selanjutnya masing-masing anggota kelompok memiliki kontribusi yang unik untuk melakukan usaha bersama. Pengajar seharusnya mendefinisikan secara jelas peranan kelompok dan tanggungjawab tugas dan mengacu pada kekuatan-kekuatan individu anggota.&lt;br /&gt;Interaksi Promotif Langsung. Para pebelajar perlu melakukan kerjasama nyata dalam waktu nyata, baik pada ruang pelatihan maupun pada pertemuan-pertemuan di luar ruangan. Selanjutnya, pemrosesan informasi dalam pekerjaan terhadap pencapaian sebuah tujuan, anggota-anggota kelompok harus meningkatkan keberhasilan satu sama lainnya dengan menyediakan sumbedaya dan bantuan bersama, mendukung, menganjurkan, dan menghargai usaha-usaha anggota-anggota kelompok lainnya. Pengajar seharusnya memberikan contoh-contoh bagaimana kelompok-kelompok seharusnya berfungsi, seperti menjelaskan secara lisan bagaimana memecahkan masalah-masalah, mengajarkan pengetahuan kepada anggota lainnya, memeriksa pemahaman, membahas konsep-konsep yang dipelajari, dan menghubungkan pembelajaran saat ini dengan pembelajaran masa lalu. Dengan melakukan hal tersebut, dinamika-dinamika antarpribadi akan memudahkan pembelajaran. Melalui peningkatkan pembelajaran langsung satu sama lainnya, anggota-anggota kelompok memberikan komitmen secara personal kepada anggota-anggota kelompok lainnya dan juga tujuan-tujuan bersamanya. &lt;br /&gt;Akuntabiliras Individual dan Kelompok. Para pendukung pembelajaran kooperatif menyatakan bahwa dua tingkatan akuntabilitas disusun menjadi pelajaran-pelajaran pembelajaran kooperatif. Kelompok harus bertanggungjawab atas pencapaian tujuan-tujuannya, dan masing-masing anggota harus bertanggungjawab dalam memberikan kontribusi pekerjaannya. Fasilitator meningkatkan akuntabilitas individual dengan menilai prestasi dari masing-masing individual agar dapat memastikan siapa yang membutuhkan lebih banyak bantuan, dukungan, dan anjuran dalam pembelajaran. Pengajar harus mengakui bahwa salah satu tujuan dari kelompok-kelompok pembelajaran kooperatif adalah memberikan hak individual yang lebih kuat—para siswa belajar bersama sehingga mereka dapat mencapai kompetensi individual yang lebih besar.&lt;br /&gt;Keterampilan-keterampilan Antarpribadi dan Kelompok Kecil. Pembelajaran kooperatif adalah lebih kompleks dibandingkan dengan interaksi kelompok tidak terstruktur, yang biasanya menimbulkan pembelajaran kompetitif atau individual karena para siswa harus ikut serta secara simultan dalam pekerjaan tugas (mempelajari mata pelajaran) dan kerjasama (pemfungsian secara efektif sebagai sebuah kelompok). Selanjutnya, para fasilitator dari pembelajaran kooperatif harus fokus pada keterampilan-keterampilan sosial yang harus diajarkan dengan tujuan dan tepat. &lt;br /&gt;Kepemimpinan, pembuatan keputusan, membangun kepercayaan, komunikasi, dan keterampilan manajemen konflik memungkinkan bagaimana bekerjasama dan mengerjakan tugas dengan baik, dan ini perlu disampaikan selama pengajaran. Karena kerjasama dan konflik adalah penting secara konstruktif untuk keberhasilan jangka panjang kelompok-kelompok pembelajaran (Johnson &amp; Johnson, 1989; Johnson, 1991).&lt;br /&gt;Pemrosesan Kelompok. Sebagian besar proses-proses pengajaran menekankan pentingnya penyampaian kandungan pengajaran secara efisien. Tujuan-tujuan yang ditentukan secara jelas, urutan logis, dan kondisi-kondisi pembelajaran yang semuanya menentukan seberapa baik bahan ajar akan dipelajari. Artinya, kemampuan-kemampuan kepemimpinan, membangun kepercayaan, dan komunikasi dapat diajarkan secara langsung (pekerjaan tugas): yaitu, keterampilan-keterampilan tersebut dapat dialami dalam sebuah kelompok kecil (pekerjaan tugas). Kelompok-kelompok perlu menjelaskan apakah tindakan-tindakan anggota kelompok yang membantu dan tidak membantu dan membuat keputusan-keputusan tentang perilaku-perilaku apa yang diteruskan atau dirubah. Proses pembelajaran adalah peningkatan yang berkelanjutan ketika anggota-anggota kelompok menganalisis seberapa baik mereka bekerjasama, dan bagi kelompok-kelompok kecil untuk mencapai sebuah tujuan pengajaran dengan baik, dimana mereka harus menempatkan prosesnya secara sadar.&lt;br /&gt;Pendapat lain dari Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok dapat dianggap cooperative leaming. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan. &lt;br /&gt;1. Saling ketergantungan Positif. &lt;br /&gt;2. Tanggung Jawab Perseorangan. &lt;br /&gt;3. Tatap Muka. &lt;br /&gt;4. Kornunikasi Antar Anggota. &lt;br /&gt;5. Evaluasi Proses Kelompok. &lt;br /&gt;D. PETUNJUK DAN LANGKAH-LANGKAH.&lt;br /&gt;Tabel: 1, Langkah-langkah berdasarkan komponen Cooperative Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;\ KEGIATAN&lt;br /&gt;1 Memilih tugas-tugas yang tepat Perancang kursus seharusnya memastikan apakah aplikasi, praktek, atau bagian pengajaran merupakan hal yang tepat untuk aktivitas kelompok. Aspek-aspek sosial dari muatan pengajaran harus ditunjukkan. Misalnya, pengajaran bahasa asing seharusnya memberi kesempatan untuk membicarakan bahasa dengan orang lain dalam sebuah kelompok. Menulis sebuah makalah dalam bahasa baru adalah aktivitas individual &lt;br /&gt;2 Menentukan Ketergantungan Positif Apabila aktivitas kelompok adalah penting untuk mempelajari keterampilan atau hal baru, maka pengajar harus menyatakan secara jelas bahwa anggota-anggota kelompok “tenggelam” bersama-sama. Hasil-hasil dari pekerjaannya adalah sebuah refleksi dari semua kontribusi anggota tim.&lt;br /&gt;3 Memfasilitasikan kerjasama kooperatif Pengajar harus mendukung kelompok untuk menemukan kekuatan-kekuatan yang unik dari masing-masing kelompok. Untuk kelompok yang berhasil, pekerjaan harus menunjukkan kekuatan-kekuatan dari semua anggotanya&lt;br /&gt;NO TAHAP-TAHAP KEGIATAN&lt;br /&gt;4 Memberikan interaksi promotif langsung Waktu yang memadai harus diberikan dalam periode pengajaran interaksi langsung. Pengajar:&lt;br /&gt;• seharusnya menunjukkan/menjelaskan norma-norma kelompok yang dapat diterima oleh kelompoknya atau &lt;br /&gt;• memberikan gambaran-gambaran dari pengalaman.&lt;br /&gt;Sebaliknya, pengajar menyatakan:&lt;br /&gt;• harapan-harapan tentang apa yang di masukkan dalam pertemuan, seperti pembagian pengetahuan, pengalaman, dan hadiah.&lt;br /&gt;5 Menentukan akuntabilitas individu dan kelompok Fasilitator seharusnya mengembangkan:&lt;br /&gt;• cara untuk mengevaluasi kinerja individual dan pekerjaan kelompok.&lt;br /&gt;• menyampaikan bagaimana pekerjaan kelompok akan dinilai. &lt;br /&gt;• Evaluasi kelompok bisa merupakan skor-skor individual.&lt;br /&gt;6 Menilai pekerjaan tugas dan kerjasama Waktu harus diberikan pada anggota-anggota kelompok kecil untuk membahas prosesnya, mungkin pada akhir pertemuan kelompok. Anggota tim men-jelaskan&lt;br /&gt;• Tujuan pertemuan. &lt;br /&gt;• Dimana mereka menyelesaikan tujuan, &lt;br /&gt;• Apa yang dikerjakan dengan baik dan apa yang akan dikerjakan secara berbeda &lt;br /&gt;• Membuat rencana untuk memasukkan umpanbalik pada pertemuan berikutnya&lt;br /&gt;Pendapat lain mengungkap tentang langkah-langkah dalam Cooperative Learning adalah:&lt;br /&gt;NO LANGKAH-LANGKAH TINGKAH LAKU GURU&lt;br /&gt;1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Pengajar menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa belajar&lt;br /&gt;2 Menyajikan informasi Pengajar menyajikan informasi pada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan&lt;br /&gt;3 Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar Pengajar menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien&lt;br /&gt;4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Pengajar membimbingkelompok belajar pada saat siswa mengerjakan tugas &lt;br /&gt;5 Evaluasi Pengajar meng-evaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasi- kan hasil kerjanya.&lt;br /&gt;6 Memberikan penghargaan Pengajar mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok&lt;br /&gt;Tabel: 2, Langkah-langkah Cooperative Learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. PENGELOLAAN KELAS COOPERATIVE LEARNING.&lt;br /&gt;Seperti telah diungkapkan, tidak semua kera kelompok bisa dianggap sama dengan model pembelajaran Cooperative Learning. Ada lima unsur seperti yang telah dibahas pada bab terdahulu yang membedakan model pembelajaran gotong royong dengan kerja kelompok biasa. Untuk memenuhi kelima unsur,tersebut memang dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat (will and skill) para anggota kelompok. Para pembelajar harus, mempunyai niat untuk bekerja sama dengan yang lainnya dalam kegiatan belajar Cooperative Learning yang akan saling menguntungkan. Selain niat, para pembelajar juga harus menguasai kiat kiat berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain.&lt;br /&gt;Niat dan kiat ini tidak diperoleh dalam sekejap saja seperti Cinderella yang mendapatkan impiannya dalam semalam. Untungnya juga, karena bukan merupakan hasil sulap, setiap siswa bisa dibina untuk mempunyai niat dan kiat ini. Pengelolaan kelas model Cooperative Learning yang bertujuan untuk membina pembelajar dalam mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pembelajar yang lainnya. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas model Cooperative Learning, yakni pengelompokan, semangat Cooperative Learning, dan penataan ruang kelas.&lt;br /&gt;1. PENGELOMPOKAN&lt;br /&gt;Ability grouping adalah praktik memasukkan beberapa siswa dengan kemampuan yang setara dalam kelompok yang sama. Praktek ini bisa dilakukan pada pembagian kelompok di dalam satu kelas atau pembagian kelas di dalam satu sekolah. Jadi, di dalam satu kelas ada kelompok siswa pandai dan kelompok siswa lemah. Atau ada kelas kelas unggulan dan ada pula kelas¬ kelas terbelakang di dalam satu sekolah. Praktek praktek ini malah sering menjadi kebiasaan yang dibanggakan di beberapa sekolah unggulan di Indonesia maupun di luar negeri yang ingin menonjolkan kelas khusus mereka yang terdiri dari dari anak¬anak cerdas dan berbakat.&lt;br /&gt;Pengelompokan homogen berdasarkan prestasi belajar sangat disukai karena tampaknya memang bermanfaat, yaitu:&lt;br /&gt;Pertama, pengelompokan cara ini sangat praktis dan mudah dilakukan secara administratif. Sebagai contoh, di tingkat perguruan tinggi kadangkala dibuka beberapa kelas paralel untuk satu mata kuliah karena ada banyak mahasiswa yang perlu mengambil mata kuliah tersebut. Pada saat pendaftaran, mahasiswa harus memilih kelas paralel mana yang ingin diambil. Entah karena perbedaan dosen atau jadwal, salah satu kelas paralel bisa saja menjadi sangat diminati. Akibatnya, ada jauh lebih banyak mahasiswa yang mendaftar untuk masuk daripada yang bisa ditampung didalam kelas kelas tersebut. Oleh karena itu, pihak administrasi mengadakan seleksi dengan bantuan komputer berdasarkan indeks prestasi mahasiswa. Akibat dari seleksi ini tentu saja adalah kelas kelas yang relatif homogen. Kebijaksanaan administrasi ini memang paling praktis dan mudah.&lt;br /&gt;Selanjutnya, pengelompokan homogen berdasorkon hasil prestasi dilakukan untuk memudahkan pengajaran. Guru memang menghadapi tantangan yang lebih besaor dalam rnengajar siswa yang berlainan kemampuan belajarnya dalam satu kelompok atau kelas. Jika mengajar terlaiu cepat, Siswa yang lamban akan tertinggal. Sebaliknya, jika terialu lambat siswa cerdas akan bosan dan akhirnya mengabaikan atau mengacau kelas. Maka dari itu, pengelompokan homogen dianggap bisa me¬nyelesaikan masalah pengajaran.&lt;br /&gt;Kedua, dengan hal tersebut di atas, beberapa sekolah dengan sengaja membuka kelas unggulan khusus. Kelas ini terdiri dari siswa siswa cerdas dan berbakat. Kelas unggulan ini mendapatkan kurikulum plus dan nilai tambah dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya berupa pengajaran dan pelatihan tambahan. Tujuan dari pelaksanaan ini adalah untuk menonjolkan keunggulan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;Dibalik segala manfaatnya, pengelompokan homogen ternyata mempunyai banyak dampak negatif. Para pakar dan peneliti pendidikan mulai menyoroti praktek ini dalam dekade terakhir dan menyarankan agar praktik ini tidak diteruskan lagi karena dampak dampak negatifnya. &lt;br /&gt;Yang pertama tama, praktek ini jelas bertentangan dengan misi pendidikan. Pengelompokan berdasarkan kemampuan sama dengan memberikan cap atau label pada tiap tiap peserta didik. Label ini bisa menjadi vonis yang diberikan terlalu dini, terutarna bagi peserta didik yang dimasukkan dalam kelompok yang kurang mampu. Padahal, pe¬nilaian guru pada saat membuat keputusan dalam pengelompokan belum tentu benar dan tidak mungkin bisa mencerminkan ke¬mampuan siswa yang sesungguhnya dan menyeluruh. Label ini juga bisa menjadi self fulfilling prophecy (ramalan yang menjadi kenyataan). Karena dimasukkan dalam kelompok yang lemah, seorang siswa bisa merasa tidak mampu, patah semangat, dan tidak mau berusaha lagi.&lt;br /&gt;Yang kedua, pakar pendidikan John Dewey mengatakan bahwa sekolah seharusnya menjadi miniatur masyarakat. Maka dari itu, sekolah atau ruang kelas sejauh mungkin perlu men¬cerminkan keanekaragarnan dalam masyarakat. Dalam masya¬rakat, berbagai macam manusia dengan tingkatan kemampuan dan keterbatasan yang berbeda beda saling berinteraksi, bersaing, dan bekerja sama. Selama masa pendidikan sekolah, seorang peserta didik perlu dipersiapkan untuk menghadapi kenyataan dalam masyarakat ini.&lt;br /&gt;Menurut Scott Gordon dalam bukunya History and Philosophy of Social Science (1991), pada dasarnya manusia senang berkumpul dengan yang sepadan dan membuat jarak dengan yang berbeda. Namun, pengelompokan dengan orang lain yang sepadan dan serupa ini bisa menghilangkan kesempatan anggota kelompok untuk memperluas wawasan dan memper¬kaya diri, karena dalam kelompok homogen tidak terdapat banyak perbedaan yang bisa mengasah proses berpikir, bernegosiasi, berargumentasi, dan berkembang.&lt;br /&gt;Pengelompokan heterogenitas (kemacam ragaman) merupakan ciri ciri yang menonjol dalam metode pembelajaran gotong royong. Kelompok heterogenitas bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang sosio¬ekonomi dan etnik, serta kemampuan akademis. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelaiaran Cooperative Learning biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, duaorang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang.&lt;br /&gt;Secara umum, kelompok heterogen disukai oleh para guru yang telah memakai metode pembelajaran Cooperative Lear¬ning karena beberapa alasan. &lt;br /&gt;a. Kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung. &lt;br /&gt;b. Kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antara, etnik, dan gender. &lt;br /&gt;c. Kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap tiga orang.&lt;br /&gt;Salah satu kendala yang mungkin dihadapi guru dalam hal pengelompokan heterogen adalah keberatan dari pihak siswa yang berkemampuan akademis tinggi (atau orang tua mereka pada tingkat sekolah dasar). Siswa dari kelompok ini bisa merasa “rugi" dan dimanfaatkan tanpa bisa mengambil manfaat apa¬-apa dalam kegiatan belajar Cooperative Learning, karena rekan-¬rekan mereka dalam kelompok tidak lebih pandai dari mereka. Tidak jarang, protes ini juga disampaikan kepada guru baik secara langsung maupun tidak. Kepada siswa maupun orang tua semacam ini, perlu dijelaskan bahwa sebenamya siswa dengan kemampuan akademis tinggi pun akan menarik manfaat secara kognitif maupun afektif dalam kegiatan belajar Cooperative Learning bersama siswa siswa lain dengan kemampuan yang kurang. Mengajar adalah guru yang terbaik. Dengan mengajar¬kan apa yang seseorang baru pelajari, dia akan lebih bisa me¬nguasai atau menginternalisasi pengetahuan dan keterampilan barunya. Secara afektif, siswa berkemampuan akademis tinggi juga perlu melatih diri untuk bisa bekerja sama dan berbagi dengan mereka yang kurang. Kermampuan bekerja sama ini akan sangat bermanfaat nantinya dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Pengelompokan bisa sering diubah (untuk setiap kegiatan) atau dibuat agak permanen, misalnya siswa tetap dalam kelompok yang sama selama satu caturwulan atau semester. Masing masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Jika kelompok sering diubah, siswa akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan siswa siswa yang lainnya. Namun, membentuk kelompok kelompok baru ini akan me¬makan waktu, baik itu waktu persiapan maupun waktu di kelas. Salah satgu cara untuk membentuk kelompok non permanen dengon seefisien mungkin adalah dengan Jam Perjanjian (FACETS five, 1994).&lt;br /&gt;Jam Perjanjian. adalah cara membentuk kelompok berpasangan, bertiga, ataupun berempat dengan relatif cepat. Jam ini bisa dipakai terus sepanjang tahun ajaran. Guru bisa mengubah komposisi kelompok dengan cepat dan siswapun menyukainya karena mereka bisa ikut memutuskan dengan siapa mereka membuat janji,dan bertanya tanya siapa pasangan berikutnya. Semua siswa harus mempunyai Jam Perianjian seperti dibawah ini.&lt;br /&gt;Untuk membentuk kelompok berpasangan, setiap siswa keliling kelas mencari pasangan untuk setiap jamnya. Siswa me¬ngisi jam yang sama bersama sama. Contoh: guru memberi¬tahu siswa untuk mencari pasangan jam 1:00. Siswa menulis nama pasangannya di tempat yang tersedia. Contoh: Jika ada dua orang siswa yang setuju menjadi pasangan jam 1:00, Masing masing menulis nama pasangannya pada garis jam 1.00. Setelah selesai, mereka disuruh mencari pasangan jam: 2.00 dan seterusnya.&lt;br /&gt;Jam Perjanjian ini juga bisa digunakan untuk membentuk kelompok bertiga, berempat, atau berlima. Untuk membentuk kelompok bertiga, siswa mencari dua orang rekan untuk setiap jamnya. Dan untuk kelompok berempat, diperlukan tiga orang rekan. Demikian seterusnya. Jam Perjanjian ini juga bisa meng¬kombinasikan lebih dari satu jenis kelompok. Misalnya, pukul 1:00 sampai dengan 6:00 untuk membentuk kelompok ber¬pasangan, sedangkan pukul 7:00 sampai dengan 12:00 untuk membentuk kelompok bertiga. Jumlah anggota dalam suatu kelompok tentunya juga ditentukan oleh tingkat kesukaran suatu tugas yang sedang dikerjakan. Guru bisa dengan mudah membentuk kelompok yang berganti ganti sepanjang tahun ajaran. Guru hanya perlu menyebutkan, misalnya, "Untuk tugas kali ini, kalian akan bekerja sama dengan kelompok pukul 9:00."&lt;br /&gt;Kelompok yang lebih permanen akan sangat menghemat waktu, memudahkan pengelolaan kelas, dan meningkatkan semangat gotong royong karena siswa sudah saling mengenal dengan cukup baik dan terbiasa dengan cara belajar rekan-rekannya yang lain. Kekurangannya adalah siswa bisa merasa bosan dan perselisihan juga mungkin saja terjadi. Selain itu, kesempatan untuk berinteraksi dengan yang lain menjadi ber¬kurang. Kekurangan yang terakhir ini bisa diatasi dengan be¬berapa metode, seperti Lingkaran Besar Lingkaran Kecil, Dua Tinggal Dua Tamu dan Keliling Kelas (Lihat Bab berikutnya).&lt;br /&gt;Jumlah anggota dalam satu kelompok bervariasi mulai dari 2 s/d 5 menurut kesukaan guru dan kepentingan tugas. Tentu saja, masing-masing mempunyai mempunyai kelebihan dan kekurangan.&lt;br /&gt;Tabel: 3, Kelebihan dan Kekurangan Variasi Kelompok Cooperative Learning&lt;br /&gt;VARIASI KELOMPOK KELEBIHAN KEKURANGAN&lt;br /&gt;Kelompok&lt;br /&gt;Berpasangan •Meningkatkan partisipasi &lt;br /&gt;• cocok untuk tugas sederhana &lt;br /&gt;• Lebih banyak kesempatan &lt;br /&gt;untuk kontribusi masing¬&lt;br /&gt;masing,anggota kelompok&lt;br /&gt;• Interaksi lebih mudah&lt;br /&gt;• Lebih mudah dan cepat&lt;br /&gt;membentuknya • banyak kelompok yang akan melapor dan dimonitor&lt;br /&gt;• lebih sedikit ide yang muncul&lt;br /&gt;• Jika ada perselisihan, tidak ada penenga&lt;br /&gt;Kelompok&lt;br /&gt;Bertiga • Jumlah ganjil; ada penengah &lt;br /&gt;• Lebih banyak kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok.&lt;br /&gt;• Interaksi lebih mudah • Banyak kelompok yang akan melapor dan dimonitor&lt;br /&gt;• Lebih sedikit ide yang muncul&lt;br /&gt;• Lebih mudah dan cepat membentuknya&lt;br /&gt;Kelompok&lt;br /&gt;Berempat • Mudah dipecah menjadi berpasangan&lt;br /&gt;• Lebih banyak ide muncul&lt;br /&gt;• Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan&lt;br /&gt;• Guru mudah memonitor • Butuh banyak waktu&lt;br /&gt;• Butuh sosialisasi yang lebih baik&lt;br /&gt;• Jumlah genap me-nyulitkan pengambilan suara&lt;br /&gt;• Kurang kesempatan untuk kontribusi individu&lt;br /&gt;• Siswa mudah melepaskan diri dari keterlibatan dan tidak memperhatikan&lt;br /&gt;Kelompok&lt;br /&gt;Berlima • Jumlah ganjil memudahkan proses pengambilan suara&lt;br /&gt;• Lebih banyak ide muncul&lt;br /&gt;• Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan&lt;br /&gt;• Guru mudah memonitor kontribusi • Membutuhkan lebih banyak waktu&lt;br /&gt;• Membutuhkan sosialisasi yang lebih baik&lt;br /&gt;• Siswa mudah melepaskan diri dari keterlibatan dan tidak memperhatikan&lt;br /&gt;• Kurang kesempatan untuk individu&lt;br /&gt;2. SEMANGAT GOTONG ROYONG.&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran ini, agar berjalan secara efektif maka semua anggota kelompok hendaknya mempunyai semangat bergotong royong yaitu dengan cara membina niat dan semangat dalam bekerja sama yaitu dengan beberapa cara:&lt;br /&gt;a. Kesamaan Kelompok.&lt;br /&gt;Kelompok akan merasa bersatu apabila diantara anggota kelompok menyadari kesamaan, bukan berarti harus menyeragamkan semua keinginan, minat serta kemampuannya akan tetapi persamaan merupakan suatu keunikan dalam kelompok tersebut. Beberapa kegiatan dapat dilakukan agar setiap anggota kelompok mendapat kesempatan mengenal satu dengan yang lain lebih akrab dan dapat diterima sebagai anggota kelompok tersebut.&lt;br /&gt;1. Wawancara Kelompok&lt;br /&gt;Siswa mewawancarai satu sama lain mengenai banyak hal, seperti arti nama mereka, cita cita dan impian, saudara, makanan kesukaan, jenis olah raga kesukaan, binatang peliharaan dan sebagainya. Jika perlu, guru juga bisa mengarahkan siswa dengan jenis pertanyaan yang bisa dipakai dalam wawancara. Dalam kegiatan ini, siswa saling memperkenalkan temannya setelah melakukan kegiatan yang pertama (Wawancara Kelompok). Anggota kelompok duduk melingkar. Salah satu siswa mulai dengan memperkenalkan teman yang duduk di sebelah kirinya. &lt;br /&gt;2. Lempar Bola&lt;br /&gt;Anggota kelompok duduk melingkar. Salah satu siswa me¬megang, bola kecil (bisa juga dibuat dari meremas kertas buram) dan melemparkannya ke salah satu temannya. Setelah me¬lempar, siswa tersebut menanyakan beberapa hal, misalnya "Siapa tokoh yang paling kamu kagumi?" Setelah siswa kedua menjawab, dia akan melempar bola ke temannya yang lain dan menanyakan. Keunikan dan perbedaan masing masing siswa yang harus dihargai, pasti ada beberapa persamaan di antara mereka dalam satu kelompok. Setelah kegiatan kegiatan perkenalan, para anggota kelompok bisa mencari kesamaan di antara mereka. Proses ini bisa dilaksanakan untuk mencari identitas kelompok. Masing masing kelompok bisa mencari persamaan dalam kelompok mereka sendiri yang tidak dimiliki oleh kelompok yang lain. Salah satu kegiatan untuk mencari kesamaan ini adalah Jendela Kesamaan (Kagan, 1992).&lt;br /&gt;3. Jendela Kesamaan&lt;br /&gt;Kegiatan ini bisa dilakukan dalam kelompok berempat. Salah satu siswa menggambar empat persegi panjang di tengah tengah selembar kertas. Siswa kedua menarik garis dari sudut kertas ke sudut persegi panjang yang berdekatan. Siswa berikutnya me¬neruskan dengan sudut yang lain sampai semua sudut dihubung¬kan. Keempat bagian diberi nomor 1, 2, 3, don 4 (Lihat gambar).&lt;br /&gt;Siswa pertama mulai menanyakan sesuatu yang mungkin menjadi kesamaan dengan yang lain, misalnya “ Apakah kita semua suka bermain layang-layang ? ". Bila keempat anggota mengatakan “Ya” maka siswa yang menanyakan tersebut menuliskan “Main Layang-layang pada bagian 4 dan bila yang menjawab “Ya” hanya 2 maka ditulis dibagian 2. Kemudian siswa berikutnya menanyakan pertanyaan lain seperti telah dilakukan siswa pertama dan melakukannya hal yang sama. Proses ini diteruskan sampai menemukan kesamaan diantara anggota kelompok, juga menemukan. Selanjutnya, mereka menentukan satu ke¬samaan yang tidak dimiliki oleh kelompok lain dan menuliskannya kesamaan tersebut pada kertas dibagian tengah tersebut.&lt;br /&gt;b. Identitas Kelompok.&lt;br /&gt;Atas dasar kesamaan tersebut diatas, selanjutnya menentukan nama kelompok yang disepakati bersama antara anggota kelompok (keputusan tidak boleh dibuat apabila salah satu anggota kelompok ada yang tidak setuju). Sebagai tambahan menghibur (biasanya disukai oleh anak-anak sekolah dasar), masing-masing kelompok membuat atribut yang menyatukan kelompoknya tanpa mengorbankan keunikan masing-masing. Atribut yang dibuat tidak harus sama akan tetapi mempunyai ciri-ciri yang sama pada atribut tersebut. Misalnya dengan membuat topi dari karton atau yang lainnya.&lt;br /&gt;c. Sapaan dan Sorak Kelompok&lt;br /&gt;Untuk lebih memperat hubungan dalam kelompok, siswa bisa disuruh menciptakan sapaan dan sorak khas kelompok. Menyapa tidak harus dengan berjabat tangan. Siswa bisa di¬dorong mengembangkan kreativitas mereka dengan mencipta¬kan cara menyapa rekan rekan dalam satu kelompok yang disesuaikan dengan identitas kelompok mereka. Demikian pula dengan sorak kelompok. Siswa bisa membuat ungkapan sederhana namun meriah, misalnya "Hebat... hebat... hebat... sehebat Einstein!”.&lt;br /&gt;Sapaan dan sorak kelompok ini bisa dipakai berulang ulang selama tahun ajaran untuk beberapa keperluan. Kelompok bisa memberi semangat salah satu rekannya yang dipanggil maju oleh guru. Ada kalanya pula suasana kelas menjadi jenuh dan membosankan. Dalam saat saat seperti ini, guru bisa mem-bangunkan siswa siswa yang mengantuk dan menghidupkan semangat belajar siswa dengan meluangkan beberapa detik sajia untuk sapaan dan sorak kelompok.&lt;br /&gt;3. PENATAAN RUANG KELAS&lt;br /&gt;Penataan ruang yang klasikal dengan semua bangku menghadap ke satu arah (guru dan papan tulis) sangat sesuai dengan metode ceramah. Metode ini guru berperan sebagai nara sumber yang utama, atau mungkin juga satu satunya. Metode lain siswa juga bisa belajar dari sesama teman dan guru berperan sebagai fasilitator. Tentu saja, ruang kelas juga ditata untuk menunjang pembelajaran Cooperative Learning. Dalam hal ini keputusan guru dalam penataan ruang disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:&lt;br /&gt;a. Ukuran ruang kelas.&lt;br /&gt;b. Jumlah siswa.&lt;br /&gt;c. Tingkat kedewasaan siswa.&lt;br /&gt;d. Toleransi guru dan kelas sebelah terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa.&lt;br /&gt;e. Toleransi masing-masing siswa terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa lain.&lt;br /&gt;f. Pengalaman guru dalam melaksanakan metode pembelajaran gotong royong.&lt;br /&gt;g. Pengalaman siswa dalam melaksanakan metode pembelajaran gotong royong.&lt;br /&gt;F. TEKNIK-TEKNIK PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING.&lt;br /&gt;Sebagai seorang profesional, guru harus mempunyai penge¬tahuan dan persediaan strategi strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahuinya harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari hari di ruang kelas. Meski demikian, guru yang baik tidak akan terpaku pada satu strategi saja. Guru Yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar sehari hari. Guru bisa memilih dan juga memodifikasi sendiri teknik teknik pada situasi kelas mereka. Dalam satu jam/sesi pelajaran, guru juga bisa memakai lebih dari satuteknik.&lt;br /&gt;1. Teknik Belajar Mengajar Gotong Royong&lt;br /&gt;a. Mencari Pasangan (Make a Match).&lt;br /&gt;- Dikembangkan oleh Lama Curran (1994). &lt;br /&gt;- Siswa mencari pasangan sambil belaiar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang me¬nyenangkan.&lt;br /&gt;- Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;b. Bertukar Pasangan.&lt;br /&gt;- Memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain. &lt;br /&gt;- Bbisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;c. Berpikir Berpasangan Berempat&lt;br /&gt;- Dikembangkan oleh Frank Lyman (Think Pair Share) dan Spen¬cer Kagan (Think Pair Square) sebagai struktur kegiatan pem¬belajaran gotong royong. &lt;br /&gt;- Memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. &lt;br /&gt;- Optimalisasi partisipasi siswa.&lt;br /&gt;- Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas. &lt;br /&gt;- Memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. &lt;br /&gt;- Bisa digunakan dalam semua mata pelaiaran dan untuk sernua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;d. Berkirim Salam dan Soal.&lt;br /&gt;- Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampilannya. &lt;br /&gt;- Siswa membuat pertanyaan sendiri, sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya. &lt;br /&gt;- Cocok untuk persiapan menjelang tes dan ujian. &lt;br /&gt;- Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran daon untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;e. Kepala Bernomor (Numbered Heads).&lt;br /&gt;- Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). &lt;br /&gt;- Memberi¬kan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide¬-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. &lt;br /&gt;- Mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka.&lt;br /&gt;- Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;f. Kepala Bernomor Terstruktur.&lt;br /&gt;- Teknik belajar ini sebagai pengembangan dari teknik Kepala Bernomor.&lt;br /&gt;- Memudahkan dalam pembagian tugas. &lt;br /&gt;- Memudahkan siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan sekelompoknya. &lt;br /&gt;- Bisa digunakan untuk semua mata pelajaran serta semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;g. Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray).&lt;br /&gt;- Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992).&lt;br /&gt;- Dapat digunakan bersama dengan Teknik Kepala Bernomor. &lt;br /&gt;- Bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. &lt;br /&gt;- Memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain.&lt;br /&gt;- Banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan kegiatan individu. &lt;br /&gt;- Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal kenyataan hidup di luar sekolah kehidupan dan kerja saling bergantung satu dengan yang lainnya. Christophorus Columbus tidak akan menemukan benua Amerika jika tidak tergerak oleh penemuan Galileo Galilei yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Einstein pun mendasarkan teori pada teori Newton.&lt;br /&gt;h. Keliling Kelompok&lt;br /&gt;- Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk sernua tingkatan usia anak didik. &lt;br /&gt;- Dalam kegiatan Keliling Kelompok, masing masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kantribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain.&lt;br /&gt;i. Kancing Gemerincing&lt;br /&gt;- Teknik ini dikembang¬kan oleh Spencer Kagan (1992). &lt;br /&gt;- Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;- Dalam kegiatan Kancing Gemerincing, masing masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota yang lain. &lt;br /&gt;- Teknik ini dapat digunakan untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok. &lt;br /&gt;- Dalam banyak kelompok, sering ada anak yang terlalu dominan dan banyak bicara. Sebaliknya, juga ada anak yang pasif dan pasrah saja pada rekannya yang lebih dominan. Dalam situasi seperti ini, pemerataan tanggung jawab dalam kelompok bisa tidak tercapai karena anak yang pasif terlalu menggantungkan diri pada rekannya yang dominan.&lt;br /&gt;- Teknik ini memastikan setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk berperan serta.&lt;br /&gt;j. Keliling Kelas&lt;br /&gt;- Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;- Bila teknik ini digunakan untuk anak-anak tingkat dasar, maka perlu disertai dengan manajemen kelas yang baik supaya tidak terjadi kegaduhan.&lt;br /&gt;- Masing-masing kelompok mendapatkan kesempatan untuk memamerkan hasil kerjanya dan melihat hasil kerja kelompok lain.&lt;br /&gt;k. Lingkaran Kecil Lingkaran Besar (inside Outside Circle)&lt;br /&gt;- Dikembangkan oleh Spencer Kagan &lt;br /&gt;- Untuk mem¬berikan kesempatan pada siswa agar saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan. &lt;br /&gt;- Pendekatan ini bisa digunakan dalam berberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan bahasa. Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang membutuhkan pertukaran pikiran dan informasi antarsiswa. &lt;br /&gt;- Salah satu keunggulan teknik ini adalah adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. &lt;br /&gt;- Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mem¬punyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan me¬ningkatkan keterampilan berkomunikasi. &lt;br /&gt;- Bisa digunakan untuk semua tingkatan usia anak didik dan sangat disukai, terutama oleh anak anak.&lt;br /&gt;Lingkaran Kelompok,&lt;br /&gt;1. Satu kelompok berdiri di lingkaran kecil menghadap keluar. Kelompok lain berdiri di lingkaran besar.&lt;br /&gt;2. Kelompok berputar seperti prosedur lingkaran individu yang dijelaskan di atas dan saling berbagi.&lt;br /&gt;Variasi:&lt;br /&gt;Untuk kelas taman kanak kanak atau sekolah dasar, perputaran. Lingkaran besar berputar, sementara semua siswa menyanyi. Di tengah-tengah lagu, guru mengatakan “STOP”. Nyanyian dan perputaran lingkaran dihentikan. Siswa saling berbagi.&lt;br /&gt;l. Tari Bambu&lt;br /&gt;- Teknik ini dikembangkan atau modifikasi dari Lingkaran Kecil Lingkaran Besar. &lt;br /&gt;- Di banyak kelas, dalam Lingkaran Kecil Lingkar¬an Besar sering tidak bisa dipenuhi karena kondisi penataan ruang kelas yang tidak menunjang. Tidak ada cukup ruang di dalam kelas untuk membentuk lingkaran dan tidak selalu memungkinkan untuk membawa siswa keluar dari ruang kelas dan bela jar di luar empat dinding ruang kelas. Kebanyakan ruang kelas di Indonesia memang ditata dengan model klasikal/ tradisional. Bahkan banyak penataan tradisional ini bersifat permanen, yaitu kursi dan meja sulit dipindahkan.&lt;br /&gt;- Teknik ini diberi nama Tari Bambu, karena siswa berjajar dan saling berhadapan dengan model yang mirip seperti dua potong bambu yang digunakan dalam Tari Bambu Filipina yang juga populer di beberapa daerah di Indonesia. &lt;br /&gt;- Dalam kegiatan belajar mengajar teknik ini, siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan. &lt;br /&gt;- Pendekatan ini bisa digunakan dalam be¬berapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan bahasa. &lt;br /&gt;- Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adaolah bahan yang membutuhkan pertukaran pengalaman, pikiran, dan informasi antarsiswa. &lt;br /&gt;- Salah satu keunggulan teknik ini adalah adanyastruktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. &lt;br /&gt;- Selain itu, siswa be¬kerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkornunikasi. &lt;br /&gt;- Tari Bambu bisa digunakan untuk sernua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;Tari Bambu Kelompok,&lt;br /&gt;1. Satu kelompok berdiri di satu jajaran berhadapan dengan kelompok lain.&lt;br /&gt;2. Kelompok bergeser seperti prosedur Tari Bambu Individu di atas dan saling berbagi.&lt;br /&gt;m. Jigsaw&lt;br /&gt;- Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson sebagai metode Cooperative Learning. &lt;br /&gt;- Teknik ini bisa digunakan dalarn pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. &lt;br /&gt;- Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. &lt;br /&gt;- Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu penge¬tahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, dan bahasa. &lt;br /&gt;- Teknik ini cocok untuk semua kelas/tingkatan.&lt;br /&gt;- Dalam teknik ini, guru memperhatikan skernata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.&lt;br /&gt;- Selain itu, siswa bekerja dengan sesamna siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.&lt;br /&gt;Variasi:&lt;br /&gt;Jika tugas yang dikerjakan cukup sulit, siswa bisa membentuk Kelompok Para Ahli. Siswa berkumpul dengan siswa lain yang mendapatkan bagian yang sama dari keliompok lain. Mereka bekerja sama mempelajari/mengerjakan bagian tersebut. Kemudian, masing masing siswa kembali ke kelompoknya sendiri dan membagikan apa yang telah dipelajarinya kepada rekan-rekan dalam kelompoknya.&lt;br /&gt;n. Bercerita Berpasangan (Paired Storytelling),&lt;br /&gt;- Dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran (Lie, 1994). &lt;br /&gt;- Teknik ini bisa di¬gunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. &lt;br /&gt;- Teknik ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. &lt;br /&gt;- Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelaiaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama. dan bahasa. &lt;br /&gt;- Bahan pelajaran yang paling cocok digunakan dengan teknik ini adalah bahan yang bersifat naratif dan deskriptif. &lt;br /&gt;- Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dipakainya bahan bahan yang lainnya. &lt;br /&gt;- Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa meng¬aktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih ber¬makna. &lt;br /&gt;- Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk me¬ngembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah¬ pemikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. &lt;br /&gt;- Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. &lt;br /&gt;- Bercerita Ber¬pasangan bisa digunakan untuk semua tingkatan usia anak didik.&lt;br /&gt;G. PELAKSANAAN PELAJARAN COOPERATIVE LEARNING.&lt;br /&gt;1. Tugas-Tugas Perencanaan&lt;br /&gt;Beberapa tugas perencanaan dan keputusan yang unik yang dibutuhkan oleh pengajar dalam mempersiapkan diri mengajar dalam pelajaran Cooperative Learning.&lt;br /&gt;a. Memilih Pendekatan&lt;br /&gt;Empat pendekatan yang seharusnya merupakan bagian dari kumpulan strategi pengajar pemula adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Student Teams Achievement Division (STAD).&lt;br /&gt;STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkin, merupakan pendekatan Cooperatif Learning yang paling sederhana. STAD mengacu pada belajar kelompok, menyajikan informasi akademik baru pada siswa setiap minggu dengan menggunakan presentasi verbal dan teks. &lt;br /&gt;- Siswa dalam 1 kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok dengan jumlah 4 atau 5 orang. &lt;br /&gt;- Setiap kelompok harus heterogen yaitu laki dan perempuan, bermacam suku dan kemampuan tinggi, sedang dan rendah.&lt;br /&gt;- Anggota tim menggunakan lembar kegiatan untuk menuntaskan pelajarannya.&lt;br /&gt;- Kemudian saling membantu sama lain untuk memahami pelajaran melalui tutorial, kuis dan melakukan diskusi.&lt;br /&gt;- Setiap minggu atau 2 minggu siswa diberi kuis. Kuis diskor dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor perkembangan tidak berdasarkan skor mutlak siswa tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor siswa yang lalu.&lt;br /&gt;- Setiap minggu lembar penilaian diumumkan dengan skor tertinggi.&lt;br /&gt;- Kadang-kadang seluruh tim yang mencapai kriteria tertentu dicantumkan dalam lembar tersebut.&lt;br /&gt;JIGSAW&lt;br /&gt;Jigsaw dikembangkan dan diuii coba Elliot Aroson bersama teman-teman Universitas Texas, kemudian diadaptasikan oleh Slavin.&lt;br /&gt;- Siswa dibagi berkelompok dengan 5 atau 6 anggota kelompok belajar heterogen.&lt;br /&gt;- Materi diberikan dalam bentuk teks.&lt;br /&gt;- Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari bahan yang diberikan. Misalnya: Siswa akan mempelajari tentang Ekskresi, maka siswa secara berbeda mempelajari tentang paru-paru, hati, ginjal dan kulit.&lt;br /&gt;- Anggota dari kelompok lain juga mempelajari hal yang sama.&lt;br /&gt;- Kelompok tersebut kita sebut dengan kelompok ahli yaitu ahli paru, ahli hati, ahli ginjal dan ahli kulit.&lt;br /&gt;- Selanjutnya anggota tim ahli kembali ke kelompok asal dan mengajarkan apa yang dipelajarinya dan didiskusikan dalam kelompok ahlinya untuk diajarkan pada temen sekelompoknya.&lt;br /&gt;- Pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa dikenai kuis secara individual tentang materi belajar.&lt;br /&gt;- Jigsaw versi Slavin, skor tim menggunakan prosedur skoring yang sama dengan STAD yaitu Tim dan individu yang mendapat skor tinggi mendapat pengakuan dalam lembar pengakuan mingguan.&lt;br /&gt;Investigasi Kelompok ( IK )&lt;br /&gt;Model ini merupakan model Cooperative Learning yang paling kompleks dan sulit diterapkan. Model ini dikembankan oleh Thelan dan dipertajam oelh Sharan.&lt;br /&gt;- Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang rumit yaitu mengajar siswa ketrampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.&lt;br /&gt;- Pengajar membagi kelompok dengan anggota 5 atau 6 yang heterogen.&lt;br /&gt;- Untuk beberapa kasus, kelompok dibentuk dengan mem-pertimbangkan keakraban atau minat yang sama dalam topik tertentu.&lt;br /&gt;- Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki.&lt;br /&gt;- Kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya pada seluruh kelas.&lt;br /&gt;- Sharan dkk (1984) menetapkan 6 tahap IK yaitu:&lt;br /&gt;Pemilihan Topik, Siswa memilih topik yang biasanya sudah ditetapkan oleh pengajar, selanjutnya siswa diorganisasi menjadi 2 s/d 6 anggota tiap kelompok menjadi kelompok yang berorientasi tugas dimana dalam kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.&lt;br /&gt;Perencanaan Kooperatif, Siswa dan pengajar merencanakan prosedur pembelajaran dan tujuan khusu yang konsisten dengan topik yang dipilih.&lt;br /&gt;Implementasi, Siswa menerapkan rencana yang telah dikembangkan. Kegiatan hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan ketrampilan yang luas dan juga mengarahkan siswa pada jenis sumber belajar yang berbeda baik didalam maupun diluar kelas. Pengajar secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.&lt;br /&gt;Analisis dan Sistesis, siswa menganalisi dan mengevaluasi informasi danmerencanakan bagaimana informasi tersebut diringkat dan disajikan dengan menarik untuk dipresentasikan pada seluruh kelas.&lt;br /&gt;Presentasi Hasil Final, semua kelompok mempresentasikan dengan menarik agar siswa lain saling terlibat sehingga memperoleh perspektif yang lebih luas dan presentasi ini dikoordinasi oleh pengajar.&lt;br /&gt;Evaluasi, Kelompok-kelompok menangi aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan pengajar mengevaluasi tiap kontribusi kelompom terhadap kerja kelas. Evaluasi dalam bentuk individual dan kelompok.&lt;br /&gt;Pendekatan Struktural&lt;br /&gt;Pendekatan ini dikembangkan oleh Spencer Kagen dkk (1993), pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Kagen menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih menekankan pada penghargaan kooperatif daripada individual. Ada struktur yang dikembangkan untuk meningkatkan perolehan isi akademik ada juga yang dirancang untuk mengajarkan ketrampilan sosial atau ketrampilan kelompok. Ada 2 macam struktur yang dikembangkan untuk mengajarkan isi akademik atau untuk men-cek pemahaman siswa terhadap isi tertentu yaitu Think-pair-share dan Numbered-head-togather, sedangkan untuk mengajarkan ketrampilan sosial yaitu Active Listening dan Time token:&lt;br /&gt;1. Think-pair-share&lt;br /&gt;Dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland (1985).&lt;br /&gt;• Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu dilakukan dalam seting seluruh kelompok.&lt;br /&gt;• Prosedur ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu untuk banyak berfikir, menjawab dan saling membantu.&lt;br /&gt;• Pengajar menginginkan siswa memikirkan secara mendalah tentang apa yang telah dialami.&lt;br /&gt;• Langkah-langkahnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tahap: 1, Thinking (berfikir). Pengajar mengajukan pertanyaan, kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.&lt;br /&gt;Tahap: 2, Pairing. Pengajar meminta siswa untuk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan. Dalam tahap ini diharapkan berbagi jawaban. Biasanya pengajar memberi waktu 4 atau 5 menit untuk berpasangan.&lt;br /&gt;Tahap: 3, Share. Pengajar meminta pada pasangan untuk berbagi seluruh kelas untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah dibicarakan secara bergiliran untuk melaporkan.&lt;br /&gt;2. Numbered-head-together&lt;br /&gt;Dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi dan mencek pemahaman terhadap isi pelajaran. Langkah-langkahnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;Tahap: 1, Penomoran. Pengajar membagi siswa dalam kelompok yang beranggota 3 – 5 orang dan diberi nomor 1 sampai 5.&lt;br /&gt;Tahap: 2, Mengajukan Pertanyaan. Pengajar mengajukan pertanyaan yang bervariasi pada siswa. Pertanyaan dapat berbentuk pertanyaan atau arahan misalnya: Pastikanlah bahwa bumi tersebut bulat.&lt;br /&gt;Tahap: 3, Berfikir Bersama. Siswa menyatukan pendapat terhadap jawaban pertanyaan dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tersebut.&lt;br /&gt;Tahap: 4, Menjawab. Pengajar memanggil satu nomor tertentu, kemudian nomor yang disebut siswa mengacungkan tangannya dan menjawa pertanyaan untuk seluruh kelas.&lt;br /&gt;Tabel: 4, Perbandingan 4 Pendekatan Dalam Cooperative Learning&lt;br /&gt;ASPEK STAD JIGSAW KELOMPOK&lt;br /&gt;PENYELIDIKAN PENDEKATAN&lt;br /&gt;STRUKTUR&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Kognitif Informasi akademik&lt;br /&gt;sederhana Informasi akademik&lt;br /&gt;sederhana Informasi akademik&lt;br /&gt;Tingkat tinggi dan ketrampilan inkuiri Informasi akademik&lt;br /&gt;sederhana&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Sosial Kerja kelompok dan kerja sama Kerja kelompok kerja sama Kerjasama dalam kelompok kompleks Ketrampilan kelompok &amp; sosial&lt;br /&gt;Struktur&lt;br /&gt;Tim Kelompok belajar heterogen 4-5 orang Kelompok belajar heterogen 5-6 orang menggunakan pola kelompok”asal” &amp; kelompok “ahli” Kelompok belajar 5-6 orang, homogen Bervariasi berdua, bertiga Kelompok dengan 4-6 orang&lt;br /&gt;Pemilihan&lt;br /&gt;Topik&lt;br /&gt;Pelajaran Biasanya Guru Biasanya Guru Biasanya Siswa Biasanya Guru&lt;br /&gt;Tugas&lt;br /&gt;Utama Siswa menggunakan lembar kegiatan &amp; saling bantu untuk menuntaskan materi belajarnya Siswa mempelajari materi dlm kelompok “ahli” kemudian membantu anggota kelompok “asal”mempelajari materi Siswa menyelesaikan inkuiri kompleks Siswa mengerjakan tugas yang diberikan sosial dan kognitif&lt;br /&gt;Penilaian Tes mingguan Bervariasi, dapat berupa tes mingguan Menyelesaikan proyek &amp; menulis laporan, dapat menggunakan tes essay Bervariasi&lt;br /&gt;Pengakuan Lembar pengetahuan &amp; publikasi lain Publikasi lain Lembar pengakuan dan publikasi lain Bervariasi&lt;br /&gt;b. Memilih Materi Yang Sesuai&lt;br /&gt;Model ini membutuhkan pengarahan diri dan inisiatif siswa yang memadai. Tanpa isi yang memberikan tantangan yang sesuai dan menarik, Cooperative Learning akan bubar atau gagal. Pengajar hendaknya tanggap pada perkiraan tingkat perkembangan mental dan minat siswa. Ada beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan dalam menentukan materi yaitu:&lt;br /&gt;• Apa siswa sudah mengenal materi tersebut sebelumnya atau membutuhkan penjelasan tentang materi tersebut ?&lt;br /&gt;• Apa materi tersebut menarik bagi siswa ?&lt;br /&gt;• Jika pengajar merencanakan untuk menggunakan teks, apakah ia telah memberikan informasi yang cukup tentang topik itu ?&lt;br /&gt;• Untuk pelajaran STAD dan JIGSAW, apakah meteri itu memungkinkan untuk kiis objektif yang dapat diteskan dan skor secara cepat ?&lt;br /&gt;• Untuk pelajaran JIGSAW, apakah materi yang akan diajarkan secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian (sub-topik) ?&lt;br /&gt;• Untuk pelajaran investigasi kelompok, Apakah pengajar memiliki penguasaan yang cukup untuk memandu siswa kedalam sub topik dan mengarahkanmereka pada sumber yang relevan ? Apakah tersedia sumber yang relevan itu ?&lt;br /&gt;c. Pembentukan Kelompok Siswa&lt;br /&gt;Tugas ini bervariasi tergantung pada tujuan yang ingin dicapai dengan mempertimbangkan latar belakang, etnik, suku dan tingkat kemampuan siswa dalam kelas. Oleh karena itu dalam menentukan kelompok, pengajar dalam perencanaannya harus menetapkan tujuan akademik dan sosial secara jelas. Akhirnya karakteristik utama dalam hal ini harus dikorbankan untuk memenuhi karakteristik umum.&lt;br /&gt;d. Pengembangan Materi dan Tujuan&lt;br /&gt;Walau materi telah disampaikan secara verbal yang bermakna atau demonstrasi yang disertai ketrampilan tertentu, akan tetapi informasi umumnya disampaikan dalam bentuk teks, lembar kegiatan dan panduan belajar. Jika diberikan teks, maka teks harus menarik. Menggunakan teks perguruan tinggi umumnya tidak cocok untuk tingkat usia dasar kecuali pada tingkatan SMU tingkat tinggi. Untuk investigasi kelompok tentunya mengumpulkan materi yang cukup memadai. Sebelum mulai pembelajaran pengajar dapat menyampaikan tujuan dan mengetahui jumlah siswa yang terlibat. Beberapa petunjuk untuk merencanakan Cooperative Learning.&lt;br /&gt;• Lakukan pertemuan dengan pustakawan sekolah dan laboran sekurang-kurangnya 2 minggu sebelum pelajaran dan utarakan tujuan pelajarannya. Tanyakan ide mereka dan mintalah bantuan.&lt;br /&gt;• Tindak lanjuti pertemuan tersebut dengan catatan ringkasan ide-ide singkat dan kesepakatan-kesepakatan.&lt;br /&gt;• Periksalah kembali beberapa hari sebelumnya bahan-bahan yang anda perlukan untuk memastikan segala sesuatunya telah siap.&lt;br /&gt;• Bila bahan itu harus anda gunakan di kelas,mintalah laboran membantu anda, termasuk bila perlu untk menjelaskan kepada siswa.&lt;br /&gt;e. Mengenal Siswa Kepada Tugas dan Peran&lt;br /&gt;Sangat penting untuk menjelaskan bagaimana Cooperative Learning diterapkan tentang tugas, tujuan dan struktur penghargaan yang unik. Petunjuk tersebut hendaknya juga ditempel seperti poster dan berisikan tentang:&lt;br /&gt;• Tujuan Pelajaran&lt;br /&gt;• Apa yang diharapkan untuk dilakukan siswa sambil bekerja dalam kelompoknya.&lt;br /&gt;• Batas waktu untuk menyelesaikan tugas atau aktivitas.&lt;br /&gt;• Jadwal pelaksanaan kuis bila menggunakan STAD atau JIGSAW.&lt;br /&gt;• Jadwalkanlah presentasi kelas bila menggunakan investasi kelompok.&lt;br /&gt;• Prosedur pemberian nilai untuk menghargaan individu dan kelompok.&lt;br /&gt;• Format untuk presentasi laporan.&lt;br /&gt;f. Merencanakan Waktu dan Tempat&lt;br /&gt;Kebanyakan pengajar meremehkan jumlah waktu yang akan digunakan. Dalam Cooperative Learning banyak menyita waktu untuk siswa berinteraksi tentang ide-ide. Melakukan peralihan dari seluruh kelas pada kelompok kecil akan memakan waktu yang banyak. Oleh karena itu dengan perencanaan yang matang dapat membantu pengajar untuk lebih realistik tentang persyaratan waktu dan meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.&lt;br /&gt;Dalam penggunaan ruang ada 2 model pengaturan tempat yaitu model cluster dan swing.&lt;br /&gt;Model Cluster.&lt;br /&gt;Pada model ini tempat duduk diatur 4 sampai 6 tempat duduk dalam tiap kelompok. Pengajar dapat juga memerintahkan memindahkan posisi tempat duduk saat presentasi langsung atau demonstrasi.&lt;br /&gt;2. Tugas-Tugas Interaktif&lt;br /&gt;a. Menyampaikan Tujuan dan memotivasi Siswa&lt;br /&gt;b. Menyajikan Informasi&lt;br /&gt;c. Mengorganisasikan dan Membantu Kelompok Belajar&lt;br /&gt;H. PENILAIAN DAN EVALUASI COOPERATIVE LEARNING.&lt;br /&gt;Karena model Cooperative Learning bekerja di bawah struktur penghargaan kooperatif dan karena banyak Cooperative Learning bertujuan untuk mencapai pembelajaran kognitif dan sosial yang kompleks, dibutuhkan pendekatan penilaian dan evaluasi yang berbeda.&lt;br /&gt;1. Pengetesan Dalam Cooperative Learning.&lt;br /&gt;Untuk Student Teams-Achievement Devisions (STAD) atau Tim Siswa-Kelompok Prestasi (Slavin, 1994), guru meminta siswa menjawab kuis tentang bahan pelajaran yang berbentuk tes objektif paper-and-pencil , sehingga butir-butir tersebut dapat di skor di kelas (segera setelah tes diberikan).&lt;br /&gt;Tabel: 5, Prosedur Penyekoran untuk STAD dan JIGSAW&lt;br /&gt;Langkah: 1&lt;br /&gt;Menetapkan Skor dasar Setiap siswa diberikan skor berdasarkan skor-skor kuis yang lalu&lt;br /&gt;Langkah: 2&lt;br /&gt;Menghitung Skor kuis terkini Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini&lt;br /&gt;Langkah: 3&lt;br /&gt;Menghitung Skor perkembangan Siswa mendapatkan poin perkembangan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau melampaui skor dasar mereka, dengan menggunakan skala yang diberikan di bawah ini.&lt;br /&gt;Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar 0 poin&lt;br /&gt;10 poin di bawah sampai 1 poin di bawah skor dasar 10 poin&lt;br /&gt;Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar 20 poin&lt;br /&gt;Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin&lt;br /&gt;Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar) 30 poin&lt;br /&gt;Besar poin yang disumbangkan tiap siswa pada tim nya ditentukan oleh berapa skor siswa melampaui rata-rata skor kuis siswa itu sendiri yang terdahulu. Siswa dengan pekerjaan sempurna mendapatkan poin perkembangan maksimum, tanpa memperhatikan poin dasar mereka. Setiap sistem perkembangan individu memberikan siswa kesempatan baik untuk menyumbang poin maksimum pada tim jika siswa melakukan yang terbaik, sehingga menunjukkan peningkatan perkembangan substansial. Sistem poin perkembangan telah menunjukkan kinerja akademik siswa meskipun tanpa tim, tetapi ini khusunya penting sebagai komponen STAD karena sistem ini mencegah kemungkinan siswa berkinerja rendah tidak akan diterima sepenuhnya sebagai anggota kelompok kerena mereka tidak menyumbangkan poin banyak.&lt;br /&gt;Tidak ada sistem pen-skoran khusus untuk pendekatan kelompok. Laporan atau presentasi kelompok dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk evaluasi, dan siswa hendaknya diberi penghargaan untuk dua-duanya, sumbangan individual dan hasil kolektif.&lt;br /&gt;2. Pemberian Nilai Dalam Cooperative Learning.&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran ini pengajar hendaknya berhati-hati dengan cara menilai yang diterapkan diluar sistem penilaian mingguan di atas. Konsisten dengan konsep struktur penghargaan kooperatif, penting bagi pengajar untuk menghargai hasil kelompok dua-duanya hasil akhir dan perilaku kooperatif yang menghasilkan hasil akhir tersebut.&lt;br /&gt;Bagaimanapun juga, tugas penilaian ganda dapat menyulitkan pengajar pada saat pengajar mencoba menentukan nilai individual untuk hasil kelompok. Misalnya: siswa yang mempunyai ambisi untuk mengambil bagian lebih besar dari tanggung jawabnya untuk menyelesaikan tugas kelompoknya dan kemudian merasa diperlakukan tidak adil karena teman kelompok yang memberikan sumbangan sedikit, akan mendapat hasil yang sama.&lt;br /&gt;Berapa pengajar yang berpengalaman telah menemukan solusi untuk dilema ini dengan memberikan 2 evaluasi, satu untukupaya kelompok dan satunya untuk sumbangan individu.&lt;br /&gt;3. Pengakuan Terhadap Upaya Kooperatif.&lt;br /&gt;Suatu tugas penilaian dan evaluasi penting terakhir yang unik untuk Cooperative Learning adalah pengakuan terhadap upaya dan hasil belajar siswa. SLAVIN dan para pengembang lain dari Universitas Johns Hopkins, menciptakan konsep pengumuman tempel kelas mingguan untuk digunakan dalam STAD dan JIGSAW. Pengajar (kadang-kadang kelas itu sendiri) melaporkan dan mengumumkan tempel ini.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kelompok Johns Hopkins cenderung untuk mengurangi persaingan antar tim. Sebagai gantinya menentukan tim pemenang, mereka merekomendasikan pemberian pengakuan tim-tim yang berhasil mencapai kriteria yang ditetapkan sebelumnya untuk mengevaluasi hasil belajar tim. Dibawah ini menunjukkan kriteria yang digunakan beberapa pengajar dan contoh rangkuman kinerja tim.&lt;br /&gt;Para pengembang pendekatan investigasi kelompok memberi pengakuan upaya tim dengan mengutamakan presentasi kelompok dan dengan memperagakan hasil-hasil investigasi kelompok dalam kelas. Bentuk pengakuan ini dapat dipertegas lagi dengan mengundang tamu (orang tua, siswa dari kelas lain atau kepala sekolah) untuk menyaksikan laporan akhir. Pengumuman tempel yang merangkum hasil investigasi kelompok kelas dapat juga dihasilkan dan dikirimkan pada orang tua dan orang lain di sekolah itu dan masyarakat.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Arends, Richard I, 1997, Classroom Intruction and Management, Mc Graw-Hill.&lt;br /&gt;Albert, Charles E. &amp; McCartney, Catherine E. 1997. Study Guide for Slavin Educational Psychology Theory and Practice. Fifth Edition. Boston: allyn ang Bacon.&lt;br /&gt;Curran, Lorna. 1994. Lenguage Arts and Cooperative Learning: Lessons for The Little Ones. San Juan Capistrano: Kagan Cooperative Learning.&lt;br /&gt;Curran, Lorna. 1994. Mathematics and Cooperative Learning: Lessons for The Little Ones. San Juan Capistrano: Kagan Cooperative Learning.&lt;br /&gt;Gordon, Scott. 1991. History and Philosophy of Social Science.&lt;br /&gt;Hill, Susan &amp; Hill, Tim, 1993. The A Guide to Co-operative Learning, Collaborative Classroom, Printed by SRM Production Sevice Sdn.Bhd. Malaysia.&lt;br /&gt;Jacob, T.2000, Manusia: Pembawa dan Penyebab, Pereka dan Pemecah Problem. Orasi Ilmiah. UGM. Yokyakarta.&lt;br /&gt;Johnson, DW,&amp; Johnson,R. 1989. Cooperative and Competion: Theoru and Research. Edina,MN: Interaction Book Company.&lt;br /&gt;Kagan, Spencer. 1992. Cooperative Learning, San Juan Capistrano: Kagan Cooperative Learning.&lt;br /&gt;Lie, Anita. 1992. “Jigsaw: Cooperative Learning for EFL Student.” Cross Currents, 19: 1, Summer.&lt;br /&gt;Medsker, Karen L, dan Holdsworth, Kristina M, 2001, Models and Strategies for Training Design. About ISPI. Printed in United states of Amirica&lt;br /&gt;Sharan, Yael &amp; Shlomo Sharan. 1992. Expanding Cooperative Learning Throuhg Group Investigation, New York: Teachers Collage Press.&lt;br /&gt;Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning , Printed in United states of Amirica.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-1690064261850431383?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/1690064261850431383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=1690064261850431383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/1690064261850431383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/1690064261850431383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2009/05/permasalahan-pendidikan.html' title='Metode Pembelajaran'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-5291657364213717295</id><published>2009-05-02T05:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T05:34:56.860-07:00</updated><title type='text'>MAKALAH BIOGEOKIMIA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara, air, tanah, kehidupan, dan teknologi saling berkaitan secara erat. Atmosfer merupakan lapisan tipis gas-gas yang menyelimuti permukaan bumi, memegang peranan penting sebagai tempat penampungan (reservoir) dari berbagai macam gas. Atmosfer juga menyeimbangkan panas bumi, mengabsorbsi energy dan merusak radiasi sinar ultra violet yang datang dari matahari. Selain itu memindahkan energy panas dari wilayah ekuator, serta berfungsi sebagai jalan atau media pergerakan air pada phase uap dalam siklus hidrologi (Achmad, Rukaesih; 2004).&lt;br /&gt;Hidrosfer mengandung air bumi. Lebih dari 97% dari air bumi berupa lautan, dan sisa yang terbanyak berupa air tawar dalam bentuk es. Oleh karena itu secara relative hanya sedikit persentase dari total air bumi yang secara actual terlibat dengan tanah, atmosfer, dan proses-proses biologis. Kehebatan dari air laut yang mengalami sirkulasi melalui proses-proses dalam lingkungan, dan sirkulasi tersebut terjadi dalam atmosfer, dalam sumber air, dan dalam air permukaan seperti saluran air, sungai-sungai, danau-danau, waduk-waduk dan penampungan-penampungan air (Achmad, Rukaesih: 2004).&lt;br /&gt;Geosfer terdiri dari padatan bumi meliputi tanah yang sangat mendukung kehidupan tumbuhan. Bagian dari geosfer yang langsung terlibat dengan proses-proses lingkungan melalui kontak dengan atmosfer, hidrosfer dan semua kehidupan adalah litosfer. Semua kehidupan yang ada di bumi membentuk biosfer (Achmad, Rukaesih;2004)&lt;br /&gt;Suatu ekosistem terdiri dari interaksi yang menguntungkan antara organisme-organisme dengan lingkungannya di mana terjadi pertukaran dari sejumlah besar material-material dalam bentuk siklus, yang dikenal dengan siklus materi. Siklus materi menyangkut bagaimana aliran atau perjalanan materi yang terdiri dari bahan-bahan kimia dari satu media ke media lainnya di dalam lingkungan, termasuk di dalamnya media kehidupan Bahan-bahan kimia yang termasuk penyusun kehidupan yang paling banyak antara lain: karbon, nitrogen, oksigen, belerang, dan fosfor (Achmad, Rukaesih;2004). &lt;br /&gt;Secara struktural setiap siklus materi terdiri dari bagian cadangan dan bagian yang mengalami pertukaran. Di dalam bagian cadangan, unsur kimia tersebut akan terikat dan sulit bergerak, atau pergerakannya lambat. Di dalam bagian pertukaran, unsur kimia tersebut aktif bergerak atau mengalami pertukaran. siklus materi dibedakan atas dua tipe, yaitu tipe gas dan tipe sidimeter (Kuncoro. 2007). &lt;br /&gt;Nitrogen merupakan salah satu siklus materi tipe gas. Bagian cadangannya terdapat di dalam atmosfer. sedangkan siklus fosfor merupakan contoh siklus materi tipe sedimenter. Bagian cadangan siklus fosfor terdapat di dalam tanah atau kerak bumi dan sukar terlarut, sehingga siklus ini mudah terganggu (Kuncoro. 2007). &lt;br /&gt;Dalam siklus nitrogen, fosfor maupun belerang, terdapat organisme-organisme yang mempunyai peranan penting untuk berlangsungnya siklus tersebut, misalnya organisme penambat nitrogen bebas. Pengetahuan mengenai peranan organisme dalam siklus materi dapat dimanfaatkan manusia, misalnya dalam bidang pertanian. Siklus materi yang satu dengan yang lain dapat saling terkait atau mempengaruhi. Hal ini dapat dilihat misalnya pada siklus belerang (Kuncoro. 2007). &lt;br /&gt;Aktivitas manusia juga dapat mempengaruhi siklus materi. Sebagai contohnya adalah kegiatan pabrik dan mesin-mesin kendaraan bermotor dapat meningkatkan kandungan senyawa-senyawa oksidasi beterang, dan oksida nitrogen di udara (Kuncoro. 2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Siklus Karbon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Terdapat lebih banyak persenyawaan karbon yang dikenal daripada persenyawaan unsur lain kecuali hydrogen. Kebanyakan dikenal  sebagai zat-zat kimia organic.  Keistimewaan karbon yang unik adalah kecenderungannya secara alamiah mengikat dirinya sendiri dalam rantai-rantai atau cincin-cincin , tidak hanya dengan ikatan tunggal, C-C, tetapi juga mengandung ikatan ganda, C=C atau C=C (Cotton dan Wilkinson;1989). &lt;br /&gt;Di atmosfer terdapat kandungan COZ sebanyak 0.03%. Sumber-sumber COZ di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Karbon dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara.&lt;br /&gt;Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, COz yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air.Lihat Gambar &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar. Siklus Karbon di Alam&lt;br /&gt;http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0032%20Bio%201-7c.htm&lt;br /&gt;Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui). Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer.&lt;br /&gt;Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan volume [1] walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap gelombang inframerah dengan kuat.&lt;br /&gt;Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu, karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas.&lt;br /&gt;Karbon dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm namun langsung menjadi padat pada temperatur di bawah -78 °C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida umumnya disebut sebagai es kering.&lt;br /&gt;Neraca karbon global adalah kesetimbangan pertukaran karbon (antara yang masuk dan keluar) antar reservoir karbon atau antara satu putaran (loop) spesifik siklus karbon (misalnya atmosfer - biosfer). Analisis neraca karbon dari sebuah kolam atau reservoir dapat memberikan informasi tentang apakah kolam atau reservoir berfungsi sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon dioksida (Anonim. 2009).&lt;br /&gt;B. Siklus Nitrogen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nitrogen terdapat di alam terutama sebagai dinitrogen, N2  (titik didih 77,3 K). Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ). Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp. (ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen (Anonim. 2009).&lt;br /&gt;Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem. Lihat Gambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar, siklus nitrogen&lt;br /&gt;C. Siklus Fosfor&lt;br /&gt;  Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus (Anonim. 2009).&lt;br /&gt;Siklus fosfor, bersifat kritis karena fosfor secara umum merupakan hara yang terbatas dalam ekosistem. Tidak ada bentuk gas dari fosfor yang stabil, oleh karena itu siklus fosfor adalah “endogenik”. Dalam geosfer, fosfor terdapat dalam jumlah besar dalam mineral-mineral yang sedikit sekali larut seperti hidroksiapilit, garam kalsium. Adapun gambar dari siklus fosfor adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar. Siklus Fosfor&lt;br /&gt;Fosfor terlarut dari mineral-mineral fosfat dan sumber-sumber lainnya, seperti pupuk fosfat, diserap oleh tanaman dan tergabung dalam asam nukleat yang menyusun material genetic dalam organisme. Mineralisasi dari biomassa oleh pembusukan/penguraian mikroba mengembalikan fosfor kepada larutan garamnya yang kemudian dapat mengendap sebagai bahan mineral. Sejumlah besar dari mineral-mineral fosfat digunakan sebagai bahan pupuk, industry kimia, dan “food additives”. Fosfor merupakan salah satu komponen dari senyawa-senyawa sangat toksik, terutama insektisida organofosfat (Achmad, Rukaesih; 2004).&lt;br /&gt;D. Siklus Belerang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus belerang relative kompleks dimana melibatkan berbagai macam gas, mineral-mineral yang sukar larut dan beberapa sepsis lainnya dalam larutan. Siklus ini berkaitan dengan siklus oksigen dimana belerang bergabung dengan oksigen membentuk gas belerang oksida, SO2, sebagai bahan pencemar air. Diantara spesi-spesi yang secara siknifikan terlihat dalam siklus belerang adalah gas hydrogen sulfide H2S; mineral-mineral sulfide seperti PbS; asam sulfat H2SO4; belerang oksida, SO2 komponen utama dari hujan asam; dan belerang yang terikat dalam protein.&lt;br /&gt;Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. &lt;br /&gt;Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman (wikipedia.org/wiki/Hujan_asam). &lt;br /&gt;Belerang dari daratan cenderung terbawa air ke laut. Namun belerang di daratan tak tampak habis setelah jutaan tahun. Kapan belerang kembali ke darat? Melalui penguapan, kata ilmuwan zaman dulu. Tapi tak ada bukti bahwa laut menguapkan hidrogen sulfida yang baunya bukan main itu ke angkasa. Laut selalu berhawa segar.&lt;br /&gt;Pertanyaan ini baru terjawab beberapa belas tahun yang lalu. Tumbuhan laut, yang memiliki sel2 sederhana. Tumbuhan ini berusaha hidup dengan menahan masuknya garam (NaCl) ke dalam selnya. Ini dilakukan dengan membentuk senyawa penahan yang berbahan baku belerang, karena pasok belerang di laut banyak sekali, datang dari daratan. Waktu sel mereka terurai, senyawa penahan ini pecah dan menghasilkan gas dimetil sulfida (DMS) yang lepas ke atmosfir. Kita pasti mengenali bau senyawa ini: segar, mirip ikan segar yang baru diangkat dari laut. Setiap saat, sejumlah besar senyawa ini dilepas ke atmosfir, dan syukurnya, senyawa ini mampu menjadi inti kondensasi uap air. Pada gilirannya, terbentuk awan, yang menjadi hujan. Saat hujan jatuh di darat, senyawa belerang ini dikembalikan ke daratan untuk dimanfaatkan makhluk daratan. Lalu ampasnya, dalam dibuang lagi (duh) ke laut, untuk diolah oleh alga-alga baik hati itu lagi (Kuncoro. 2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang merupakan bagian dari siklus belerang yang sangat penting adalah adanya gas SO2 sebagai bahan pencemar dan H2SO4 dalam atmosfer. Gas SO2 dikeluarkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung belerang. Efek utama dari belerang dioksida dalam atmosfer adalah kecenderungan untuk teroksidasi menghasilkan asam sulfat. Asam ini dapat menyebabkan terjadinya hujan asam (Achmad, Rukaesih; 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Siklus Oksigen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawaan oksigen dengan semua unsure kecuali He, Ne, dan mungkin Ar dikenal. Molekul oksigen (dioksigen, O2 ) bereaksi dengan semua unsur lain kecuali halogen, beberapa logam mulia, dan gas-gas mulia baik dalam suhu ruangan atau pada pemanasan (Cotton dan Wilkinson).&lt;br /&gt;Oksigen merupakan unsur yang vital bagi kehidupan di bumi ini. Siklus oksigen ditampilkan pada gambar di bawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar. Siklus Oksigen&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A .Kesimpulan&lt;br /&gt;1. Siklus biogeokimia adalah perjalanan atau aliran bahan-bahan kimia dalam suatu ekosistem global di bumi ini yang membentuk suatu lingkaran.&lt;br /&gt;2. Siklus biogeokimia meliputi siklus karbon, siklus oksigen, siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus belerang.&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;  Sebagai mahasiswa khususnya mahasiswa kimia ditekankan untuk lebih memahami cara penggunaan berbagai bahan kimia.  Bahan kimia yang telah kita gunakan itu akan mengalami suatu siklus baik itu siklus yang dapat berdampak positif maupun negatif terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Siklus Biogeokimia. Online (http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_karbon, diakses  18 Februari 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI-PRESS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncoro. 2007. Pola dan Tipe Dasar Siklus Biogeokimia. Online (http://kun.co.ro/2007/01/10/, diakses 18 Februari 2009).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-5291657364213717295?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/5291657364213717295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=5291657364213717295' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/5291657364213717295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/5291657364213717295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2009/05/makalah-biogeokimia.html' title='MAKALAH BIOGEOKIMIA'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-2345658981764754256</id><published>2009-05-02T05:26:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T05:29:54.673-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Ekstraksi Kontinu Minyak Nabati</title><content type='html'>LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II&lt;br /&gt;Nama: Eka Anisyah Miftahul Jannah&lt;br /&gt;Nim    :061 304 006&lt;br /&gt;Jurusan kimia UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.  JUDUL PERCOBAAN&lt;br /&gt;	Ekstraksi Kontinu Minyak Nabati&lt;br /&gt;II. TUJUAN PERCOBAAN&lt;br /&gt;	Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mahir dalam:&lt;br /&gt;	Mengekstrak minyak nabati dari sampel (kemiri) dengan menggunakan soxhlet.&lt;br /&gt;	Menentukan kadar minyak dari sampel dengan cara destilasi.&lt;br /&gt;III. LANDASAN TEORI&lt;br /&gt;	Ekstraksi merupakan metode pemisahan yang didasarkan atas perbedaan kelarutan suatu solute dalam pelarut. Hidrodinamika ekstraksi merupakan factor penting yang menentukan besarnya solute yang diperoleh diekstrak karena hidrodinamika mempengaruhi luas perpindahan massa yaitu luas gelembung yang berada dalam kolom. Dalam ekstraksi, zat yang didespersikan sebagai gelembung disebut fasa kontinu (Anonim. 2009).&lt;br /&gt;	Teknik ekstraksi kontinu ini khususnya bagi zat dengan D (harga banding distribusi) yang sangat kecil (&lt;1), atau jika harga factor pemisahan β mendekati satu. Bila keadaan ini terjadi, maka ekstraksi bertahap dengan corong pisah menjadi kurang praktis, karena harus dilakukan ratusan kali. Ada bermacam-macam alat untuk proses ini. Pada prinsipnya di dalam peralatan tersebut terjadi aliran kontinu (terus menerus) dari pelarut melalui suatu larutan zat yang akan diekstrak. Pelarut yang telah membawa zat yang terekstrak, diuapkan, kemudian didinginkan, sehingga dapat digunakan lagi. Jika perlu pelarut yang lebih segar dapat ditambahkan terus menerus (Soebagio. 2003:49).&lt;br /&gt;	Minyak nabati ialah sejenis minyak yang terbuat dari tumbuhan. Digunakan dalam makanan dan untuk memasak. Beberapa minyak nabati yang biasa digunakan ialah minyak kelapa sawit Afrika,  jagung, zaitun, minyak lobak, kedelai, kemiri, dan bunga matahari.&lt;br /&gt;	Kemiri (Aleurites moluccana) adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak dari rempah-rempah. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan singkong dan termasuk dalam suku Euphorbiaceae. Kemiri memiliki kesamaan dalam rasa dan tekstur dengan macadamia yang juga memiliki kandungan minyak yang hamper sama. Kemiri sangat beracun ketika mentah. Biji kemiri mengandung bahan beracun dengan kekuatan ringan. Karena itu sangat tidak dianjurkan mengkonsumsi kemiri secara mentah (Anonim. 2009)&lt;br /&gt;IV. ALAT DAN BAHAN&lt;br /&gt;	Alat yang digunakan&lt;br /&gt;	1 set alat soxhlet&lt;br /&gt;	Neraca analitik&lt;br /&gt;	Mortal dan pastel&lt;br /&gt;	Gelas ukur 25 mL&lt;br /&gt;	Cawan penguap&lt;br /&gt;	Gelas kimia 250 mL&lt;br /&gt;	Botol semprot&lt;br /&gt;	Pipet tetes&lt;br /&gt;	Batu didih&lt;br /&gt;	Corong biasa&lt;br /&gt;	Statif dan klem&lt;br /&gt;	Pengerat selang&lt;br /&gt;	Penangas listrik&lt;br /&gt;	Selang&lt;br /&gt;	Bahan yang digunakan:&lt;br /&gt;	Kemiri&lt;br /&gt;	Eter&lt;br /&gt;	Kertas saring&lt;br /&gt;	Kapas&lt;br /&gt;	Aquadest&lt;br /&gt;	Aluminium foil&lt;br /&gt;	Tissue&lt;br /&gt;	Vaselin&lt;br /&gt;V. PROSEDUR KERJA&lt;br /&gt;	a.	Menggerus biji kemiri hingga halus sampai 50 gram&lt;br /&gt;	b.	membungkus 50 gram kemiri halus tersebut dengan kertas saring sesuai ukuran soxhlet, bagian atas dan bawah ditutup kapas.&lt;br /&gt;	c.	memasukkan bungkusan kemiri ke dalam labu perendaman hingga kira-kira 60% volume labu godog.&lt;br /&gt;	d.	menambahkan batu didih kedalam labu pemanasan.&lt;br /&gt;	e. 	melakukan ekstraksi dengan memanaskan labu godog perlahan sampai terjadi lima kali sirkulasi.&lt;br /&gt;	f.	memisahkan pelarut eter dengan menggunakan pemanasan lagi terhadap campuran dan menghentikan pemanasan hingga pada saat belum terjadi sirkulasi, dan residu yang diperoleh pekat.&lt;br /&gt;	g. 	menguapkan residu yang diperoleh hingga bau eter tak ada lagi&lt;br /&gt;	h.	menimbang residu yng diperoleh dan menguru volumenya.&lt;br /&gt;	i.	menghitung kadar minyak sampel tersebut.&lt;br /&gt;VI. HASIL PENGAMATAN&lt;br /&gt;		Berat kemiri 50 gram&lt;br /&gt;		Berat gelas ukur kosong: 36,664 gram&lt;br /&gt;		Volume minya kemiri: 9,5 mL&lt;br /&gt;		Berat minya kemiri=  (45,059-36,664)gram&lt;br /&gt;			                    = 8,395 gram&lt;br /&gt;VII. ANALISIS DATA&lt;br /&gt;	Dik: massa awal = 50 gram&lt;br /&gt;		Massa minyak = 8,395 gram&lt;br /&gt;	Peny: Kadar minyak = (massa minyak)/(massa awal kemiri)  x 100%&lt;br /&gt;				= (8,395 gram)/(50 gram)  x 100%&lt;br /&gt;				= 16,79%&lt;br /&gt;		Massa jenis minyak (praktek) = massa/volume&lt;br /&gt;					          = (8,395 gram)/(9,5  mL)= 0,88 gram/mL	&lt;br /&gt;VIII. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;		Pada percobaan ini minyak diekstrak dari buah kemiri. Kemiri yang akan diekstrak harus digerus dulu hingga halus, karena untuk mempermudah ,minyak nabati yang ada dalam buah kemiri  terekstrak oleh pelarut yang digunakan. Ini berhubungan dengan ukuran partikel yang semakin kecil sehingga memperluas bidang sentuh supaya lebih mudah terekstrak. Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi ini adalah eter. Eter digunakan sebagai pelarut karena memilii tingkat kepolaran yang relatirf sama dengan minyak yang akan diekstrak yaitu sama-sama merupakan senyawa nonpolar. Kemiri yang telah halus dibungkus dengan kertas saring yang bagian atas dan bawahnya dilapisi kapas. Kemudian dimasukkan ke dalam alat soxhlet dan ditambahkan dengan pelarut. Pada labi godog atau labu pemanasan ditambahkan dengan batu didih untuk menghindari letupan pada saat pemanasan karena akan terjadi “tumbukan” akibat adanya perbedaan tekanan uap pada suhu dengan tekanan atmosfer dan tekanan kolom cairan. Setelah itu, memulai pemanasan dan mengekstraksi larutan hingga 5 kali sirkulasi. Semakin banyak jumlah sirkulasi maka akan memiliki peluang yang lebih besar untuk memperoleh minyak yang lebih banyak. Setelah proses ekstraksi dilakukan, prose xelajutnya adalam pemisahan pelarut dari minyak yang diperoleh dengan cara destilasi, dimana pelarutnya akan menguap terlebih dahulu karena memiliki titik didih yang lebih rendah. Sebelum sirkulasi berlangsung pemasanasan dihentikan, kemudian pelarut yang terpisah dikeluarkan dari alat soxhlet. Residu yang diperoleh yang agak pekat diuapkan agar pelarut pada minyak benar-benar sudah habis. Minyak yang tidak berbau eter lagi, kemudian ditimbang dengan menggunakan neraca analitik. Minyak yang diperoleh berwarna kuning. Kadar minyak yang diperoleh dalam percobaan ini adalah 16,79% dan massa jenisnya 0,88 gram/Ml. hal ini telah sesuai dengan teori dimana massa jenis minyak nabati adalah 0,90 gram/mL. massa jeis yang diperoleh dari praktik hamper sama dengan massa jenis teori.&lt;br /&gt;IX. KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;	a.	Kesimpulan&lt;br /&gt;		Dari percobaan dan analsis data yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa:&lt;br /&gt;	Minyak nabati pada kemiri dapat diekstrak dengan mneggunakan soxhlet memakai pelarut eter.&lt;br /&gt;	Kadar minyak yang diperoleh dari sampel sebanyak 16,79%.&lt;br /&gt;	diharapkan agar praktikan selanjutnya melakukan ekstraksi dengan lebih banyak sirkulasi supaya minyak nabati yang dihasilkan bisa lebih banyak.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Kajian Hidrodinamika Ekstrksi Cair-Cair. Online(http://diglib.itb.ac.id.gdl)diakses 26 Maret 2009.&lt;br /&gt;Anonim. 2009. Kemiri. Online(http://www.wikipedia.com)diakses 1 April 2009.&lt;br /&gt;Soebagio. 2003. Kimia Analitik II. 2009. Malang: Universitas Negeri Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-2345658981764754256?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/2345658981764754256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=2345658981764754256' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/2345658981764754256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/2345658981764754256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2009/05/ekstraksi-kontinu-minyak-nabati.html' title='Ekstraksi Kontinu Minyak Nabati'/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1762284446634204667.post-7959916966510169610</id><published>2008-11-21T22:01:00.001-08:00</published><updated>2008-11-21T22:06:59.329-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>haloooo smua slam kenal...darikyu padamyu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat anak-anak kimia 06&lt;br /&gt;kalo ada artikel.....ajak2ka kodong...&lt;br /&gt;kan berbagi i lmu itu pahala.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1762284446634204667-7959916966510169610?l=miftachemistry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miftachemistry.blogspot.com/feeds/7959916966510169610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1762284446634204667&amp;postID=7959916966510169610' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/7959916966510169610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1762284446634204667/posts/default/7959916966510169610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miftachemistry.blogspot.com/2008/11/haloooo-smua-slam-kenal.html' title=''/><author><name>mifta's blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04898470471321059941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_eK00f-CVsp0/SSejJnrN5dI/AAAAAAAAAAM/dQjsUuO3iIw/S220/DSC00794.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
